
"Sayang, kamu nggak salah bawa aku kesini?" Alfa masih keheranan karena tidak mengerti dengan tujuan calon istrinya itu membawa dirinya ke tempat ini.
Seruni menoleh, kata-kata sayang yang barusan di ucapkan oleh Alfa membuatnya terkejut. "Sayang?" Beo Seruni.
"Ya, kamu kan calon istri ku." Tegas Alfa mengklaim Seruni sebagai calon istrinya.
"Sudahlah, ayo kita turun." Seruni membuka sabuk pengamannya kemudian segera turun.
Alfa meskipun nampak ragu tetap mengikuti Seruni turun dari mobil. Mereka beriringan melangkah menuju rumah yang ada di samping klinik, yaitu rumah Mbah Suro. Seruni mengulurkan tangannya mengetuk pintu rumah tersebut. Tak butuh waktu lama pintu rumah di buka dari dalam oleh Mbak Asih, pembantu rumah tangga Mbah Suro yang bekerja dari pagi hingga sore.
"Eh, mbak siapa ya? Lupa saya, hehe...." Mbah Asih terkekeh sendiri.
"Seruni mbak." Sahut Seruni.
"Owh iya, mbak Seruni. Mari masuk mbak, mas." Mbak Asih mempersilahkan mereka masuk. "Silahkan duduk dulu. Mbah Suro dan mas Reksa masih di sebelah. Tadi mas Reksa sudah bilang sama saya, kalau mbak Seruni capek bisa langsung istirahat ke kamar." Mbak Asih menunjuk kamar tamu yang dulu ditempati oleh Seruni dan Faya. "Saya ke belakang dulu mbak, permisi." Mbak Asih masuk ke belakang setelah tamunya duduk di ruang tamu.
"Siapa Mbah Suro? Siapa Reksa?" Tanya Alfa dengan suara pelan.
"Sssttt!" Seruni meletakkan jari telunjuknya ke depan bibirnya. Menandakan agar Alfa tak banyak bertanya.
Tak berselang lama Mbak Asih sudah kembali dengan membawa minuman. Alfa yang baru saja akan membuka suaranya kembali mengatupkan bibirnya. Ingin rasanya Alfa menggigit telinga Seruni yang berada tepat di sampingnya karena gemas. Ia sejak tadi di buat penasaran oleh calon istrinya itu. Ada urusan apa sebenarnya calon istrinya itu hingga membawanya mendatangi tempat praktek dukun.
"Silahkan di minum mbak, mas, saya permisi lagi."
"Terimakasih mbak Asih." Ucap Seruni seraya menyunggingkan senyum.
__ADS_1
"Sama-sama mbak Run." Mbak Asih pun berlalu.
Tepat saat mbak Asih tiba di dapur kembali, Reksa nampak membuka pintu penghubung antara rumahnya dengan klinik. "Sudah tiba mbak?"
"Iya mas, barusan." Jawab mbak Asih. "Tapi bukan sama sahabatnya yang dulu."
"Maksud mbak, Faya?"
"Iya itu, tapi sama laki-laki mas." Mbak Asih merendahkan suaranya di akhir ucapannya.
"Iya saya tahu. Ya sudah saya ke depan dulu."
"Monggo mas."
"Sudah lama?" Tanya Reksa saat tiba di ruang tamu.
Seruni dan Alfa menoleh. "Mas," Seruni berdiri di ikuti Alfa. Seruni mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Reksa. Kemudian Reksa beralih berjabat tangan dengan Alfa.
"Silahkan duduk." Reksa mendudukkan tubuhnya di sofa depan mereka berdua. Seruni dan Alfa pun kembali duduk. "Pasien hari ini lumayan banyak. Kamu nggak papa kan jika harus menunggu?" Reksa menatap ke arah Seruni. Dan semua itu tidak lepas dari pandangan Alfa.
"Iya, tidak papa mas. Saya akan menunggu hingga selesai." Seruni mengulas senyum kemudian menundukkan kepalanya. Seruni tidak tahan dengan tatapan sendu Reksa. Matanya terasa memanas. Namun dengan sekuat tenaga ia mencoba menahannya agar tidak sampai menetes.
Alfa sejak tadi hanya diam saja memperhatikan interaksi keduanya. Reksa yang menatap lekat ke arah Seruni dengan tatapan sendu. Dan Seruni yang menundukkan wajahnya karena sepertinya tidak kuat dengan tatapan Reksa.
Ada gemuruh hebat yang membuat dadanya terasa panas. Alfa tidak terima calon istrinya di tatap seperti itu oleh laki-laki lain. Timbul pertanyaan, apakah Seruni sudah pernah datang ke sini? Apakah Seruni sudah sering bertemu dengan laki-laki ini? Kalau memang seperti itu, ia tidak akan membiarkan laki-laki itu mendekati calon istrinya. Sebagai sesama laki-laki, Alfa tentu tau tatapan apa yang di tujukan Reksa kepada Seruni. Ada cinta di kedua bola mata sendu itu.
__ADS_1
"Kalau kalian lelah, kalian bisa beristirahat. Tapi maaf, kamarnya cuma ada satu." Reksa menunjuk kamar tamu.
"Tak masalah, toh kami sebentar lagi juga akan menikah." Sahut Alfa dengan suara yang sedikit ketus. Seruni pun terkejut dengan ucapan Alfa. Seruni langsung menginjak kaki Alfa hingga membuat Alfa kesakitan.
"Auw, sayang." Alfa sengaja mengeraskan suaranya agar laki-laki yang ada di depannya itu tahu diri, kalau Seruni adalah miliknya.
Seruni melotot tajam ke arah Alfa. Namun Alfa tak ambil pusing. Yang terpenting dia harus memutus harapan laki-laki yang ada di depannya itu.
"Baiklah, saya permisi dulu karena masih banyak yang harus saya kerjakan."
"Ya, pergilah!" Sahut Alfa cepat. Dan lagi-lagi Seruni menginjak kakinya. "Auw, sayang. Belum apa-apa sudah kaderete."
"Bisa diam nggak?!" Mata Seruni kembali melotot.
"Iya aku diam." Pasrah Alfa.
"Ya sudah, saya permisi dulu." Cepat-cepat Reksa masuk ke dalam lagi karena tidak ingin melihat drama antara Seruni dan Alfa.
*****
*****
*****
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏
__ADS_1