
"Loh Mas, kita mau kemana?" Tanya Seruni keheranan karena jalan yang ditempuh oleh suaminya bukan jalan menuju ke arah rumahnya. Seruni pikir tadinya suaminya itu mencari jalan alternatif lainnya sebab jalan yang biasa dilewatinya macet karena ada kecelakaan.
"Ke rumah sakit." Jawab Reksa singkat.
"Ke rumah sakit?" Beo Seruni. Pikiran Seruni mulai menerka-nerka. Apalagi saat mobil yang dikendarai oleh suaminya itu tepat berada di belakang mobil ambulans. Dan saat kedua mobil ambulans itu berbelok memasuki pelataran rumah sakit, mobil yang dikemudikan oleh suaminya pun ikut berbelok masuk.
"Ayo kita turun." Reksa melepaskan sabuk pengamannya kemudian segera membantu melepaskan sabuk pengaman istrinya.
"Mas, jangan bilang kalau-" Seruni tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Seruni langsung membekap mulutnya dengan air mata yang sudah berlinang.
Reksa mengangguk. "Tenang dulu ya." Reksa menghapus air mata istrinya menggunakan tangannya. "Apa kita pulang saja?"
"Tidak!" Seruni menggeleng. "Aku ingin melihatnya."
"Kamu yakin?"
Seruni langsung mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka akhirnya turun dan melangkah bersamaan masuk ke dalam rumah sakit. Setelah terlebih dahulu bertanya kepada seorang resepsionis yang berjaga di mana letak ruangan korban kecelakaan yang baru saja masuk, keduanya langsung melangkah menuju ke ruang jenazah.
Sesampainya di depan ruang jenazah, ada dua orang polisi yang berjaga di sana. Mereka berdua langsung diintrogasi oleh pihak kepolisian. Seruni pun mengaku bahwa dirinya adalah menantu dari korban. Seruni sendiri bingung harus bagaimana. Namun saat dirinya kebingungan, ada satu nama yang melintas di kepalanya. Kevin! Ya Kevin!
"Mas, tolong ambilkan ponsel ku di tas." Seruni meminta bantuan kepada suaminya karena ponselnya ada di dalam tas kecil yang tertinggal di dalam mobil. Reksa pun segera berlari menuju ke tempat parkir.
Tak berselang lama Reksa sudah kembali dengan membawa tas istrinya. Ia langsung mencari ponsel istrinya di dalam tas itu dan langsung memberikannya kepada sang istri.
__ADS_1
"Masih aktif nggak ya?" Gumam Seruni seraya mengotak-atik ponselnya mencari nomor Kevin, kakak iparnya. Sebenarnya semua nomor sahabatnya dan nomor orang-orang terdekatnya masih tersimpan rapi di dalam ponselnya. Dia dulu hanya mengganti nomor teleponnya saja bukan mengganti ponselnya.
"Nomor siapa?" Tanya Reksa penasaran.
"Kak Kevin, kakaknya Alfa."
"Owh!" Reksa kembali terdiam saat istrinya menempelkan benda pipih ke telinganya.
"Hallo kak, ini Runi." Ternyata nomor itu masih aktif. "Segera datang ke rumah sakit X sekarang. Aku tunggu. Nanti aku jelasin. Iya sekarang!" Tut! Seruni segera mematikan sambungan teleponnya agar kakak iparnya itu segera datang ke rumah sakit.
Seruni dan Reksa memilih menunggu di lobby rumah sakit. Sebenarnya Reksa tidak tega melihat baby Al yang masih kecil harus ikut ke rumah sakit. Namun istrinya tidak mau diajaknya pulang.
Butuh waktu sekitar hampir satu jam mereka menunggu Kevin yang akhirnya datang ke rumah sakit seorang diri. Mereka berdua langsung beranjak dari duduknya saat melihat Kevin menghampirinya.
Kevin nampak mendengus kasar. "Kamu ke mana saja selama ini? Apa itu anak kamu?"
"Mas," Seruni menarik baju bagian belakang suaminya agar suaminya itu menyingkir dari hadapannya. Reksa yang paham langsung berpindah ke sebelah istrinya lalu menggenggam erat tangan istrinya.
Kevin yang melihat itu hampir saja terbakar emosi. Namun Seruni yang paham keadaan segera mengalihkan perhatian kakak iparnya itu.
"Kak, ada sesuatu yang jauh lebih penting dari semua pertanyaan kakak." Sambar Seruni cepat sebelum ada gencatan senjata di antara keduanya.
"Apa?"
__ADS_1
"Mas, tolong anterin kak Kevin ke dalam. Biar aku menunggu di sini saja." Seruni memilih meminta tolong kepada suaminya. Reksa pun mengangguk dan langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
Awalnya Kevin hanya diam saja karena belum mengerti dengan situasi. Namun saat dirinya melihat anggukan kepala dari Seruni, Kevin segera mengikuti Reksa. Reksa yang menyadari kalau Kevin sudah berjalan di belakangnya, langsung menegurnya.
"Lain kali jaga sikap. Saya nggak mau istri saya dipeluk oleh orang sembarangan." Ujar Reksa sedikit memelankan langkahnya.
"Istri?" Beo Kevin nampak terkejut mendengar kata istri.
"Ya! Seruni istri saya. Jadi tolong jaga sikap kamu."
Kevin hampir saja menyuarakan keberatannya, namun ekor matanya nampak melihat dua orang berseragam coklat di depan sana. Kevin semakin dibuat kebingungan saat langkah mereka berhenti tepat di depan ruang jenazah.
Kevin tertegun saat salah satu dari anggota kepolisian itu menunjukkan foto plat nomor yang tadi sempat diambilnya seraya menjelaskan dugaan sementara kronologi kecelakaan. Memang masih dugaan sementara karena masih dalam penyelidikan.
"I-iya betul itu plat mobil papa saya." Suara Kevin terasa tercekat di tenggorokan. Sebenci-bencinya ia kepada papanya, namun ikatan darah diantara keduanya tetap mengalir. Kevin segera menghubungi satu-satunya keluarga papanya yang masih tersisa yaitu Om Pras. Kevin sendiri sebenarnya tidak terlalu dekat dengan Omnya itu.
*****
*****
*****
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏
__ADS_1