
Tak berselang lama setelah Seruni dipindahkan ke ruang perawatan, akhirnya ia membuka matanya. Tidak ada hal yang serius, hanya kondisi tubuhnya saja yang lemah. Seruni mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan dan mendapati banyak orang yang mengelilingi dirinya. Ya, saat ini mama Amara, Faya, Ghea, Ega, Ruli dan Reksa berdiri di samping brankar Seruni saat tadi mereka melihat ada pergerakan di atas ranjang. Sedangkan Mbah Suro masih duduk tenang di sofa.
"Aku bukan pembunuh, aku bukan pembunuh!" Seruni histeris seraya membekap kedua telinganya dengan kedua tangannya. Semua orang yang ada di sana terhenyak. Seruni merasa saat ini orang-orang yang ada di sekitarnya sedang meneriakinya sebagai seorang pembunuh.
"Run, hey, ini mama nak. Hiks.. hiks.." Mama Amara berusaha memeluk anaknya untuk menenangkannya.
"Aku bukan pembunuh, tidak! Aku bukan pembunuh."
"Run hey, tidak ada yang menganggap mu sebagai pembunuh." Ujar Faya. "Lihat kami Run, lihat kami. Kami ini sahabat-sahabat mu. Kami akan selalu ada untuk mu."
"Aku bukan pembunuh. Aku bukan pembunuh."
"Pak!" Seru Reksa bermaksud agar bapaknya turun tangan.
Perlahan Mbah Suro bangkit kemudian melangkah mendekati brankar. Mereka semua memilih mundur untuk memberi ruang kepada Mbah Suro. Begitupun Mama Amara yang langsung mengurai pelukannya.
Tangan Mbah Suro terulur menyentuh ubun-ubun Seruni yang masih nampak ketakutan. Mata Mbah Suro terpejam seraya menggumamkan doa-doa di dalam hati. Tak berselang lama Seruni sudah mulai tenang kembali. Mbah Suro segera merebahkan kembali tubuh Seruni.
"Tak apa, dia hanya syok. Nanti setelah bangun pasti dia tidak akan histeris lagi." Ujar Mbah Suro.
__ADS_1
"Terimakasih Mbah." Ucap mama Amara tulus.
"Ini pelajaran buat kita semua. Dimanapun kita berada, jangan pernah mengambil apapun yang bukan milik kita." Mbah Suro mengedarkan pandangannya ke arah teman-teman Seruni. Mereka semua nampak mengangguk bersamaan. "Sekarang saya pamit dulu. Masih banyak pekerjaan yang belum saya selesaikan."
"Iya, sekali lagi terima kasih atas bantuannya Mbah." Ucap mama Amara lagi.
"Ayo Rek!" Mbah Suro melangkah keluar dari ruang perawatan Seruni diikuti oleh Reksa yang nampak berat hati. Bukan hanya hatinya saja yang berat, tetapi juga langkah kakinya terasa berat untuk meninggalkan Seruni yang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Jangan terlalu khawatir." Mbah Suro menepuk pundak anaknya. "Dia pasti akan baik-baik saja." Mbah Suro tau betul keadaan hati anaknya saat ini. Tapi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan sejenis fitnah misalnya seperti yang dilontarkan oleh papa dan om nya Alfa yang tadi sempat diceritakan oleh Reksa, Mbah Suro memilih membawa pergi anaknya secepatnya. Tinggallah mama Amara dan keempat sahabat anaknya. Namun tak berselang lama, Ghea, Ega dan Ruli pun pamit undur diri. Dan sekarang hanya tersisa mama Amara dan Faya seorang.
"Kamu tidak pulang Fa? Tante nggak papa sendirian disini."
Faya menggeleng. "Aku akan selalu berada di samping Seruni Tan. Pasti saat sadar nanti Seruni butuh aku."
Menjelang sore tepat saat dokter dan perawat melakukan kunjungan, Seruni sudah tersadar kembali. Namun Seruni hanya menatap dengan pandangan kosong, membuat hati Mama Amara terasa tersayat melihat kondisi anaknya itu. Bukan hanya hatinya yang tersayat, jantungnya pun ikut berdenyut nyeri. Namun mama Amara berusaha kuat. Jangan sampai dirinya ikutan tumbang.
"Apa sudah lama pasien sadarkan diri?" Tanya sang dokter.
"Tadi siang sudah sempat sadar dok, tapi kembali tidur lagi." Jawab mama Amara.
__ADS_1
"Baiklah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya saja pasien masih terlihat syok atas kepergian suaminya." Jelas saja dokter itu tau karena Seruni dirawat di rumah sakit yang sama dengan almarhum suaminya.
Setelah kunjungan dokter sore itu, Faya meminta izin mama Amara pulang sebentar untuk membersihkan diri. Ia berjanji akan kembali lagi nanti malam.
Malam harinya...
Memang benar Seruni tak lagi histeris seperti tadi siang. Namun sejak tadi Seruni tak berhenti menangis hingga sesenggukan. "Aku jahat!" Lirih Seruni. "Aku sudah menukar nyawa suami ku demi kebebasan ku." Lirihnya lagi.
"Ssssttt! Bukan seperti itu Run." Faya mengusap-usap bahu sahabatnya itu. Faya meraih tisu untuk mengusap air mata Seruni. "Kamu sendiri kan juga tidak tahu kalau akhirnya akan seperti ini. Jadi berhentilah menyalahkan dirimu sendiri."
Mama Amara yang berada di sofa diam-diam menguping pembicaraan Seruni dan Faya. Meskipun matanya terpejam, tapi telinganya ia pasang lebar-lebar.
"Papa Zaky pasti sangat membenci ku Fa, hiks.. hiks.."
"Sssttt! Biarkan saja. Jangan terlalu dipikirkan. Sekarang yang terpenting fokus saja pada kesehatan mu agar segera keluar dari rumah sakit." Kali ini Seruni mengangguk. Memang benar adanya, hanya Faya yang bisa menenangkan Seruni. Bahkan setelah Seruni terbebas dari jerat Nyi Sukmawati sekalipun. Mama Amara saja tidak mampu menenangkan anaknya. Beruntung Faya ikut menginap di rumah sakit malam ini.
*****
*****
__ADS_1
*****
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏