SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
SEASON 2 PART 129


__ADS_3

Tanpa membuang waktu Reksa segera melangkahkan kakinya mendekati nakas. Diraihnya bingkai foto itu kemudian diperhatikannya dalam-dalam. Ya, memang benar perempuan yang ada di dalam foto itu sangat mirip dengan Seruni. Wanita yang sampai saat ini masih menempati relung hatinya. Hanya saja rambutnya terlihat lebih panjang. Lalu siapakah balita ini? Apakah dia anaknya Seruni? Sekilas jika diperhatikan balita kisaran umur 3 bulan itu mirip seperti? Alfa! Ya, Alfa! Tapi jika benar Seruni sudah melahirkan, bukannya seharusnya anaknya sudah lebih besar dari balita yang ada di foto itu? Reksa bergelut dengan pikirannya sendiri.


Foto itu memang diambil saat usia baby Alfa genap 3 bulan. Ada satu album penuh yang berisikan foto-foto Alfa dari lahir hingga saat ini berusia 10 bulan.


"Siapa ini Bu?" Tanya Reksa menunjukkan foto yang berada di tangannya.


"Owh, itu anak dan cucu ibu Rek. Dia sekarang ada di depan menjaga minimarket."Terang Bu Risma. "Kenapa?"


"Nggak papa Bu." Reksa kembali meletakkan bingkai foto itu ke atas nakas. Apa mungkin mereka hanya mirip saja? Pikir Reksa. Tapi kalau hanya mirip saja kenapa bisa kebetulan seperti itu. Balita kecil itu juga sekilas mirip dengan Alfa. Entahlah Reksa tak ingin menerka-nerka yang akhirnya membuat dirinya kecewa dengan sebuah harapan.


Bu Risma hanya menceritakan kepada Reksa bahwa anak laki-lakinya meninggal karena kecelakaan. Bu Risma tidak mengatakan berapa jumlah anaknya. Jadi Reksa mengira kalau wanita yang ada di foto itu benar-benar anak Bu Risma dan hanya memiliki kemiripan dengan Seruni. Mungkin itu semua efek dari kerinduannya kepada sang pujaan hati.


Reksa berbalik. "Kamar yang lainnya Bu?"


"Ayo ikuti ibu. Ibu tunjukkan kamar almarhum anak ibu." Bu Risma melangkah duluan di depan diikuti oleh Reksa di belakang.


Ceklek!


Kamar itu masih rapi seperti semula karena Mbak Yanti selalu rajin membersihkannya. Setiap seminggu sekali Mbak Yanti tidak pernah lupa untuk mengganti spreinya meskipun kamar itu tidak pernah ada yang menempatinya.


Reksa masuk ke dalam kamar itu hanya sebentar saja karena dia tidak menemukan keganjilan di sana. "Apa masih ada kamar lagi Bu?"


"Masih ada satu kamar lagi yaitu kamar kami." Jawab Bu Risma yang sudah mulai was-was karena dari sekian banyak ruangan Reksa belum juga menemukan tanda-tanda keanehan.


"Apa boleh saya melihatnya Bu?"


"Tentu saja boleh. Ayo!" Bu Risma pun kembali berjalan menuju ke kamarnya sendiri diikuti oleh Reksa.


Tepat di depan kamarnya sendiri, Bu Risma sedikit merasa gemetar saat akan memegang handle pintu kamarnya. Tidak biasanya ia seperti ini. Biasanya juga dirinya keluar masuk kamarnya tanpa ada rasa aneh seperti yang dirasakannya saat ini.


Reksa pun yang sudah berdiri di samping Bu Risma juga merasakan aura yang sangat kuat. "Kenapa Bu?" Tanya Reksa saat melihat Bu Risma terdiam sejenak.


"Ti-tidak."

__ADS_1


"Buka saja jangan takut. Ada saya disini." Ujar Reksa yang diangguki oleh Bu Risma. Bu Risma pun bersiap memutar handle pintu kamarnya.


Ceklek!


Wuuuuuussshhh!!!


"Astaghfirullah....." Reksa tersentak saat hawa panas kembali menampar permukaan kulitnya. Dan kali ini rasanya berkali-kali lipat lebih panas. Namun semua itu hanya Reksa yang bisa merasakannya. Bu Risma sama sekali tidak merasakan hal itu.


"Ada apa Rek?" Bu Risma nampak pias. Pasalnya kali ini Reksa berucap dengan suara keras.


"Sepertinya di sini ada yang tidak beres Bu." Sahut Reksa.


"Apa maksudnya? Ibu tidak mengerti." Antara takut dan penasaran.


"Boleh saya masuk dulu Bu?"


"Iya, masuklah." Bu Risma membuka pintu kamarnya lebar-lebar. Reksa pun melangkah masuk ke dalam kamar.


"Astaghfirullah...." Ucap Reksa lagi yang membuat Bu Risma semakin pias berkali-kali. "Apa ibu ingin tahu siapa yang selama ini mengganggu keluarga ibu?"


"Baiklah, saya akan mencoba berkomunikasi dengannya. Barangkali dia mau menampakkan wujudnya di siang hari." Reksa langsung memejamkan matanya seraya membacakan doa-doa di dalam hatinya untuk berkomunikasi dengan makhluk tak kasat mata yang saat ini sedang berada di belakang pintu kamar Bu Risma.


Namun tak berselang lama Reksa sudah kembali membuka matanya. Gelengan di kepalanya menandakan bahwa dirinya saat ini tidak berhasil membujuk makhluk itu untuk menampakan wujudnya.


"Kalau ibu memang benar-benar ingin melihatnya, maka kita tunggu nanti malam saja. Untuk saat ini saya tidak berhasil membujuknya."


"Baiklah tak apa. Kita tunggu nanti malam saja."


"Ya sudah ayo kita ke depan Bu, sepertinya di depan juga ada." Ujar Reksa membuat Bu Risma mengernyitkan dahinya.


"Di depan? Di minimarket?" Tanya Bu Risma nampak terkejut.


"Ya! Tadi saat saya melewatinya saya juga merasakan ada sesuatu yang ganjil di sana." Reksa melangkahkan kakinya keluar dari kamar.

__ADS_1


"Ayo-ayo kalau gitu kita ke sana." Bu Risma segera menutup pintu kamarnya.


Saat mereka berdua melewati ruang tamu, tak lupa Bu Risma pamit kepada suaminya. "Titip bapak ya mbak, ibu mau ke depan dulu."


"Siap Bu, beres!" Ucap mbak Yanti.


Tanpa membuang waktu Bu Risma dan Reksa segera melangkah menuju ke minimarket lewat pintu depan. Dan benar saja, saat Bu Risma mendorong pintu kaca minimarket itu hawa panas kembali menampar kulit permukaan Reksa. Dan kali ini Reksa cukup beristighfar berkali-kali di dalam hatinya saja.


"Siang Bu." Sapa Fani saat melihat bosnya memasuki minimarket bersama seorang laki-laki tampan.


"Siang Fan." Balas Bu Risma. "Mana Runi?"


Degh!


Reksa kembali tersentak saat Bu Risma menyebut nama Runi. Apakah dirinya tidak salah dengar? Apakah Runi itu adalah Seruninya? Gemuruh di dalam dada Reksa seolah meletup-letup.


"Lagi ke belakang Bu, katanya tadi mules." Jawab Fani.


"Al-" Belum juga Bu Risma melanjutkan ucapannya, sudah terdengar tangisan dari anak kecil yang cukup melengking. "Eh, itu Alfa nangis." Lanjut Bu Risma.


Degh!


Jantung Reksa kembali berdetak tak karuan saat mendengar nama Alfa disebut. Tidak salah lagi, itu pasti benar Seruninya. Reksa langsung melangkah mencari sumber suara tangisan itu seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.


Degh!


Langkah Reksa terhenti. Suaranya terasa tercekat di tenggorokan saat ia melihat seorang balita laki-laki duduk di depan sebuah lemari es seraya menangis dengan kencangnya. Bukan karena tangisannya yang membuat Reksa tercekat. Namun wajah balita itu benar-benar mirip dengan almarhum Alfa, suami Seruni.


*****


*****


*****

__ADS_1


Masih aman nggak Mas jantung mu? 🤭😂😂


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏


__ADS_2