SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
SERATUS ENAM BELAS


__ADS_3

Seruni nampak gelisah dalam tidurnya. Bulir-bulir keringat pun terlihat membasahi keningnya. Nafasnya juga sedikit memburu. Sepertinya Seruni sedang tidak baik-baik saja dalam tidurnya.


"Ma," Gumam Seruni masih dalam keadaan memejamkan matanya.


"Mama," Gumamnya lagi.


Faya yang tidur di sebelah kirinya mulai terusik. Dahinya nampak berkerut. Sedangkan Ghea yang ada di sebelah kanan Seruni masih terlihat nyenyak.


"Ma,"


"Mama," Lagi, entah apa yang di mimpikan Seruni bersama mamanya.


Faya yang indera pendengarannya mulai bisa menangkap suara yang baginya tidak asing langsung saja membuka matanya. Kepalanya reflek menoleh ke samping dan mendapati Seruni yang sedang mengigau memanggil-manggil mamanya.


"Run," Faya mengguncang pelan bahu Seruni.


"Ma, mama," Seruni masih belum tersadar.


Faya bangkit dari tidurnya, mendudukkan diri kemudian kembali mengguncang tubuh Seruni. "Run, hey, bangun. Kamu mimpi apa?"


Ghea yang mendengar suara yang sedikit keras langsung terlonjak bersamaan dengan Seruni yang membuka matanya.


"Hey, ada apa?" Tanya Ghea kebingungan.


"Ada apa?" Seruni yang baru membuka matanya malah ikut bertanya kebingungan.

__ADS_1


Faya menepuk jidatnya gemas. "Harusnya aku yang bertanya seperti itu ke kamu. Ada apa? Apa kamu tadi sedang bermimpi?"


Pertanyaan Faya langsung mengingatkan Seruni akan mimpinya. "Mama?" Beo Seruni tertegun.


"Tante Amara kenapa?" Tanya Faya dan Ghea bersamaan membuat Seruni menatap ke arah Mereka bergantian.


"Mama nggak ada." Lirih Seruni menunduk.


"Hah! Nggak ada gimana?" Tanya keduanya bersamaan lagi. Faya dan Ghea pun saling pandang dan sama-sama terkekeh.


"Tadi aku mimpi Mama melambaikan tangan seraya tersenyum. Dan bayangan Mama semakin menjauh lalu menghilang bersamaan saat aku membuka mata." Seruni mengingat-ingat mimpinya yang entah mengapa membuatnya gelisah. Bukan hanya gelisah, tetapi ada rasa takut juga. Entah itu karena apa ia tak mengerti. "Perasaan ku nggak enak Fa."


"Bukannya tadi siang kamu sudah menghubungi tante Amara kalau ingin menginap di sini?" Ya, tadi siang saat mereka tiba di kediaman Ghea, mereka langsung menghubungi Mama mereka masing-masing. Meminta izin untuk menginap di rumah Ghea. Mama Amara mengizinkannya begitu pula mama Gita, mamanya Faya. Dan di lihat dari suaranya, mama Amara nampak baik-baik saja tidak ada hal yang aneh.


Seruni mengangguk. Iya juga masih ingat dengan suara ceria mamanya tadi siang yang mengizinkannya menginap di rumah sahabatnya. Ah, mungkin hanya perasaan ku saja. Pikir Seruni yang tak ingin membebani dirinya sendiri dengan pikiran-pikiran buruk yang belum tentu kebenarannya.


"Ya sudah jangan berpikir yang aneh-aneh." Ujar Faya tersenyum berusaha menenangkan sahabatnya.


"Sebaiknya kita tidur lagi, ini masih tengah malam." Ucap Ghea yang kembali merebahkan tubuhnya diikuti oleh Seruni dan Faya.


*****


Di tempat lain, di waktu yang sama...


Nampak kepulan asap kemenyan yang di bakar memenuhi sebuah ruangan. Seorang dukun nampak duduk bersila di atas karpet. Matanya terpejam, kedua tangannya tertangkup di depan dada. Tak ketinggalan pula mulutnya yang nampak berkomat-kamit merapalkan mantra. Entah itu mantra apa hanya dia yang tau.

__ADS_1


Sedangkan laki-laki yang ada di depan sang dukun hanya duduk diam memperhatikan aksi yang dilakukan oleh sang dukun. Laki-laki itu yang tak lain adalah papa Zaky yang merasa sakit hati kepada mantan menantunya, meminta kepada sepupunya yang tak lain adalah Om Pras yang berprofesi sebagai dukun untuk mengirim perhitungan kepada sang menantu.


Ya, rasa sakit hati papa Zaky membuatnya gelap mata hingga tega meminta kepada om Pras untuk mengirimkan santet ke rumah menantunya. Tujuannya adalah sang menantu, tanpa tahu di mana keberadaan menantunya saat ini.


Tadi siang setelah pertemuannya sekaligus pertikaiannya dengan sang menantu, papa Zaky langsung melesat kembali ke kotanya dan langsung menuju ke rumah sepupunya. Dengan amarah yang memuncak, tanpa basa-basi papa Zaky langsung meminta kepada om Pras untuk membuat perhitungan kepada sang menantu saat itu juga. Namun sayangnya om Pras memintanya menunggu hingga malam tiba. Dengan berat hati papa Zaky pun menurut dan memilih bersabar, menunggu hingga waktunya tiba.


Sebuah bola api merah menyala muncul setelah om Pras selesai membaca mantranya. Papa Zaky pun nampak terkejut dengan kedatangan bola api itu yang tiba-tiba. Namun dirinya hanya bisa mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun sekedar untuk bertanya kepada sepupunya. Jangankan bertanya, bergerak pun ia tidak berani. Alhasil dia hanya diam mematung karena tertegun menyaksikan sepupunya itu yang berbicara dengan bola api tersebut.


"Pergilah! Selesaikan tugas mu malam ini dengan baik!" Ucap om Pras. Dan bola api itu pun melayang kemudian menghilang dari ruangan tersebut.


Papa Zaky masih melongo dengan keterkejutannya hingga tepukan di bahunya baru mengembalikan kesadarannya.


"Zak, kau baik-baik saja?" Tanya om Pras menahan senyum. Ingin rasanya ia menertawakan ekspresi sepupunya. Memang ini kali pertamanya papa Zaky menyaksikan dengan kedua matanya sendiri pekerjaan om Pras. Selama ini yang ia tahu hanyalah sekedar sepupunya itu seorang dukun. Dan tidak tau bagaimana sistem kerjanya seorang dukun. Jadi maklum saja jika ia begitu terkejut.


"Ya, aku baik-baik saja." Papa Zaky meraup wajahnya kasar.


"Jangan sampai kau sawan setelah melihat hal tadi." Canda om Pras yang akhirnya tidak bisa menahan tawanya lagi.


Mata papa Zaky langsung melotot tajam ke arah sepupunya itu yang tengah menertawakannya.


*****


*****


*****

__ADS_1


Hay.. hay.. gaess assalamualaikum 🙏 Selamat hari raya Idul Fitri, 1 Syawal 1444 H. Taqabbalallahu Minna waminkum, taqabbal ya karim. Minal aidzin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin yaaahh 🙏🤗


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏


__ADS_2