
Setelah menempuh perjalanan selama empat jam lebih, mobil yang dikendarai oleh Reksa akhirnya tiba di kediaman Seruni siang itu. Rumah yang sudah ditinggalkan oleh Seruni selama 1 tahun lebih itu nampak terlihat kusam cat temboknya. Pintu dan jendelanya nampak berdebu. Teras dan halaman rumah juga nampak kotor. Banyak dedaunan kering berserakan di halaman. Bunga-bunga yang hanya ada beberapa pot itu juga nampak kering kerontang tinggal potnya saja. Semua nampak terlihat gersang. Maklum saja, satu tahun lebih tidak ada yang merawatnya.
Seruni dan Reksa turun bersama dari dalam mobil. Mereka melangkah beriringan menuju ke teras rumah. Baby Al nampak masih tertidur lelap dalam gendongan mamanya.
"Mana kuncinya?" Reksa menadahkan tangannya.
"Ada ini di tas." Seruni berusaha mencari kunci rumahnya yang masih tersimpan rapi di dalam tasnya. Namun karena ia hanya menggunakan salah satu tangannya saja, ia nampak kesulitan.
"Sini, biar aku saja." Reksa meraih tas yang berada di tangan istrinya. "Disebelah mana?"
"Ada resleting kecil di dalam tas Mas, dan kuncinya ada di dalam situ."
Reksa segera mencarinya. Tak lama kemudian kunci rumah sudah berada di tangan Reksa. Reksa langsung membuka pintu rumah Seruni dan mereka berdua langsung disambut oleh debu dan juga bau pengap hingga membuat Seruni terbatuk-batuk.
"Uhuk.. uhuk.." Seruni langsung mundur beberapa langkah. Tangannya ia gunakan untuk melindungi anaknya agar terhindar dari debu dan kotoran.
"Sebentar. Kalian di luar dulu saja biar aku buka dulu jendelanya agar udara bisa masuk." Reksa langsung masuk ke dalam rumah dan langsung membuka seluruh jendela yang ada di rumah Seruni.
Setelah merasa udara kotor yang ada di dalam rumah sudah berganti dengan udara segar yang berasal dari luar, Reksa segera membawa masuk Seruni dan anaknya.
Seruni mengedarkan pandangannya menyusuri setiap sudut rumahnya. Dadanya terasa sesak mengingat almarhum suaminya dan juga mamanya. Bayangan saat dirinya bersama mamanya seperti nampak di setiap sudut rumah.
"Apa kamu baik-baik saja Run?" Tanya Reksa saat melihat istrinya hanya diam saja mematung.
"I-iya mas, nggak papa." Seruni mencoba mengulas senyum. "Aku masuk dulu ya mau menidurkan Alfa." Seruni melangkah menuju ke kamarnya yang pernah ditempatinya bersama almarhum suaminya.
"Iya, ayo." Reksa mengekor di belakang istrinya.
"Eh," Seruni menghentikan langkahnya. "Mas Reksa kalau mau istirahat bisa pakai kamar tamu. Atau mau pakai kamar mama?" Bukan maksud Seruni menolak sekamar dengan suaminya. Seruni hanya takut jika suaminya itu merasa tidak nyaman berada di kamarnya yang tak lain adalah kamar bekas dirinya dengan almarhum suami pertamanya. "Mas Reksa jangan salah paham dulu." Sambar Seruni cepat saat melihat suaminya mengernyitkan dahi. "Bukannya aku tidak mau sekamar dengan Mas Reksa. Aku hanya takut nantinya Mas Reksa tidak nyaman berada di kamar yang pernah aku tempati bersama Alfa." Seruni menunduk memelankan ucapannya saat menyebut nama almarhum suaminya.
__ADS_1
"Tak apa. Jangan berpikir sejauh itu. Aku bisa tidur di manapun." Reksa tersenyum guna menenangkan kegundahan istrinya. "Pasti di dalam kamar kotor, biar aku bantu membersihkannya dulu agar nyaman ditempati."
Akhirnya Seruni dan Reksa masuk ke dalam kamar yang pernah ditempati oleh Seruni dan almarhum Alfa. Benar saja, keadaan kamar memang terlihat kotor. Bahkan seprei yang melekat di atas tempat tidur pun terasa berdebu. Reksa segera menarik seprei itu kemudian menggantinya dengan yang baru. Setelah itu baru Seruni bisa merebahkan anaknya ke atas tempat tidur.
Seruni berusaha mengabaikan bayang-bayang Alfa yang nampak jelas di pelupuk matanya. Dia tidak ingin melukai hati suaminya dengan larut memikirkan almarhum suami pertamanya. Hampir di setiap sudut kamarnya dia seolah melihat almarhum suaminya yang tersenyum kepadanya.
"Istirahatlah." Reksa mengayunkan langkahnya menuju ke pintu.
"Mas Reksa mau kemana?"
Reksa membalikkan tubuhnya menatap ke arah istrinya. "Biar aku bersihkan rumah dulu."
Seruni menggeleng kemudian menepuk ruang kosong di sebelah anaknya. "Sini istirahat dulu, nanti kita bersihkan rumah sama-sama."
Mau tak mau akhirnya Reksa kembali mengayunkan langkahnya mendekati tempat tidur. "Apa tidak apa-apa aku tidur di sini?" Reksa nampak ragu. Reksa sendiri juga tidak ingin membuat istrinya merasa tidak nyaman.
Reksa segera naik ke atas tempat tidur Kemudian merebahkan tubuhnya di samping baby Al. Dimiringkannya tubuhnya menghadap ke arah istrinya. Pandangan keduanya pun bertemu. Tangan kanan Reksa terulur dan jatuh di pipi kiri Seruni.
"Terimakasih sudah mau menerima ku." Ia elus pelan pipi istrinya. Seruni terlihat memejamkan matanya seraya menganguk-angguk. "Ayo kita tidur." Seruni kembali mengangguk. Mereka berdua langsung memejamkan matanya. Mengistirahatkan tubuhnya sejenak setelah lelah melakukan perjalanan jauh.
*****
Sore harinya mereka berdua bekerja sama membersihkan rumah. Baby Al masih tertidur lelap. Sepertinya baby Al merasa nyaman. Entah itu nyaman karena diapit oleh kedua orang tuanya dalam tidurnya. Atau nyaman karena berada di rumahnya sendiri.
"Loh Run, kapan pulang?" Mendengar suara gaduh di sebelah rumahnya, Bu Ning mencoba mengintip lewat pagar rumahnya dan mendapati Seruni sedang menyapu halaman rumah.
Seruni menghentikan kegiatannya kemudian menoleh. Seulas senyum langsung tersungging di bibirnya saat melihat siapa yang menyapanya. Satu-satunya tetangga yang baik kepadanya. Seruni melangkahkan kakinya menghampiri Bu Ning yang masih melongok di atas pagar.
"Bu Ning apa kabar?" Seruni mengulurkan tangannya yang langsung dijabat oleh Bu Ning.
__ADS_1
"Baik Run. Kamu sendiri? Udah lahiran?" Bu Ning memperhatikan perut Seruni yang nampak sudah rata kembali.
"Alhamdulillah sudah Bu."
"Mana anak kamu? Cewek apa cowok?"
"Cowok Bu. Ada di dalam masih tidur."
"Owh, ya sudah nanti main ke sini ya?"
"Iya Bu." Sahut Seruni.
Mereka mencukupkan obrolannya sampai di situ karena harus melanjutkan kegiatannya masing-masing.
Tak lama kemudian lewatlah seorang ibu-ibu yang dulu pernah menghujat serta mencaci maki Seruni. "Sudah pulang Run? Darimana saja? Mengejar selingkuhan mu yang kabur setelah menghamilimu?"
Degh!
Sudah satu tahun lebih mereka tidak bertemu, namun kata-kata wanita itu masih saja menusuk hati. Seruni hanya diam saja dan tidak ingin menanggapi ucapan wanita itu.
Karena tidak mendapat respon dari lawan bicaranya, ibu-ibu itu pun mengedarkan pandangannya dan mendapati Reksa berdiri di depan pintu dengan menggendong baby Al. Senyum sinis pun langsung tercipta di bibir wanita itu. "Pantes!" Ucap wanita itu kemudian berlalu pergi.
*****
*****
*****
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏
__ADS_1