SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
TUJUH PULUH TUJUH


__ADS_3

Seruni dan Alfa berangkat dengan menggunakan mobil butut milik Seruni. Karena mobil yang kemarin di pakai oleh Alfa adalah milik papanya. Rencananya Alfa juga sekaligus ingin mengambil motornya. Alfa lebih suka menggunakan motor daripada menggunakan mobil.


Satu jam lebih perjalanan akhirnya mereka tiba di rumah Papa Zaky. Bukan kawasan perumahan elit. Hanya perumahan sederhana saja kalangan rakyat menengah. Nampak mobil papa Zaki terparkir di halaman rumah. Pertanda bahwa sang pemiliknya berada di dalam rumah. Ada juga sepeda motor milik om Pras yang terparkir disana.


Alfa memarkirkan mobilnya di bahu jalan, karena tidak muat jika ia memasukkannya ke dalam halaman. Seruni dan Alfa turun dari mobil kemudian melangkah bersamaan memasuki halaman rumah papa Zaky yang pintunya terbuka lebar.


Samar-samar mereka dapat mendengar percakapan antara Papa Zaky dan om Pras. Namun mereka tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh keduanya.


"Saran ku waspada saja. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kedepannya." Suara om Pras menyapa indera pendengaran mereka.


Setelah mengucapkan salam, Seruni dan Alfa langsung masuk ke dalam rumah dan langsung di sambut oleh tatapan tajam om Pras yang ditujukan ke arah Seruni.


"Nah ini dia anaknya. Sekarang tanyakan saja langsung kepada anaknya daripada kamu penasaran." Ujar papa Zaky.


"Ada apa ini?" Alfa membimbing istrinya duduk di sofa ruang tamu. Alfa pun iku duduk di samping istrinya.


"Ini om kamu penasaran, kenapa kemarin ada Mbah Suro di acara pernikahan kalian?" Terang papa Zaky.


Seruni menelan ludahnya dengan susah payah. Seruni tak menyangka kalau Om dari suaminya itu tahu tentang Mbah Suro.

__ADS_1


"Papa kenal Mbah Suro?" Tanya Alfa penasaran.


"Bukan papa, tapi om kamu ini yang kenal. Biasalah sesama dukun." Jawab papa Zaky santai.


Degh!


Seruni nampak pias. Ia semakin tidak menyangka kalau Alfa juga memiliki paman seorang dukun. Seruni mencengkram ujung kaosnya erat-erat untuk melampiaskan rasa takutnya. Ya, Seruni mulai ketakutan. Takut jika om Pras mengetahui kelakuannya selama ini seperti Mbah Suro tanpa ia menceritakannya. Bukankah seorang dukun pasti memiliki kekuatan supranatural? Bisa jadi kan om Pras juga memiliki mata batin seperti halnya Mbah Suro dan Reksa?


Kaki seruni sudah melemas seolah tulangnya lolos dari persendiannya. Beruntung dirinya saat ini sudah dalam keadaan duduk. Kalau dirinya dalam posisi berdiri, sudah pasti dirinya akan ambruk.


Om Pras mulai menatap Seruni lekat. Seketika Seruni langsung menundukkan kepalanya karena takut dengan tatapan om Pras yang tajam.


Seruni yang merasa ketakutan sampai tidak menyadari bahwa dirinya saat ini menjadi pusat perhatian ketiga laki-laki yang ada di sana. Bukan hanya Papa Zaky dan om Pras saja yang ingin mengetahuinya. Tetapi juga Alfa yang dari dulu memang penasaran. Ada hubungan apa sebenarnya antara istrinya itu dengan Mbah Suro?


"Sayang," Alfa meraih tangan istrinya yang menggenggam erat ujung kaosnya. Alfa merasakan tangan istrinya yang bergetar sekaligus berkeringat. Alfa menggenggamnya erat seolah menyalurkan kekuatan. "Jangan takut, ada aku. Jawab saja pertanyaan Om Pras."


Seruni mengangkat kepalanya kemudian menatap suaminya. Alfa nampak menganggukkan kepala seolah mengisyaratkan bahwa semuanya baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Seruni pun beralih menatap Papa Zaky dan om Pras.


"Se-sebenarnya," Seruni mulai membuka suaranya meskipun terbata. "Sebenarnya Em-Mbah Suro itu saudara jauh dari almarhum Papa ku." Seruni memilih berbohong demi menjaga rahasia yang selama ini coba ditutupinya.

__ADS_1


"Hah! Kamu serius sayang?" Alfa tak percaya. Pasalnya selama ia mengenal Seruni, Seruni tidak pernah memberitahukannya kalau ia memiliki kerabat seorang dukun.


Seruni mengangguk. "Memang hubungan kekeluargaan kami tidak sedekat itu. Hanya sesekali saja saat ada acara kami pasti berkumpul." Seruni sudah mulai pandai mengarang.


"Owh!" Alfa mengangguk-anggukkan kepalanya, begitupun Papa Zaky dan om Pras yang terlihat percaya dengan apa yang dikatakan oleh Seruni.


"Baiklah kalau begitu. Aku hanya takut dia memiliki niatan jahat." Ujar om Pras.


"Tidak! Mbah Suro orang baik. Dia suka menolong orang." Sanggah Seruni.


"Baik? Suka menolong?" Om Pras terkekeh. "Itu semua karena uang. Coba saja kalau tidak ada uang, apakah dia mau menolong orang?" Cibir om Pras. "Bagaimana kamu tahu kalau dia suka menolong orang? Bagaimana kalau dia membantu orang untuk menyantet orang? Apakah kamu tahu semua itu? Tidak bukan?"


Seruni menggeleng-gelengkan kepalanya pertanda bahwa dia tidak setuju dengan ucapan Om Pras. Mbah Suro yang ia kenal bukan seperti itu. Mbah Suro yang ia kenal adalah orang baik yang mau membantunya terlepas dari kutukan yang melekat di tubuhnya.


*****


*****


*****

__ADS_1


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏


__ADS_2