SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
ENAM PULUH EMPAT


__ADS_3

Seruni nampak membolak-balikkan tubuhnya di atas tempat tidur. Malam semakin larut, namun Seruni masih belum bisa memejamkan matanya. Sesekali ia melirik ke arah sofa yang tidak terlalu jauh dari tempat tidurnya. Ada Alfa yang sudah terlelap di sana. Suara petir pun masih terdengar menyambar-nyambar hingga ke dalam kamarnya.


Seruni mendudukkan tubuhnya. Saat ia menurunkan kakinya dari atas tempat tidur, tiba-tiba saja Seruni kembali menaikkan kakinya. Entah mengapa Seruni merasa ada dorongan kuat dari dalam dirinya yang seolah memintanya untuk menghampiri Alfa. Namun Seruni sekuat tenaga menahannya. Ia berusaha mengendalikan dirinya sendiri. Seruni tidak ingin kejadian yang dialaminya dulu terulang kembali.


Dulu mungkin Seruni tidak mengetahui keadaan dirinya. Namun sekarang Seruni sudah mengerti. Bahwa bukan hanya ada dirinya sendiri di dalam tubuhnya. Melainkan ada jiwa lain yang bersemayam di dalam tubuhnya.


"Tidak! Aku harus bisa menahannya. Ini bukan keinginan ku." Gumam Seruni merebahkan tubuhnya kembali seraya menarik selimutnya hingga menutupi kepalanya. Namun tak berapa lama ia kembali membuka selimutnya kemudian melirik kembali ke arah sofa.


Dan pada akhirnya sekuat apapun Seruni mencoba menahannya, Seruni tetap kalah karena dorongan di dalam dirinya jauh lebih kuat. Seruni kembali menurunkan kakinya kemudian melangkah perlahan menghampiri sofa, tempat di mana Alfa tertidur lelap.


Langkah Seruni tiba-tiba terhenti ketika jarak antara dirinya dan sofa sudah semakin dekat. Nampak Alfa membuka matanya, membuat Seruni mematung.


"Run," Alfa langsung terduduk. Sedangkan Seruni terlihat salah tingkah. "Ada apa? Apa kamu nggak bisa tidur?"


"I-iya!" Seruni tergagap karena kaget, antara sadar dan tidak sadar.


"Apa perlu aku temenin?" Tawar Alfa.

__ADS_1


"Ya! Eh, tidak!" Jawab Seruni reflek menepuk mulutnya. Lancang sekali mulutnya itu. Dasar mulut tidak ada rem. Seruni merutuki mulutnya sendiri.


Duuuuuuaaar!!


Suara petir kembali menyambar. Membuat Seruni langsung berlari menghampiri Alfa dan langsung memeluknya. Alfa yang tidak siap punggungnya langsung menghantam sandaran sofa. Beruntung sofa tersebut empuk, jadi punggungnya tidak terasa sakit.


"Ayo aku temenin." Alfa beranjak dari duduknya masih sambil memeluk Seruni. Mereka pun melangkah menuju tempat tidur tanpa melepaskan pelukan.


Alfa langsung ikut membaringkan tubuhnya di samping Seruni. "Tidurlah." Tangan Alfa perlahan melingkar memeluk Seruni.


Sejenak Seruni menahan nafasnya. Berada dalam jarak seintim ini membuatnya merasa tak nyaman. Hati dan pikirannya memberontak, tapi tubuhnya berkhianat. Tubuhnya malah terasa nyaman dalam dekapan Alfa. Sialan bukan?! Tapi itulah kenyataannya.


"Kenapa? Masih belum bisa tidur?" Alfa bertanya tanpa membuka matanya. Seruni hanya menggelengkan kepalanya. Alfa akhirnya membuka matanya kembali. "Lagi mikirin apa?" Lagi-lagi Seruni menggeleng.


Tiba-tiba saja tangan Seruni terulur dan berhenti tepat di rahang Alfa. Seruni perlahan mengelus rahang itu hingga membuat sang empunya memejamkan mata.


"Kamu milik ku, dan sebentar lagi akan menjadi milik ku seutuhnya." Lirih Seruni.

__ADS_1


Alfa langsung membuka matanya kembali. "Ya, aku milik mu dan kamu milik ku." Alfa mendekatkan wajahnya ke wajah Seruni.


Karena sudah mendapatkan lampu hijau dari Seruni, Alfa pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dikecupnya dahi Seruni lama seraya memejamkan matanya, seolah Alfa sangat menikmati momen ini. Begitupun Seruni, Seruni juga memejamkan matanya seolah ikut menikmatinya.


Dan entah siapa yang memulai, kedua anak manusia itu sudah saling memagut. Bahkan tangan Alfa sudah mulai membuka kancing baju Seruni satu persatu. Bahkan Seruni membiarkan semua itu. Entah dirinya sadar atau tidak. Yang pasti esok dirinya pasti akan menyesali apa yang terjadi malam ini.


Alfa yang sudah berhasil membuka seluruh kancing baju Seruni, langsung melemparnya begitu saja. Pagutan mereka terlepas. Alfa menyusuri leher Seruni kemudian turun ke bawah hingga sampai di kedua bukit milik calon istrinya yang sudah tidak terhalang apapun lagi karena pembungkusnya sudah ia lempar bersamaan dengan bajunya tadi. Sejenak Alfa memperhatikannya. Masih nampak ranum seperti saat pertama ia menikmatinya.


Alfa pun segera menikmatinya dengan rakus layaknya seorang musafir yang kehausan di tengah padang pasir. Jangan tanya bagaimana Seruni. Seruni tentu saja menyambutnya dengan suka cita. Akhirnya kedua insan itu melebur menjadi satu. Diiringi suara rintik hujan serta petir yang menjadi saksi atas penyatuan mereka.


*****


*****


*****


Wooooaahh emak sedang kilap ini 🙈🙈 Bacanya nanti aja pas udah buka puasa yaa 🤣🤣🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️

__ADS_1


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏


__ADS_2