SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
SERATUS TUJUH


__ADS_3

Bruuumm!!


Kevin melesatkan motornya meninggalkan pelataran kampus siang ini. Namun saat dirinya tiba di depan gerbang kampus, dirinya terpaksa menghentikan laju motornya karena di cegat oleh seseorang yang paling dibencinya. Siapa lagi klo bukan papanya. Kevin pun mematikan mesin motornya kemudian membuka helmnya. Kevin hanya diam saja menunggu apa yang akan diucapkan oleh papanya itu.


"Kenapa kemarin nggak datang ke pemakaman adik mu? Papa telpon nggak di angkat. Papa chat hanya di lihat saja."


"Aku tidak merasa punya adik!" Jawab Kevin acuh.


"Sekarang papa sudah nggak punya siapa-siapa lagi selain kamu Vin."


"Cari saja istri baru biar bisa bikin anak lagi!" Ucap Kevin sinis.


"Apa ini yang selama ini diajarkan oleh Opa dan Oma mu? Apa mereka tidak pernah mengajari mu bagaimana cara menghormati orang tua?"


Kevin tersenyum sinis. "Jangan pernah menyalahkan Oma dan opa ku atas sikap ku kepada papa. Harusnya papa berkaca dulu, bagaimana sikap papa dulu terhadap kami!" Ujar Kevin telak yang langsung membuat papa Zaky terdiam. "Saya permisi dulu pak Zaky, selamat siang." Kevin memakai kembali helmnya kemudian menghidupkan mesin motornya dan.....


Bruuumm!!

__ADS_1


Kevin melesat bersama kuda besinya meninggalkan papa Zaky yang masih diam termenung. Merenungi segala sikap dan perilakunya dulu kepada anak dan almarhumah istri pertamanya. Dengan gontai papa Zaky kembali ke mobilnya.


*****


Ruang perawatan Seruni kembali ramai siang ini. Pasalnya setelah jam pulang kampus Faya dan sahabat-sahabatnya kembali datang berkunjung. Sebenarnya tadi pagi Faya tidak ingin pergi ke kampus karena tidak ingin meninggalkan Seruni. Namun mama Amara melarangnya untuk membolos. Jadi ia pun akhirnya mengalah dan berangkat kuliah. Faya berjanji setelah pulang kuliah akan datang lagi ke rumah sakit. Dan tidak hanya Faya, tetapi juga sahabat-sahabat mereka pun datang setelah kedatangan Faya.


"Bagaimana keadaan mu sekarang Run?" Ghea mendudukkan tubuhnya di samping brankar Seruni. Sedangkan yang lainnya duduk di sofa.


"Aku udah baikan, jangan khawatir." Seruni mengulas senyum.


"Syukurlah." Akhirnya mereka semua bisa bernafas lega melihat Seruni yang perlahan sudah mulai menerima takdirnya.


Karena kondisi Seruni yang sudah kembali sehat, akhirnya sore itu Seruni diperbolehkan pulang oleh dokter. Seruni hanya perlu istirahat beberapa hari saja untuk memulihkan kondisi tubuhnya yang masih lemah. Mereka pun bersuka cita menyambut kepulangan Seruni.


Ceklek!


Seruni membuka pintu kamarnya karena ingin langsung beristirahat di dalam kamar. Namun saat pintu itu terbuka ia tertegun. Bayangan Alfa, suaminya seperti menari-nari di pelupuk matanya. Tak terasa air matanya pun menetes.

__ADS_1


"Run," Faya yang berada tepat di belakang Seruni menepuk pelan pundak sahabatnya karena Seruni hanya diam saja diambang pintu. "Ada apa?"


Seruni menggeleng. Buru-buru ia menyeka air matanya dengan tangannya kemudian melangkah masuk diikuti oleh sahabat-sahabatnya. Seruni mendekat ke arah ranjang. Saat tiba di samping ranjang Seruni menunduk. Tangannya terulur mengelus-elus kasur yang di balut seprei itu. Kasur dimana dirinya merajut cinta sesaat bersama suaminya. Kali ini air matanya tak dapat di bendung lagi. Dengan terisak-isak Seruni menjatuhkan tubuhnya duduk di tepi ranjang. Semua orang yang ada disana seolah ikut merasakan kesedihan Seruni. Tidak ada yang berani membuka suaranya. Hanya Faya yang langsung memeluk Seruni dengan erat dan ikut menangis sesenggukan. Ghea yang juga ikut menitikkan air matanya langsung berhambur memeluk kedua sahabatnya itu.


Mama Amara tadi memilih langsung masuk ke dalam kamarnya sendiri untuk membersihkan diri. Mama Amara ingin segera memasak untuk anaknya dan juga untuk sahabat-sahabat anaknya. Jadi Mama Amara tidak tau apa yang terjadi di dalam kamar anaknya saat ini.


Cukup lama Ega dan Ruli terdiam menyaksikan Seruni dan Faya juga Ghea yang berpelukan dalam tangis. Karena tidak tahan lagi berada di dalam kamar yang membuat dada mereka sesak, akhirnya keduanya memilih keluar untuk menghirup udara guna memenuhi rongga paru-paru mereka.


Ega dan Ruli memilih duduk di teras rumah. Tidak ada kata yang terucap dari keduanya. Mereka sama-sama terdiam. Mereka memilih memejamkan mata menikmati semilir angin. Udara sore yang berhembus cukup sejuk sehingga mampu menenangkan keduanya.


*****


*****


*****


Kita slow dulu sebelum nanti dihadapkan dengan konflik yang berat lagi 🤭🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️

__ADS_1


Deterjen : Konflik kok terus 🙄🙄


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏


__ADS_2