SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
SEASON 2 PART 126


__ADS_3

Pagi menyapa, Seruni tersentak saat membuka matanya melihat Bu Risma duduk anteng di sofa yang ada di dalam ruang perawatannya. Apa Bu Risma semalam tidak pulang dan menjaganya semalaman? Tanya Seruni dalam hati. Seruni menjadi tidak enak sendiri karena sudah merepotkan orang yang tidak dikenalnya atau lebih tepatnya baru dikenalnya tadi malam.


Rasa lelah membuatnya tidak sadar telah tertidur semalaman. Bahkan dirinya baru terbangun saat jam yang ada di dinding rumah sakit menunjukkan pukul tujuh pagi.


"Kamu sudah bangun?" Bu Risma beranjak dari duduknya menghampiri Seruni.


"Ibu, ibu kok masih di sini? Apa ibu tidak pulang?" Seruni perlahan bangkit kemudian mendudukkan tubuhnya. "Apa saya sudah boleh pulang Bu?"


"Kita tunggu dokter dulu ya, mungkin sebentar lagi dokter akan melakukan kunjungan."


Dan benar saja, pintu ruang perawatan Seruni terbuka. Masuklah seorang dokter perempuan dengan didampingi oleh seorang perawat. "Selamat pagi." Sapa sang dokter tersenyum ramah.


"Pagi dok." Balas Seruni dan juga Bu Risma bersamaan.


"Apa saya sudah boleh pulang dok?" Tanya Seruni tidak sabar karena takut jika dirinya berlama-lama di rumah sakit akan membutuhkan biaya yang banyak. Pasalnya saat ini dirinya sedang berada di rumah sakit yang ada di ibukota. Sudah pasti semua biaya akan jauh berkali lipat lebih mahal daripada di kota kecil seperti kota asalnya.


Bagaimana nanti kalau uang yang dimilikinya habis untuk membayar biaya rumah sakit? Lalu bagaimana nanti dirinya kalau sewaktu-waktu melahirkan dan dirinya tidak memiliki uang? Belum tentu juga dirinya langsung mendapatkan pekerjaan setelah keluar dari rumah sakit. Jangankan pekerjaan, tempat tinggal saja dirinya belum punya. Semua itu terasa berputar-putar di kepala Seruni.


Sang dokter tersenyum. Seolah mengatakan agar Seruni tenang. "Kita periksa dulu ya Bu?"


Seruni pun mengangguk, Ia tidak mungkin membantah ataupun menolak apa yang akan dilakukan oleh dokter. Karena yang dilakukan oleh dokter sudah pasti untuk mengecek kondisi kesehatan dirinya dan juga bayi yang ada di dalam kandungannya.


*****


Setelah dinyatakan baik-baik saja oleh sang dokter dan juga sudah diperbolehkan pulang, Seruni dan Bu Risma segera meninggalkan ruang perawatan Seruni setelah Seruni terlebih dahulu menghabiskan sarapannya.


"Loh mau kemana?" Tanya Bu Risma saat langkah Seruni berbelok ke kanan. Padahal jalan menuju pintu keluar rumah sakit masih lurus dan baru berbelok ke kanan setelah melewati beberapa ruangan.


Langkah Seruni terhenti. "Mau melunasi biaya administrasi dulu Bu. Ibu bisa pulang duluan. Terima kasih karena sudah menjaga saya."


"Memangnya setelah ini kamu mau kemana?"

__ADS_1


"Saya nanti akan terlebih dahulu mengambil tas saya di minimarket. Setelah itu saya akan mencari kos-kosan." Ujar Seruni. "Mari Bu, permisi. Sekali lagi terimakasih." Seruni tersenyum kemudian melanjutkan langkahnya. Namun baru saja ia berjalan beberapa langkah, Seruni sudah kembali berhenti saat mendengar penuturan Bu Risma.


"Saya sudah melunasi biaya administrasinya."


Seruni langsung membalikkan tubuhnya kemudian berjalan kembali menghampiri Bu Risma. "Kenapa ibu harus membayar biaya rumah sakit saya? Saya tidak ingin merepotkan orang lain. Berapa uang yang harus saya ganti Bu? Saya ada uang ibu jangan khawatir. Saya kemarin baru saja menjual mobil peninggalan papa." Seruni merogoh tasnya untuk mengambil uang.


Bu Risma tersenyum. Sepertinya benar dugaannya bahwa Seruni adalah anak yang baik. Buktinya Seruni tidak ingin mengambil kesempatan atas kebaikannya. "Simpan saja uang mu itu untuk biaya persalinan mu nanti."


"Tapi Bu, saya tidak mau merepotkan ibu."


"Saya tidak merasa direpotkan. Ayo kita pulang."


"Hah, pulang kemana?"


"Ke rumah saya, ayo!" Bu Risma berlalu meninggalkan Seruni yang masih terbengong. Namun sesaat kemudian Seruni segera berlari menyusul Bu Risma. "Hati-hati jangan lari-lari begitu."


"I-ibu tadi ngomong apa?" Gagap Seruni menyamakan langkahnya dengan langkah Bu Risma.


"Tap-tapi saya sudah banyak merepotkan ibu."


"Tak apa, nanti kamu bisa bantu-bantu di minimarket atau bantu merawat bapak di rumah."


"Hah, serius bu?" Seruni kembali terkejut dengan ucapan Bu Risma. Bu Risma mengangguk. Kemudian mereka berdua segera menyetop taksi setelah keluar dari rumah sakit.


Sepanjang perjalanan menuju ke rumahnya, Bu Risma menceritakan segala sesuatu yang terjadi dengan keluarganya. Dulu sebelum ada minimarket yang berdiri di depan minimarketnya, minimarket Bu Risma sangat ramai oleh pengunjung. Namun setelah minimarket yang ada di depan minimarket nya selesai dibangun dan dibuka, tiba-tiba saja minimarketnya menjadi sepi. Selang beberapa bulan setelah itu Putra semata wayangnya kecelakaan saat pulang dari kerja dan meninggal dunia.


Tidak cukup hanya sampai di situ saja. Satu tahun setelah kepergian anaknya tiba-tiba saja suaminya terkena stroke hingga sekarang masih duduk di kursi roda.


Seruni tertegun mendengar cerita Bu Risma. Seruni sadar bahwa tidak hanya dirinya saja yang saat ini sedang diuji. Setiap orang pasti memiliki ujian dalam hidupnya masing-masing.


Taksi yang ditumpangi oleh Seruni dan Bu Risma akhirnya tiba di depan minimarket yang tak lain adalah minimarket milik Bu Risma sendiri. Mereka berdua segera turun kemudian melangkah memasuki pelataran minimarket.

__ADS_1


Saat keduanya tiba di depan minimarket, Bu Risma langsung mendorong pintu minimarket itu. Dan hawa panas kembali menampar permukaan kulit Seruni. Seruni semakin yakin ada yang tidak beres dengan minimarket itu.


"Pagi Bu." Sapa Fani saat melihat bosnya masuk ke dalam minimarket.


"Pagi Fan. Masih sepi?" Tanya Bu Risma basa-basi. Padahal dirinya sendiri juga tahu kalau minimarketnya itu sepi pengunjung. Bahkan mungkin dalam sehari semalam tidak lebih dari 10 orang yang berkunjung ke minimarketnya.


"Iya Bu, seperti biasa." Jawab Fani sungkan karena dirinya merasa memakan gaji buta.


"Tak apa, mungkin memang belum rezeki." Bu Risma tersenyum menenangkan karyawannya. "Oh ya, tas yang kemarin ibu minta kamu simpan dimana?"


"Tas besar itu Bu?"


"Ya!"


"Ada Bu, ini di belakang kasir."


"Owh ya sudah. Kenalkan ini Seruni. Orang yang kemarin menolong ibu saat dijambret." Seruni dan Fani pun saling berjabat tangan. "Seruni akan tinggal di sini. Nanti dia bisa membantu kamu atau membantu Mbak Yanti mengurus bapak di belakang." Papar Bu Risma menjelaskan yang kemudian diangguki oleh Fani.


Setelah memperkenalkan Seruni kepada karyawannya, Bu Risma segera membawa Seruni ke belakang, lebih tepatnya ke rumahnya yang ada di belakang minimarket untuk diperkenalkan kepada suami juga pembantu rumah tangganya yang merangkap mengurus suaminya.


*****


*****


*****


Hay hay Zeyeng, nanti ini emak percepat aja ya biar nggak bertele-tele dan biar bisa segera tamat 🤭 wkwkwk jempol emak udah gatel pengen nulis cerita yang lainnya 😂


Weeeewww 1000 kata lebih ini 🥴 emak usahain nggak sampai 20 bab lagi udah tamat 🤭 Cuma genapin 100 ribu kata saja 🤗


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2