SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
SEMBILAN PULUH SATU


__ADS_3

Dengan meminta bantuan tetangganya untuk mengangkat Alfa ke dalam mobil, pagi itu akhirnya Seruni berhasil membawa suaminya ke rumah sakit. Ya, mama Amara berlarian keluar dari rumah untuk mencari bantuan karena tidak mungkin dan tidak akan sanggup jika mereka berdua harus membawa Alfa masuk ke dalam mobil. Kondisi Alfa yang sama sekali tidak ada respon itu membuat mereka kesulitan. Seandainya saja hanya sekedar demam mungkin Alfa masih bisa berjalan keluar rumah. Tapi ini Alfa sama sekali tidak membuka matanya. Mungkin karena efek demam yang terlalu tinggi hingga membuatnya tak kuasa membuka mata dan hanya menggigil layaknya orang kedinginan serta bergumam tidak jelas.


"Tidak ada masalah yang serius. Hanya demamnya saja yang terlalu tinggi. Saya sudah memasang infus, kita tunggu sampai demamnya turun."


Penjelasan sang dokter membuat ketiga orang yang sejak tadi harap-harap cemas itu akhirnya bisa bernafas lega. Papa Zaky yang tadi mendapat telepon dari mama Amara yang mengabarkan bahwa anaknya sedang sakit langsung melesat begitu saja. Beruntung hari masih terlalu pagi karena baru pukul setengah enam. Jadi ia bisa mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bahkan perjalanan yang seharusnya di tempuh dalam waktu kurang lebih satu setengah jam itu hanya ditempuhnya dalam waktu kurang dari satu jam. Entah seperti apa rasanya jika berada dalam mobil bersama papa Zaky tadi. Mungkin bagi orang yang memiliki riwayat penyakit jantung sudah pasti akan langsung wasalam saat itu juga. Beruntung pula tidak sampai berurusan dengan petugas kepolisian yang biasanya berpatroli. Mungkin hanya sedikit makian dan cacian serta umpatan dari pengendara yang lain. Tidak masalah bagi papa Zaky karena itu hal yang biasa.


"Nanti kalau demamnya sudah turun dan pasien sudah tidak lemas lagi, pasien sudah bisa di bawa pulang." Lanjut sang dokter yang hanya di angguki oleh ketiganya.


"Terimakasih dok." Ucap Seruni saat sang dokter pamit undur diri bersama seorang perawat.


"Om, eh papa kalau mau kerja nggak papa kerja aja. Alfa kan sudah baik-baik saja." Meskipun Alfa belum membuka matanya tapi setidaknya Alfa sudah tidak menggigil lagi dan bergumam-gumam tidak jelas seperti tadi.


"Tidak masalah, papa sudah izin untuk tidak masuk kerja hari ini."

__ADS_1


"Owh ya sudah." Seruni tidak mungkin kan mengusir mertuanya? "Atau mungkin Papa sama Mama mau cari sarapan dulu?"


"Ya, sepertinya itu ide bagus." Sahut papa Zaky. "Ayo Ra." Papa Zaky langsung mengalihkan pandangannya ke arah mama Amara.


"Eh iya, ayo." Mama Amara sedikit tersentak, namun dengan cepat bisa menguasai diri. "Mama cari sarapan dulu kalau begitu Run. Kamu mau dibawain makan apa?"


"Apa saja terserah mama."


"Baiklah."


Hidup selama satu bulan bersama suaminya itu sudah mampu membuat hatinya tertambat dengan laki-laki yang sebelumnya sama sekali tidak membuat hatinya bergetar. Hanya Reksa, ya hanya Reksa! Eh, tidak, tidak! Lupakan itu semua! Sekarang hanya ada Alfa suaminya di dalam hatinya. Ya, hanya Alfa seorang dan tidak ada yang lain.


Menjelang siang panas di tubuh Alfa sudah mulai menurun dan Alfa juga sudah bisa membuka matanya. Ya, benar kata dokter. Itu semua hanya efek demam yang terlalu tinggi saja. Dan sekarang buktinya Alfa sudah bisa membuka matanya saat demamnya sudah berangsur turun.

__ADS_1


"Aku dimana?" Tanya Alfa saat membuka matanya. Namun sedetik kemudian ia mulai sadar saat pandangannya mengedar menelusuri penjuru ruangan. "Kenapa aku dibawa ke rumah sakit?"


"Kamu tadi pagi demam tinggi Al, sampai tak sadarkan diri. Akhirnya aku dan mama membawa mu ke rumah sakit." Sahut Seruni seraya memberikan usapan lembut pada tangan suaminya.


Sore harinya Alfa sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Kondisinya cukup baik dan tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Demamnya sudah turun dan Alfa juga sudah terlihat sehat seperti sedia kala. Namun dokter tetap mewanti-wanti agar Alfa selalu menjaga kesehatannya. Dan jika malam kembali demam, dokter meminta Seruni untuk mengompresnya saja.


Setelah mendengarkan penjelasan sang dokter dan juga menebus obat di apotik, sore itu akhirnya mereka meninggalkan rumah sakit. Seruni, Alfa dan mama Amara kembali ke kediaman mereka. Sedangkan papa Zaky langsung pamit pulang ke kotanya karena dirasa anaknya itu sudah kembali sehat.


*****


*****


*****

__ADS_1


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏


__ADS_2