SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
TUJUH PULUH ENAM


__ADS_3

Setelah sarapan bersama, Alfa memilih kembali ke kamar karena tidak ada yang bisa ia lakukan. Sambil menunggu sang istri yang saat ini sedang mencuci piring bekas makan mereka, Alfa mengotak-atik ponselnya.


Tak berselang lama Seruni masuk ke dalam kamar. Istrinya itu terlihat manis pagi ini dengan menggunakan dress selutut berwarna coklat. Membuatnya ingin sekali melahapnya habis. Namun sayangnya angannya itu harus terbang melayang saat mengingat bahwa istrinya sedang datang bulan. Ia hanya bisa gigit jari menunggu hingga istrinya itu benar-benar sudah selesai masa haidnya.


"Kemari lah." Alfa melambaikan tangan meminta sang istri untuk menghampirinya. Seruni pun menurut dan mendudukkan tubuhnya di samping sang suami. Alfa langsung mendekap tubuh istrinya itu seraya menciumi pipi sang istri. Walaupun merasa kegelian, namun Seruni tidak menolak itu. Ia akan berusaha membuka hatinya. Mungkin dimulai dengan sentuhan ringan seperti ini. Ia harus membiasakan diri karena biar bagaimanapun Alfa sekarang adalah suaminya. Jadi sudah tugasnya untuk melayani sang suami serta menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Ia tidak ingin dilaknat malaikat karena menolak suaminya sendiri.


"Apa mau ikut?" Tanya Alfa setelah puas menciumi pipi sang istri. Namun tangannya masih melingkar erat di tubuh istrinya. Seolah ia takut dipisahkan dari sang istri.


"Kemana?" Seruni mendongak menatap wajah sang suami. Di perhatikan wajah yang ada di hadapannya itu lekat-lekat. Suaminya itu tak kalah ganteng dari Reksa. Namun usia memang tidak bisa dibohongi. Alfa memang masih terlihat bocah. Sedangkan Reksa sudah nampak dewasa.


Seruni mengerjapkan matanya beberapa kali saat tersadar. Mengapa di saat ia bersama suaminya bisa-bisanya ia malah memikirkan laki-laki lain? Dan lebih parahnya lagi dirinya malah membandingkan suaminya dengan laki-laki lain. Bukankah yang demikian itu termasuk dosa besar? Harusnya mata, hati serta pikirannya hanya tertuju kepada suaminya yang jelas-jelas halal untuknya. Bukan malah tertuju kepada laki-laki lain.

__ADS_1


"Hey, kenapa menatap ku seperti itu? Aku tahu suami mu ini ganteng. Cup!" Alfa malah mengecup sekilas bibir istrinya, membuat sang istri melotot ke arahnya. Alfa hanya terkekeh. Istrinya itu selalu terlihat lucu saat melotot seperti itu. "Aku ingin menemui papa. Hanya sekedar ingin tanya, apa ada lowongan pekerjaan di kantor tempat Papa bekerja."


"Apa tidak bisa lewat telepon saja? Kata orang zaman dulu, pengantin baru dilarang keluar rumah hingga empat puluh hari lamanya."


"Itu hanya mitos sayang, kepercayaan orang zaman dulu. Sekarang zaman modern, jadi tidak ada istilah seperti itu." Sanggah Alfa yang tidak mempercayai mitos-mitos seperti itu. "Sekarang banyak orang setelah menikah langsung bekerja. Dan semua itu baik-baik saja. Jadi jangan khawatir oke." Alfa semakin mengeratkan pelukannya. "Apa istri ku ini sangat mencintai ku hingga takut terjadi sesuatu dengan suaminya ini?"


"Apa tidak boleh seorang istri khawatir dengan suaminya?"


"Baiklah, aku ganti baju dulu. Aku tidak ingin dikatai menantu durhaka karena tidak mau berkunjung ke rumah mertua." Canda Seruni yang membuat Alfa tergelak.


"Baiklah, baiklah, menantu yang baik hati." Ucap Alfa disela tawanya.

__ADS_1


Seruni segera melangkah menghampiri lemari. Seruni meloloskan dress yang dipakainya dari tubuhnya kemudian meraih celana panjang. Sengaja ia mengganti pakaiannya di sana, di depan suaminya. Meskipun awalnya canggung, tapi ia berusaha menghilangkan kecanggungan itu. Rasa malunya ia buang jauh-jauh. Benar kata suaminya itu, apapun yang ada di dalam dirinya adalah milik suaminya, begitu pula sebaliknya. Jadi apa yang harus ia sembunyikan? Bukankah suaminya itu sudah pernah melihat tubuhnya?


Alfa nampak terbengong saat melihat istrinya itu membuka baju di depan matanya. Ia tidak menyangka kalau istrinya akan melakukan hal itu. Karena biasanya istrinya itu selalu mengganti pakaiannya di kamar mandi. Alfa menelan ludahnya berkali-kali. Jakunnya nampak naik turun. Sungguh pemandangan yang sayang untuk dilewatkan.


Alfa bangkit dari duduknya kemudian menghampiri sang istri dan langsung memeluknya dari belakang. Membuat Seruni berjingkat karena kaget. Alfa menciumi tengkuk istrinya hingga turun ke punggung. Seruni hanya bisa memejamkan matanya seraya merutuki dirinya sendiri. Menyesal? Sedikit! Kalau tahu akhirnya akan seperti ini, lebih baik dirinya tadi berganti baju di kamar mandi saja agar lebih aman. Dia tidak mengira kalau apa yang dilakukannya itu bisa memancing h@$r@t suaminya.


*****


*****


*****

__ADS_1


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏


__ADS_2