SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
DUA PULUH TUJUH


__ADS_3

Tok.. tok.. tok..


"Pak, apa kami boleh masuk?" Reksa mengetuk pintu ruangan di mana bapaknya berada. Tak berselang lama pintu ruangan itu pun terbuka dan nampaklah Mbah Suro dari balik pintu tersebut.


"Ada yang ingin bertemu dengan bapak." Ucap Reksa saat Mbah Suro keluar dari dalam ruangan.


"Mbah," Seruni segera meraih tangan Mbah Suro kemudian menciumnya diikuti oleh Faya. Hanya dengan berjabat tangan saja, Mbah Suro dapat melihat dan merasakan semua kejadian yang dialami oleh Seruni.


"Ayo kita bicara di depan saja." Mbah Suro melangkah ke ruang depan yang biasa ia gunakan saat menerima pasien diikuti oleh Reksa, Seruni dan juga Faya. Sedangkan ruangan tadi adalah ruangan khusus untuknya bersemedi. Dan hanya dirinya dan anaknya saja yang boleh masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Duduklah!" Perintah Mbah Suro.


Tidak ada kursi di dalam ruangan itu, hanya ada karpet yang terbentang di sana. Seruni dan Faya pun langsung mendudukkan tubuhnya di atas karpet tersebut saat melihat Mbah Suro dan Reksa yang sudah duduk bersila berdampingan.


"Katakan apa tujuan mu datang ke sini?!" Todong Mbah Suro tanpa basa-basi. Seruni dan Faya sejenak saling pandang sebelum akhirnya Seruni mengatakan maksud dan tujuannya datang ke tempat Mbah Suro.


"Sa-saya ingin meminta tolong kepada Mbah untuk membantu saya menghilangkan kutukan yang ada di dalam diri saya."


"Itu bukan kutukan!" Sahut Mbah Suro cepat dan tegas.

__ADS_1


"Mak-maksudnya Mbah? Kalau bukan kutukan lalu apa? Kenapa Mbah bisa menyebut kalau itu bukan sebuah kutukan?" Seruni tidak bisa menahan lagi rasa penasarannya.


"Kamu adalah orang pilihan." Ujar Mbah Suro semakin membuat mereka bingung, tak terkecuali Reksa yang sejak tadi menyimak juga tidak mengerti dengan ucapan bapaknya. "Kamu adalah orang yang terpilih sebagai perantara." Lanjut Mbah Suro.


"Maksudnya apa sih pak?" Reksa tidak tahan untuk tidak bertanya kepada bapaknya karena dia juga ikut merasa kebingungan. Dan pertanyaan Reksa tersebut mewakili apa yang ada di benak Seruni dan juga Faya.


"Ilmu mu belum cukup untuk mengetahui perkara ini Nak." Mbah Suro menepuk pundak anaknya. "Lebih giatlah belajar agar suatu saat nanti kamu bisa seperti bapak." Ujar Mbah Suro. Reksa hanya mengangguki ucapan bapaknya itu.


"Dengarkan perkataan saya jika kamu ingin terbebas!" Ucap Mbah Suro menatap lekat ke arah Seruni, hingga yang ditatapnya sampai merasa merinding.


"I-iya Mbah, apa yang harus saya lakukan?" Takut-takut Seruni bertanya.


"Temukan laki-laki itu, karena hanya dialah yang bisa melepaskan mu dari semua ini." Ucap Mbah Suro tegas seolah tidak ada jalan lain dan itu adalah jalan satu-satunya agar ia bisa terbebas. "Dia yang memulai maka dia juga yang harus mengakhirinya!"


"Jangan sekali-kali membantah ucapan bapak Rek. Kalau bapak sudah berkata A maka kamu harus melakukan A tanpa B apalagi C." Mbah Suro menatap tegas ke arah anaknya.


"Iya pak maaf!" Reksa menunduk menyadari kesalahannya karena sudah membantah ucapan bapaknya.


"Sekarang pulanglah, temui Mbah kembali jika kamu sudah menemukannya." Bukannya mengusir, tapi memang pembicaraan di antara mereka sudah selesai. Dan mungkin di luar sudah banyak pasien yang menunggu karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan. Sedangkan jam buka klinik adalah pukul delapan.

__ADS_1


Seruni dan Faya segera pamit undur diri dari klinik Mbah Suro. mereka berdua dengan ditemani oleh Reksa kembali ke rumah sebelah untuk membereskan barang-barang miliknya yang ada di kamar tamu.


"Run," Reksa berdiri di ambang pintu kamar. Seruni menoleh. "Boleh aku meminta nomor telepon kamu?" Ucap Reksa sedikit ragu.


Seruni menghentikan aktivitasnya sejenak kemudian melangkah menghampiri Reksa. Seruni langsung menadahkan tangan kanannya ke arah Reksa.


"Apa?" Reksa tidak paham dengan maksud Seruni.


"Ponsel mas Reksa."


"Owh!" Reksa segera merogoh ponsel di dalam kantung celananya, kemudian memberikannya kepada Seruni. Seruni langsung mengetikkan nomor teleponnya di ponsel Reksa, kemudian mengembalikan ponsel tersebut kepada pemiliknya.


"Boleh kan jika sewaktu-waktu aku menghubungi mu?" Seruni mengangguk kemudian kembali membereskan barang-barangnya.


Tepat pukul sembilan pagi, Seruni dan Faya meninggalkan kediaman Mbah Suro. Dengan berat hati Reksa pun akhirnya melepas kepergian Seruni.


*****


*****

__ADS_1


*****


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏


__ADS_2