
Mbah Suro lagi-lagi menatap Alfa dengan tajam, membuat Alfa semakin bergidik. Cukup lama mereka saling terdiam karena tidak ada yang berani memulai pembicaraan. Mereka menunggu Mbah Suro yang memulainya. Namun yang ditunggu tak kunjung membuka suaranya. Mbah Suro masih menelisik pemuda yang ada di hadapannya itu.
"Siapa nama mu?!" Akhirnya Mbah Suro membuka suaranya.
Alfa masih terdiam hingga sikutan tangan Seruni yang mengenai perutnya menyadarkannya. Alfa pun menoleh ke arah Seruni yang ada di sampingnya. "Apa?" Tanya Alfa tanpa suara, hanya gerakan bibirnya saja yang terbuka.
Seruni mendekatkan wajahnya ke telinga Alfa kemudian berbisik. "Mbah Suro tanya, siapa nama kamu, iih!" Greget sekali Seruni pengen menjitak kepala Alfa.
Alfa pun kembali mengarahkan pandangannya menatap Mbah Suro. "Sa-saya Alfa Mbah." Setelah menyebutkan namanya Alfa kembali menunduk.
"Berikan kepada saya apa yang telah kamu ambil." Mbah Suro menadahkan tangannya ke arah Alfa.
Alfa dan Seruni saling pandang karena tidak mengerti akan maksud ucapan Mbah Suro. Reksa pun demikian. Ia juga tidak paham maksud perkataan bapaknya.
"Jangan pura-pura tidak tahu. Kamu pasti mengerti maksud ucapan saya."
__ADS_1
"Saya tidak mengerti!" Ucap Alfa tegas. Sekarang ia mulai paham dengan ucapan dukun yang ada di hadapannya itu. Pikirannya langsung tertuju dengan benda yang pernah ditemukannya di air terjun dulu. Timbul prasangka, apakah dukun ini meminta benda itu untuk kepentingan pribadinya dalam dunia perdukunan? Darimana dukun ini tau tentang benda itu? Tidak! Kalau memang itu tujuannya. Enak saja! Aku yang nemuin, dia dengan seenaknya memintanya. Tidak akan pernah aku berikan kepada orang lain apa yang sudah menjadi milik ku! Tekat kuat Alfa dalam hati.
"Baiklah, saya tidak akan memaksa mu." Mbah Suro kembali menatap tajam ke arah Alfa. "Tapi ingat! Segala sesuatu pasti ada konsekuensinya!"
Ucapan tegas Mbah Suro membuat Alfa nampak pias, meskipun ia belum bisa mencerna seutuhnya maksud ucapan tersebut.
"Terus sekarang bagaimana Mbah? Apa yang harus saya lakukan?" Tanya Seruni yang sudah tidak sabar. Ia ingin segera terlepas dari belenggu yang melekat di tubuhnya.
"Segeralah menikah, hanya itu jalan satu-satunya!" Tegas Mbah Suro, membuat Seruni dan Reksa reflek saling pandang.
"Bagus!" Mbah Suro menyunggingkan senyum smirknya. Dan semua itu tidak lepas dari pandangan Alfa. Alfa pun semakin yakin bahwa dukun yang ada di hadapannya itu memiliki tujuan tertentu.
"Apa tidak bisa menunggu kami selesai kuliah dulu Mbah? Rasanya kami masih terlalu dini untuk menjalani biduk rumah tangga." Tawar Seruni.
"Jangan sekali-kali membantah ucapan ku! Lakukan apa yang aku perintahkan secepatnya jika kamu ingin sebuah kebebasan!" Tegas Mbah Suro sekali lagi. "Ingat! Sebelum malam satu suro kalian harus sudah menikah!"
__ADS_1
Seruni dan Alfa nampak kesusahan menelan salivanya. Mendengar malam satu suro di sebut membuat mereka bergidik. Pasalnya, setahu mereka malam itu adalah malam keramat. Apalagi yang berhubungan dengan mistis.
"Memangnya ada apa dengan malam satu suro?" Alfa memberanikan diri untuk bertanya.
"Ada sesuatu yang harus kamu pertanggungjawabkan!" Mbah Suro menatap Alfa tajam namun seulas senyum smirk terukir di bibirnya.
"Memangnya apa yang harus aku pertanggungjawabkan? Aku tidak merasa melakukan sesuatu apapun selain tidur bersama calon istri ku. Jadi aku hanya bertanggung jawab untuk menikahinya."
Lagi dan lagi sikutan tangan Seruni mendarat di perut Alfa. Kali ini lumayan keras hingga membuat Alfa nampak meringis kesakitan. Bukan hanya sikutan, tapi juga pelototan tajam. Seruni tidak suka masa lalunya diungkit di depan orang lain. Terlebih saat ini ada Reksa disana. Mau ditaruh di mana mukanya? Meskipun Reksa sudah mengetahui masa lalunya, tetap saja hal itu sangat memalukan baginya.
*****
*****
*****
__ADS_1
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏