
Seruni dan Faya saling lirik memperhatikan om Zaky yang nampak santai menikmati makanannya tanpa merasa terganggu sedikit pun.
"Bagaimana kabar mama kamu Run?" Om Zaky menoleh sekilas ke arah Seruni kemudian kembali menikmati makanannya.
"Ba-baik Om!" Seruni segera menunduk berpura-pura fokus dengan makanannya.
"Syukurlah, mama kamu pasti sudah cerita banyak tentang Om kan?"
"Eh, eng-enggak! Eem, maksud Runi hanya sekilas saja."
Om Zaky mengulas senyumnya. Entah mengapa seruni merasa merinding saat melihat senyuman itu. Sedangkan Faya seperti kambing congek yang hanya memperhatikan mereka berdua. Bagaimana tidak, Faya tidak kenal sama sekali dengan Om-om itu. Dan Sahabatnya itu juga belum memperkenalkan Om-om itu kepada dirinya. Jadi yang bisa ia lakukan hanyalah diam saja memperhatikan obrolan diantara mereka.
"Boleh om berbicara berdua dengan kamu?" Ucap om Zaky setelah menghabiskan makanannya.
"Eh, kenapa harus berdua Om?" Seruni melirik Faya yang lagi-lagi hanya mengedikkan bahunya.
"Itu pun kalau kamu tidak keberatan." Lanjut om Zaky.
"Baiklah, kalau begitu aku tunggu di mobil." Sambung Faya beranjak dari duduknya karena makanannya sudah habis.
"Biar nanti om yang antar Seruni pulang." Sahut om Zaky cepat.
__ADS_1
Faya melirik Seruni seolah meminta pendapat, dan seruni perlahan menganggukkan kepalanya, walau sejujurnya ia merasa berat hati jika harus ngobrol berdua dengan om Zaky.
"Baiklah, sampai jumpa besok di kampus Run." Faya langsung melesat keluar dari cafe meninggalkan sahabatnya itu bersama om-om yang tidak dikenalinya.
Sejenak suasana menjadi hening. Seruni yang belum menghabiskan makanannya hanya mengaduk-aduk makanannya saja tanpa berniat memakannya. Dan semua itu tidak luput dari pandangan Om Zaky.
"Habiskan dulu makanan mu Run."
"Runi dah kenyang om." Seruni mendorong piring yang ada di hadapannya menjauh. Seruni masih menunduk dan belum berani mengangkat kepalanya.
"Baiklah, langsung saja. Sebenarnya sejak bertemu dengan mama mu kembali, Om merasa menemukan cinta Om yang pernah hilang." Om Zaky menjeda ucapannya, dan Seruni masih diam mendengarkan. "Tapi saat tau Amara memiliki seorang anak perempuan, om jadi ingin menjodohkannya dengan anak Om."
"Namun jika kamu keberatan dengan perjodohan itu, om punya opsi ketiga." Sengaja om Zaky menggantung ucapannya agar Seruni penasaran.
Dan benar saja, bukannya Seruni penasaran. Tapi karena ia merasa semakin cepat ia mengetahuinya maka semakin cepat pula ia pergi dari kafe tersebut. Seruni jelas-jelas tidak ingin berlama-lama bersama om Zaky.
"Apa itu om?" Tanya Seruni. "Kalau yang pertama Seruni tidak akan menghalangi jika memang Mama juga masih mencintai Om. Tapi yang kedua maaf, Seruni tidak bisa. Seruni masih ingin melanjutkan kuliah Seruni."
"Baiklah, Mungkin kamu lebih suka dengan opsi yang ketiga."
"Katakan saja om, jangan berbelit-belit."
__ADS_1
"Jadilah istri ku, aku tidak akan melarang mu kuliah."
Braakk!!
Seruni langsung berdiri seraya menggebrak meja yang ada di depannya membuat om Zaky terkejut. Mereka pun menjadi pusat perhatian para pengunjung cafe.
Seruni mengepalkan kedua tangannya di samping tubuhnya. Seruni berusaha menahan emosinya dengan mengatur nafasnya. Ia teringat dengan ucapan Reksa yang memintanya untuk belajar mengendalikan emosi agar kekuatan itu tidak merasuki tubuhnya. Apalagi sekarang Faya tidak ada bersamanya.
Seruni menghirup dan menghembuskan nafasnya beberapa kali. Setelah berhasil menenangkan diri, ia kemudian menatap Om Zaky.
"Maaf om, bukan maksud ku tidak sopan kepada orang tua. Tapi pikirkanlah dahulu sebelum berucap." Seruni meraih tasnya kemudian segera meninggalkan cafe. Seruni memilih pulang menggunakan taksi daripada harus diantar oleh om-om sialan itu.
Sedangkan om Zaky masih sedikit terkejut dengan ulah spontan Seruni tadi, hingga ia tak menyadari Seruni sudah pergi meninggalkan kafe.
*****
*****
*****
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏
__ADS_1