SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
SERATUS SATU


__ADS_3

Sore harinya setelah membantu bapaknya di klinik, Reksa berangkat ke kota tempat Seruni tinggal. Sepanjang perjalanan Reksa terus memikirkan apa yang harus dilakukannya nanti saat tiba di sana. Otaknya benar-benar buntu dan tidak tahu harus melakukan apa.


Cukup ramai lalu lintas sore itu, apalagi menjelang Maghrib banyak kendaraan yang memadati jalanan. Dengan berbekal GPS yang tadi sudah di kirim oleh Seruni lokasi rumah sakit dimana suaminya di rawat, Reksa terus melajukan mobilnya.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih empat jam, akhirnya Reksa tiba di rumah sakit. Ia langsung mencari tempat parkir kemudian segera masuk melalui lobby dan langsung menuju ke meja resepsionis.


"Sus, ruang Kamboja sebelah mana?"


"Dari sini ke kiri mas, nanti terus saja ada ruang UGD. Nah setelah ruang UGD itu ada ruang melati. Setelah ruang melati baru Kamboja." Ujar seorang perawat.


"Baik sus, terimakasih!" Reksa langsung berlari mencari ruang Kamboja di mana Alfa dirawat saat ini. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Ia harus cepat. Jika pun nantinya ia tidak bisa menolong Alfa, seenggaknya ia sudah berusaha.


Reksa mondar-mandir mencari ruang Kamboja yang ternyata lebih dari satu. Akhirnya ia memutuskan membuka ponselnya kembali untuk melihat pesan terakhir yang dikirimkan oleh Seruni. "Kamboja no.4" Reksa melangkah kembali ke ruang yang tadi dilewatinya.


Setibanya di depan ruangan tersebut, Reksa terlebih dahulu mengintip lewat kaca kecil yang berada di pintu untuk memastikan keadaan di dalam. Apakah benar dirinya tidak salah kamar? Dan ternyata benar. Ada seorang wanita yang duduk di samping sebuah brankar. Meskipun ia hanya melihat punggungnya, namun Reksa mampu mengenali siapa wanita itu.


Perlahan tangannya terulur mengetuk pintu ruangan itu. Setelah mendapat sahutan dari dalam, Reksa segera mendorong pintunya dan langsung masuk ke dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


Semua mata menatap ke arahnya tak terkecuali Seruni. Melihat kedatangan orang yang sejak tadi ditunggunya, Seruni langsung beranjak kemudian berlari menghambur ke pelukan Reksa tanpa menyadari keadaan sekitarnya. Seruni terisak-isak dalam dekapan Reksa.


"Tolong suami ku mas, tolong. Hiks.. hiks.." Isak Seruni.


"Iya, aku akan berusaha." Reksa perlahan berusaha melepas pelukan Seruni saat melihat tatapan dua orang laki-laki yang menghunus tajam ke arahnya. Namun wanita itu terlalu erat memeluknya. "Papa mertua mu melihat kita Run." Bisik Reksa pelan.


Seruni yang tersadar langsung mengurai pelukannya. Seruni celingak-celinguk seperti mencari sesuatu namun tidak menemukannya. "Mana Mbah Suro mas?"


"Maaf, bapak tidak bisa datang karena ada urusan penting yang harus dikerjakan. Makanya aku yang disuruh datang kemari."


Seruni mengangguk memaklumi. Seruni yakin jika Mbah Suro menyuruh Reksa datang kemari, sudah pasti Mbah Suro membekali anaknya untuk menolong suaminya.


"Aku bukan Tuhan yang bisa memberikan ataupun mengangkat penyakit." Jawab Reksa telak. "Namun begitu aku akan tetap berusaha dengan meminta pertolongannya." Reksa melangkah mendekati brankar di mana Alfa masih diam membisu tanpa pergerakan dengan pandangan kosong. "Ada satu cara agar Alfa bisa tertolong." Ujar Reksa membuat mata Seruni nampak berbinar lagi seolah menemukan harapan kembali.


"Apa maksud mu katakan!" Papa Zaky langsung menyahut cepat.


"Ada sebuah benda yang diambil oleh Alfa dari tempat wisata air terjun Sendang Kaputren. Cari benda itu sampai ketemu sebelum pukul dua belas malam."

__ADS_1


"Benda apa itu mas?" Tanya Seruni.


"Sejenis tusuk konde."


"Tapi dimana Alfa menyimpan benda itu? Di kamar kami tidak mungkin, karena aku tidak pernah melihatnya." Seruni memang tidak pernah melihat benda itu. "Apa di kamar Alfa yang ada di rumah Papa?" Seruni beralih menatap Papa mertuanya.


"Aku juga tidak tahu!" Ujar papa Zaky.


"Waktu kalian tidak banyak. Sekarang sudah pukul setengah sepuluh. Cepatlah bergerak!" Perintah Reksa tegas.


"Ayo Pras, kita cari di rumah." Papa Zaky langsung menarik lengan sepupunya dan segera keluar dari ruang perawatan anaknya. Papa Zaky dan om Pras berlarian menyusuri koridor rumah sakit hingga menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sana. Namun mereka tidak ambil pusing. Yang ada di pikiran papa Zaky saat ini adalah segera sampai di rumahnya untuk mencari benda tersebut. Waktu mereka tidak banyak. Dia harus sudah kembali lagi ke rumah sakit dengan membawa benda itu sebelum pukul dua belas malam nanti. Apa mereka sanggup? Sedangkan perjalanannya saja membutuhkan waktu selama satu setengah jam. Berarti mereka membutuhkan waktu kurang lebih tiga jam untuk pulang pergi. Dan waktu yang tersisa hanya dua jam setengah.


*****


*****


*****

__ADS_1


Panik nggak, panik nggak? panik lah, masa enggak? 🤭🤪🤪


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏


__ADS_2