
Keesokan harinya setelah sarapan bersama keluarga Ghea, Seruni dan Faya langsung pergi ke kampus dengan menggunakan pakaian Ghea. Karena mereka kemarin memang tidak membawa baju ganti. Bagi mereka hal seperti ini sudah biasa mereka lakukan sejak dulu. Bukan hanya berbagi tempat tidur saja, tetapi juga berbagi baju, makanan dan yang lainnya.
Sedangkan Ghea berangkat ke kampus dengan mengendarai mobilnya sendiri. Karena mereka memang berbeda universitas. Sesampainya di kampus, Ghea tak langsung masuk ke dalam kelasnya. Melainkan ia melangkahkan kakinya menuju ke kelas dua orang sahabatnya yang selama ini diacuhkannya.
Untuk pertama kalinya setelah kejadian itu, Ghea mendatangi Ega dan Ruli di kampus. Mereka memang satu kampus namun berbeda jurusan. Ega dan Ruli pun nampak tak percaya saat melihat sahabatnya itu memasuki kelasnya dan menghampiri mejanya.
"Pagi," Sapa Ghea seraya mengulas senyum.
Ega dan Ruli saling pandang sebelum membalas sapaan Ghea. "Pagi," Balas Ega dan Ruli bersamaan.
"Tumben, ada angin apa loe datang kesini?" Suara Ruli terdengar sinis. Ia memang tak sekalem Ega. Memang diantara mereka berenam hanya Ega yang selalu berpikir bijak dan selalu menjadi penengah jika mereka saling berselisih paham.
"Rul," Sergah Ega agar Ruli mengontrol ucapannya. "Ada apa Ghe?" Ega bertanya dengan suara tenangnya.
"Maaf jika selama ini aku pura-pura tidak kenal dengan kalian." Ghea merasa bersalah.
"Cih!" Ruli berdecih.
"Bisa diem nggak?!" Seru Ega memperingatkan sahabatnya itu.
"Iya, gue diem!" Ruli melengos mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Aku dah baikan sama Seruni." Lirih Ghea.
"Nggak nanya!" Sahut Ruli pelan namun masih bisa didengar oleh keduanya.
"Apa kalian benar-benar tidak tahu di mana Alfa saat ini?"
"Kalau gue tahu, gue sudah memberitahukannya kepada Seruni." Jawab Ega. "Gue juga heran, kenapa tiba-tiba Alfa menghilang bagai ditelan bumi?" Lanjut Ega.
"Apa mungkin ponsel Alfa rusak atau hilang?" Sahut Ruli yang akhirnya ikut nimbrung juga.
"Kalau begitu kan dia bisa mendatangi kita. Dia kan tahu rumah kita nggak pernah pindah ke mana-mana." Sahut Ega lagi.
"Ah, sebaiknya jangan berpikir yang bukan-bukan." Ucap Ega yang selalu berpikir positif.
"Sebenarnya ada apa sih? Kenapa kalian mencari Alfa?" Ruli yang paling penasaran di sini. Ega meskipun ia juga penasaran tapi ia masih terlihat tenang. Seruni memang sempat mendatanginya untuk mencari Alfa. Namun saat itu Seruni tidak cerita apapun. Ega pikir mungkin Seruni mencari Alfa untuk bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa dirinya kala itu.
"Untuk bertanggung jawab!" Jawab Ghea tegas bercampur geram saat mengingat sahabatnya itu harus menjalani masa-masa sulit akibat perbuatan Alfa yang sayangnya juga sahabatnya sendiri. Entah apa sebenarnya yang sudah dilakukan Alfa.
"Hah!" Ruli dan Ega sama-sama terkejut.
"Ap-apa Seruni hamil?" Tanya Ega tergagap. Sedangkan Ruli masih melongo seolah pikirannya sedang ngeblank.
__ADS_1
"Tidak! Tapi ada sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan oleh Alfa."
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Ega semakin penasaran dibuatnya begitupun Ruli.
"Aku pun tak tau." Lirih Ghea. "Sudahlah, sebentar lagi kelas dimulai. Aku kembali ke kelas dulu." Ghea pamit meninggalkan Ega dan Ruli dengan segudang pertanyaan yang menari-nari di kepala mereka.
"Kok gue jadi kepikiran ucapan Ghea ya Ga. Apa mungkin terjadi sesuatu sama Alfa? Nggak mungkin kan Alfa tiba-tiba saja menghilang bagai di telan bumi kalau tidak terjadi sesuatu dengannya."
"Hust! Jangan berpikiran yang bukan-bukan." Ega menepuk pundak sahabatnya. "Ucapan dan pikiran adalah doa, jadi berhati-hatilah."
"Iya pak ustaaaaaaadz." Sahut Ruli lebay.
Tak lama kemudian dosen pengajar memasuki ruang kelas mereka. Suasana yang tadinya gaduh sekarang menjadi tenang. Dan mereka siap menerima pelajaran yang akan disampaikan oleh dosen pengajar hari ini.
*****
*****
*****
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏
__ADS_1