SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
TIGA PULUH SEMBILAN


__ADS_3

"Run!" Mama Amara menepuk pundak anaknya. Setelah kepergian Ghea dan sahabatnya, Mama Amara dan mama Gita langsung menghampiri anaknya.


"Eh, mama?" Seruni terlonjak kaget. Sejak kapan mamanya itu ada disini? Apakah mamanya tadi mendengarkan pembicaraan mereka?


"Mama cari muter-muter ternyata di sini, iya kan Git?"


"I-iya, tadi kami muter-muter cariin kalian." Sahut mama Gita mengikuti skenario yang diciptakan oleh mama Amara.


"Ayo kita pulang." Ajak mama Amara yang langsung diangguki oleh mereka bertiga.


Mereka akhirnya berpisah di parkiran mall, karena mereka membawa mobil sendiri-sendiri. Mereka tadi memang berangkat sendiri-sendiri dan bertemu di mall tersebut.


Sesampainya di rumah, Seruni dan mama Amara langsung masuk ke dalam kamar mereka masing-masing untuk membersihkan diri.


*****


Siang mulai berganti malam, dan terang mulai berubah menjadi gelap. Sang Surya yang tadinya dengan gagahnya menyinari bumi, sekarang sudah tergantikan oleh sinar rembulan yang menerangi gelapnya malam.


Setelah menyelesaikan makan malamnya yang hanya berdua saja, Seruni segera kembali ke dalam kamarnya karena harus mengerjakan tugas kampusnya.


Mama Amara masih berada di dapur seusai mencuci piring bekas makan mereka. Di basuhnya tangannya kemudian di lap. Ada perasaan sedikit ragu untuk bertanya kepada anaknya, karena ia berharap anaknya sendirilah yang terbuka kepadanya. Namun hingga saat ini anaknya itu tidak mau bercerita kepadanya.


Mama Amara sudah tidak bisa menunggu lagi. Ia ingin segera tahu permasalahan apa yang sedang dihadapi oleh anaknya saat ini. Ia ingin menjadi orang tua yang berguna bagi anaknya meskipun hanya sekedar mendengarkan keluh kesah anaknya.


Dilangkahkan kakinya menuju ke kamar sang anak. Ragu-ragu mama Amara mengetuk pintu yang ada di depannya.


Tok.. Tok.. Tok..

__ADS_1


"Run? Mama masuk ya?" Teriak mama Amara dari depan pintu kamar anaknya. Mama Amara langsung masuk ke dalam kamar anaknya setelah mendapat sahutan dari dalam. Tidak ada peredam suara di dalam kamar tersebut, sehingga teriakan Seruni bisa terdengar dari luar kamar.


Nampak Seruni sedang bergelut dengan laptop dan buku-bukunya berserakan di atas tempat tidur. Seruni mendongakkan kepalanya sekilas untuk menatap mamanya seraya memberikan seulas senyum.


"Banyak tugas Run?" Tanya mama Amara mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang.


"Lumayan ma, ada dua. Yang satu dikumpulkan besok Senin. Dan yang satunya lagi buat hari Kamis, masih lama, hehe...."


"Owh, belajar yang rajin ya nak."


Seruni menghentikan pergerakan tangannya kemudian menatap ke arah mamanya. Ia yakin kalau mamanya itu pasti ingin berbicara dengannya. Entah apa yang akan dibicarakan oleh mamanya itu, tapi dada Seruni sudah mulai berdebar-debar. Takutnya mamanya mendengarkan pembicaraannya tadi bersama Ghea.


"Ada apa ma?" Seruni memberanikan diri bertanya kepada mamanya dengan was-was.


Mama Amara mengulas senyum kemudian membelai kepala anaknya. "Mama tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada anak mama ini." Mama Amara menjeda sejenak ucapannya. Seruni sudah mulai kesusahan menelan salivanya. Namun ia masih berusaha tetap tenang agar mamanya itu tidak semakin curiga.


"Apa ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan kepada Mama?" Sontak saja Seruni langsung gelagapan mendapat pertanyaan itu dari mamanya.


"Eem, Runi baik-baik saja kok Ma." Jawab Seruni seraya mengulas senyum. Namun di mata Mama Amara, senyum itu terlihat dipaksakan.


"Sepertinya kamu kurang nyaman bercerita sama mama. Kasih tau ke mama coba, apa yang membuat mu tidak nyaman bercerita ke Mama?"


"Bu-bukan begitu maksud Runi Ma." Seruni jadi merasa bersalah.


"Tadi mama tak sengaja mendengar Sinta mengatai mu dengan sebutan ayam kampus."


Degh!

__ADS_1


"Ma-mama mendengar pembicaraan kami?" Tanya Seruni tergagap.


"Enggak, Mama tiba di sana saat Sinta berkata seperti itu kepada kamu."


Syukurlah!


"Bukannya kalian berteman? Apa kalian sedang ada masalah?"


"Sinta hanya salah paham saja ma." Sahut Seruni cepat.


"Baiklah, cepat selesaikan masalah di antara kalian. Jangan bermusuhan seperti itu."


"I-iya Ma!"


"Ya sudah, kalau memang kamu belum ingin cerita mama tidak akan memaksa. Datangilah Mama kapan pun jika kamu sudah siap untuk bercerita."


"Pasti ma, Runi nanti pasti akan ceritakan semuanya kepada Mama jika waktunya sudah tepat."


Mama Amara segera keluar dari kamar anaknya dengan hati kecewa. Meskipun begitu ia akan tetap menunggu hingga anaknya itu benar-benar siap bercerita kepadanya. Mama Amara tidak ingin memaksa sang anak jika ujung-ujungnya nanti hanya akan membuat anaknya merasa tidak nyaman.


*****


*****


*****


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2