SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
SEASON 2 PART 123


__ADS_3

🎶 Kemana langkah kaki ku berpijak...


Selalu ku bawa dirimu di jiwa...


Bayang-bayang menggoda halus menembus rasa...


Saat-saat bahagia telah berganti duka...


Seandainya aku mampu membuat dirimu kembali...


Hati ini tak kan beku karena merasa sendiri...


Seandainya aku mampu membuat dirimu kembali...


Hati ini tak kan beku karena merasa sendiri...


Bagai mimpi saat ku sadari...


Dirimu kini tiada.... Disisi ku lagi... 🎶


Judul lagu : Duka


Dipopulerkan oleh : Evie Tamala


*****

__ADS_1


Tetes demi tetes air mata mengiringi kepergian Seruni pagi itu. Seruni melajukan mobil bututnya tanpa arah tujuan. Ia yang kini tak lagi memiliki sanak saudara kebingungan harus pergi kemana. Tapi satu yang pasti dan saat ini menjadi tekat bulatnya. Ia harus bahagia dengan kehidupan barunya kelak.


Sejenak Seruni menghentikan mobilnya di bahu jalan. Diraihnya tas yang ia letakkan di kursi samping kemudi. Tas yang biasanya ia gunakan untuk kuliah setiap hari. Seruni meraih dompet yang ada di dalam tasnya. Dibukanya dompet itu yang hanya menyisakan beberapa lembar uang merah. Sedang ATM sang mama yang dibawanya belum pernah sekalipun Seruni mengecek isi saldonya. Entah masih dapat tunjangan dari perusahaan tempat almarhum papanya dulu bekerja atau tidak, Seruni pun tak tahu.


Saat ini yang terpenting adalah dirinya harus mendapatkan tempat tinggal terlebih dahulu. Baru setelah itu ia memikirkan untuk mencari pekerjaan. Entah siapa yang mau memperkerjakan ibu hamil seperti dirinya. Belum juga Seruni mencoba untuk melamar pekerjaan tapi sudah pesimis duluan. Bagaimana tidak, zaman sekarang mencari kerja susah. Apalagi dirinya saat ini dalam keadaan hamil besar.


Seruni melajukan mobilnya kembali. Dan kali ini tujuannya adalah showroom mobil. Ya, Seruni sudah bertekad untuk menjual barang satu-satunya peninggalan almarhum papanya. Karena setelah dipikir-pikir, dirinya pasti akan membutuhkan banyak biaya untuk proses persalinannya kelak. Belum tentu juga dirinya cepat mendapatkan pekerjaan. Jadi ia memutuskan untuk menjual mobilnya saja. Yang penting rumah jangan sampai terjual. Karena Seruni berjanji akan kembali lagi setelah berhasil menata masa depannya bersama buah hatinya kelak.


"Wah mbak, ini mobil sudah butut begini. Dua puluh juta kalau mau." Terjadi tawar-menawar antara Seruni dan petugas showroom.


"Apa nggak bisa naik lagi pak. Lima puluh juta bagaimana?" Tawar Seruni. "Saya butuh banyak biaya untuk persalinan Pak, tolonglah." Seruni menunduk sendu seraya mengelus-elus perut buncitnya.


Jelas saja petugas showroom itu tidak tega melihatnya. "Baiklah dua lima kalau begitu."


"Janganlah pak, tambahin dikit ya. Saya juga butuh uang untuk mencari tempat tinggal." Kali ini air mata Seruni yang menetes. Sebenarnya Seruni cuma beracting sedih agar harga mobilnya dinaikin. Namun kalau dipikir-pikir bukankah dirinya memang menyedihkan?


Dalam hati Seruni bersorak kegirangan. Hampir saja dirinya meloncat karena saking senangnya. Meskipun harga yang diberikan tidak sesuai dengan harga yang diinginkan tapi tak apa. Itu sudah lebih baik daripada harga awal.


Setelah mengantongi uang dari hasil penjualan mobilnya, Seruni bergegas meninggalkan showroom dengan menenteng tas besar yang berisikan pakaiannya. Beruntung letak showroom berada tepat di pinggir jalan raya. Jadi dirinya hanya perlu menunggu angkot yang lewat.


Tak berselang lama angkot pun berhenti tepat di depan Seruni. "Terminal pak!" Ujar Seruni saat memasuki angkot kemudian mencari tempat duduk. Penumpang yang penuh membuatnya sedikit sesak. Perutnya pun terasa mual. Namun ia harus bisa menahannya agar tidak muntah di dalam angkot.


Setengah jam perjalanan akhirnya Seruni tiba di sebuah terminal. Tak lupa Seruni membayar ongkosnya sebelum kemudian turun dari angkot. Sejenak Seruni terdiam. Diedarkan pandangannya mengelilingi luasnya terminal. Banyak Bus-Bus besar disana. Mungkin sopir dan kondekturnya sedang beristirahat sejenak sebelum kembali beroperasi.


Perlahan Seruni menyeret langkahnya. Namun belum jauh kakinya melangkah ada seorang laki-laki yang menghampirinya. "Mbak mau kemana?"

__ADS_1


Seruni mengangkat kepalanya guna memperhatikan orang yang berbicara kepadanya. Dilihat dari pakaiannya yang sepertinya adalah seragam karena bertuliskan nama Busnya, mungkin orang itu adalah salah satu dari kondektur bus. "Jakarta pak!" Jawab Seruni singkat.


"Mari mbak saya bantu." Orang itu tersenyum ramah kemudian meraih tas besar yang ada di tangan Seruni. Mungkin orang itu merasa kasihan melihat Seruni yang dalam keadaan hamil besar menenteng tas besar pula.


Seruni perlahan melepaskan genggaman tangannya pada tasnya. Seruni yakin bahwa orang yang saat ini berada di hadapannya adalah orang baik yang dikirimkan oleh Tuhan untuk menolongnya.


"Ayo mbak ikuti saya." Ujar orang itu kemudian berjalan terlebih dahulu dan diikuti oleh Seruni di belakangnya.


Langkah mereka terhenti saat sudah berada di samping salah satu Bus dengan tujuan Jakarta. Terlihat ada tulisan Jakarta pada kaca bagian depan. Tas Seruni langsung dimasukkan ke dalam bagasi.


"Silahkan naik mbak. Apa perlu saya bantu?"


"Tidak pak, saya bisa sendiri. Terima kasih banyak atas bantuannya." Seruni menyodorkan selembar uang merah seraya tersenyum ramah.


"Tidak usah mbak terimakasih. Memang tugas saya mencari penumpang." Tolak sang kondektur.


"Sekali lagi terimakasih pak." Seruni segera naik ke atas Bus dengan hati-hati.


Ya, satu-satunya tempat tujuan Seruni saat ini adalah Jakarta. Seruni berharap di ibukota nanti dirinya bisa membangun kebahagiaan bersama calon buah hatinya.


*****


*****


*****

__ADS_1


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏


__ADS_2