SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
SEASON 2 PART 145


__ADS_3

Keesokan harinya di komplek pemakaman....


Jenazah papa Zaky dimakamkan tepat di samping pusara anaknya, Alfa yang tak lain adalah suami dari Seruni. Berjejer dengan makam kedua orang tua Seruni.


Ya, Opa dan Omanya Kevin memang mengizinkan Kevin untuk mengurus jenazah papanya. Namun mereka berdua tidak mengizinkan jika jenazah Papa Zaky dimakamkan di sebelah makam anaknya, Mama Ajeng mamanya Kevin. Rasa sakit hati mereka masih terpatri di lubuk hati meskipun papa Zaky kini sudah tiada. Bahkan mereka berdua tidak sudi ikut mengantarkan kepergian jenazah Papa Zaky ke tempat peristirahatan terakhirnya.


Para pelayat sudah meninggalkan area pemakaman karena prosesi pemakaman telah usai. Tertinggal Kevin, Om Pras, Seruni, Reksa, dan Faya serta teman-teman yang lainnya.


"Maaf Run, jika semasa hidup papa banyak salah sama kamu." Ucap Kevin menunduk menyesali segala sikap dan perbuatan papanya kepada menantunya.


"Aku sudah memaafkannya Kak." Seruni sudah mengikhlaskan segala sesuatu yang terjadi kepadanya. Karena ikhlas dan sabar adalah jalan satu-satunya untuk meraih kebahagiaan.


"Kalian tunggulah di rumah dulu. Aku masih ingin disini sebentar." Seruni beralih menatap sahabatnya satu persatu kemudian menyerahkan kunci rumahnya kepada Faya. Faya pun segera meraihnya.


Mereka semua mengangguk dan segera meninggalkan area pemakaman. Kevin dan Om Pras pun langsung ikut pergi. Tinggallah Seruni dan Reksa beserta baby Al yang sejak tadi berada di dalam gendongan Reksa.


Seruni berjongkok di tengah-tengah pusara kedua orang tuanya diikuti oleh Reksa. Sejenak mereka terdiam. Seruni terlihat menarik nafasnya pelan kemudian mulai berbicara.

__ADS_1


"Assalamualaikum Ma, Pa, Al. Apa kabar? Kalian pasti sudah bahagia disana. Maaf jika Runi lama tidak datang untuk mengunjungi kalian. Runi kali ini tidak datang sendirian. Runi bersama anak dan suami Runi. Maaf Al, maaf jika aku memutuskan untuk menikah lagi." Lirih Seruni. "Ini Alfa Al, anak kita. Cucu kalian Ma, Pa." Seruni menatap ke arah tiga gundukan yang ada di depannya bergantian. "Dan ini Mas Reksa suami ku. Pasti kalian sudah kenal bukan? Kami datang ke sini untuk meminta restu kepada kalian. Semoga kalian merestui pernikahan kami. Izinkan kami bahagia meski tanpa kalian. Kalian akan selalu ada di dalam hati kami."


Seruni segera meraih anaknya dari gendongan suaminya setelah keduanya bangkit. Sekarang gantian Reksa yang tertunduk di samping pusara kedua mertuanya. Entah apa yang disampaikan oleh Reksa karena Reksa tidak berucap sepatah kata pun. Namun satu yang pasti, Reksa saat ini pasti sedang berdoa dan meminta Restu.


Setelah dirasa cukup, keduanya segera meninggalkan area pemakaman karena saat ini mereka sudah ditunggu oleh sahabat-sahabat Seruni di rumah.


Ada dua buah mobil milik Faya dan Ghea yang terparkir di halaman rumah Seruni. Dan juga sebuah motor yang diyakini Seruni milik Ega, karena Seruni masih ingat betul motor sahabatnya itu. Sedangkan Ruli sepertinya datang bersama Ega.


Saat turun dari mobil, Seruni segera menghampiri sahabatnya yang masih duduk di teras rumahnya padahal pintu rumah sudah terbuka lebar. "Kenapa di luar?" Bukannya menjawab pertanyaan Seruni, Faya dan Ghea malah langsung menubruk tubuh sahabatnya itu. "Eh," Seruni yang kaget hanya diam mematung dalam pelukan kedua sahabatnya.


"Ayo kita masuk dulu." Ujar Seruni mengurai pelukan mereka.


"Sini Al sama papa aja. Kita bersihkan diri dulu." Reksa langsung meraih baby Al dari gendongan mamanya dan segera membawanya masuk ke dalam.


"Papa?" Beo mereka berempat yang langsung ditanggapi Seruni dengan cengiran kuda.


"Nanti aku jelaskan di dalam. Ayo kita masuk dulu." Seruni langsung masuk ke dalam rumah diikuti oleh keempat sahabatnya yang merasa penasaran.

__ADS_1


Setelah mereka berlima duduk di ruang tamu, Seruni segera menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya selama ini. Berawal dari cacian serta hujatan dari tetangganya yang membuat dirinya memilih untuk pergi, hingga sekarang dirinya menjadi istri Reksa anaknya Mbah Suro beserta alasannya tanpa terlewat sedikitpun.


"Mungkin memang kalian berdua ditakdirkan berjodoh." Bukan tanpa alasan Faya berkata seperti itu. Mengingat dulu mereka memang saling mencintai. Hanya saja mereka berdua harus mengubur cintanya dalam-dalam karena terhalang oleh keadaan. Dan sekarang mereka berdua kembali dipertemukan dalam ikatan suci pernikahan. Bukankah itu artinya mereka memang berjodoh? Lebih tepatnya jodoh yang tertunda. "Lalu kapan kalian akan meresmikan pernikahan kalian?"


"Aku masih belum tau. Mbah Suro yang akan mengurus pernikahan kami. Nanti kalau tanggalnya sudah ditetapkan, aku akan menghubungi kalian."


Mereka semua mengangguk. Akhirnya mereka bisa bernafas lega saat melihat Seruni bisa tersenyum bahagia setelah melewati masa-masa sulit seorang diri.


*****


*****


*****


Tak terasa kita sudah di penghujung kisah Seruni 🤭 insyaallah 1 bab lagi kita end ya ✌️😂


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2