SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
SEMBILAN PULUH ENAM


__ADS_3

Setelah mendapatkan telepon dari besannya dan mendengarkan penjelasan mengenai keadaan anaknya, Papa Zaky segera menghubungi sepupunya yaitu Om Pras. Karena Papa Zaky merasa ada yang tidak beres dengan anaknya itu. Papa Zaky meminta om Pras untuk menemaninya berangkat malam itu juga.


"Nah apa aku bilang, firasat ku tidak mungkin meleset." Ujar om Pras saat mereka dalam perjalanan. "Aku bisa merasakannya, ada sesuatu yang tidak beres dengan mereka. Namun aku tidak bisa menebak apa itu." Sambungnya lagi. "Biar nanti aku lihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi."


Papa Zaky hanya menganggukkan kepalanya saja tanpa menyahut ucapan Om Pras. Papa Zaky lebih memilih fokus dengan kemudinya agar segera tiba di kota tempat tinggal anaknya saat ini.


Pukul sepuluh malam akhirnya mereka tiba di kediaman mama Amara. Papa Zaky langsung mengetuk pintu rumah yang lampunya masih terlihat menyala. Memang benar, saat ini Mama Amara sedang duduk di ruang tamu menunggu kedatangan besannya. Sedangkan Seruni berada di dalam kamar sedang mengompres suaminya. Mama Amara juga sesekali masuk ke dalam kamar anaknya untuk melihat keadaan menantunya.


Mendengar suara deru mesin yang berhenti di halaman rumahnya kemudian disusul dengan ketukan pintu, Mama Amara segera beranjak untuk membukakan pintu. Besannya itu nampak berdiri di depan pintu bersama dengan om Pras yang baru saja dikenalinya sebagai sepupu dari besannya itu saat dulu menjadi saksi di pernikahan anaknya.


"Ayo langsung masuk saja, mereka ada di kamar." Ucap Mama Amara saat membuka pintu. Mama Amara langsung melenggang masuk ke dalam diikuti oleh papa Zaky dan om Pras yang kebagian menutup pintu.


Saat Mama Amara dan papa Zaky memilih langsung masuk ke dalam kamar anaknya, namun tidak dengan om Pras. Om Pras memilih mengedarkan pandangannya menyelusuri setiap penjuru ruangan yang ada di rumah itu. Mulai dari ruang tamu, ruang tengah atau ruang TV, kemudian menuju ke dapur. Tak lupa om Pras juga membuka pintu kamar mandi yang ada di dekat dapur. Namun sejauh mata memandang, ia tidak menemukan apapun yang mencurigakan. Akhirnya om Pras memilih menyusul masuk ke dalam kamar keponakannya.


Terlihat papa Zaky yang sedang berusaha membujuk anaknya agar mau untuk dibawa ke rumah sakit. Namun Alfa tetap ngotot dengan pendiriannya. Ia lebih suka dirawat oleh istrinya sendiri meskipun istrinya itu hanya bisa mengompresnya dengan air hangat.

__ADS_1


"Kalian tenang dulu biar aku lihat sebentar." Ujar Om Pras yang membuat mereka mengalihkan perhatiannya. Papa Zaky menurut dan memilih mendudukkan tubuhnya di sofa. Seruni masih setia duduk di samping suaminya di tengah-tengah ranjang. Sedangkan mama Amara mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang.


Om Pras segera duduk bersila di lantai kamar tersebut. Perlahan kedua matanya terpejam. Kedua tangannya pun mengatup di depan dada. Tak lupa mulutnya juga berkomat-kamit seolah merapalkan mantra.


Cukup lama om Pras melakukan itu namun dirinya tidak mendapatkan apa yang dicarinya. Hanya kegelapan yang nampak terlihat dari mata batinnya. Om Pras perlahan membuka matanya kemudian menggeleng. "Aku tidak dapat melihat apapun selain kegelapan. Seperti ada kabut tebal yang menghalangi pandangan ku." Om Pras kemudian mengalihkan pandangannya menatap ke arah Seruni dan mama Amara bergantian. "Apa jangan-jangan semua ini ada hubungannya dengan Mbah Suro?"


"Em-mbah Suro? Maksud om apa? Kenapa membawa-bawa nama Mbah Suro?" Seruni tidak suka jika om Pras selalu mencurigai Mbah Suro.


"Baiklah jika memang semua ini tidak ada hubungannya dengan Mbah Suro. Aku akan bersemedi malam ini untuk mencari tahu jawabannya. Dan jika dugaan ku benar, bersiap-siaplah menerima akibat dari perbuatan kalian." Tegas om Pras.


"Hey, maksud kamu apa?!" Mama Amara tidak terima karena merasa disudutkan atau lebih tepatnya menjadi tersangka penyebab menantunya sakit.


"Pakai saja kamar tamu!" Ucap mama Amara setengah dongkol.


"Terus papa tidur di mana nanti?" Sahut Seruni.

__ADS_1


"Tidak usah memikirkan ku. Aku bisa tidur di sofa."


Suara papa Zaky terdengar sinis di telinga Seruni. Mungkin papa Zaky sudah termakan hasutan om Pras, pikir Seruni. Seruni pun mengangguk seraya berusaha menerbitkan senyum yang terkesan dipaksakan.


"Apa tidak sebaiknya Alfa kita bawa ke rumah sakit saja Pa?"


"Tidak perlu!" Sahut om Pras. "Dia bukan sakit medis, tetapi seperti orang yang kena guna-guna atau bahkan santet."


Ucapan Om Pras barusan tentu saja membuat Seruni, mama Amara dan juga papa Zaky terkejut bukan kepalang.


"Apa maksud ucapan Om Pras?" Lirih Seruni, luruh sudah air matanya. Apa benar apa yang dikatakan oleh om Pras itu? Apa benar semua ini ada hubungannya dengan Mbah Suro? Seruni larut dengan pemikirannya sendiri.


*****


*****

__ADS_1


*****


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏


__ADS_2