SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
TUJUH PULUH DELAPAN


__ADS_3

Alfa merasa lega, itu artinya antara Reksa dan istrinya masih terikat saudara. Tapi bukankah mereka hanya saudara jauh? Tidak ada yang tidak mungkin kan? Yang harus ia lakukan adalah jangan sampai dirinya memberi peluang Reksa untuk dekat dengan istrinya.


"Baiklah, aku hanya mengingatkan agar kalian berhati-hati dan tetap waspada." Ucap om Pras mengakhiri kecurigaannya.


Alfa dan Seruni hanya mengangguk. Mereka tidak ingin pembahasan mengenai Mbah Suro semakin panjang. Alfa pun segera mengalihkan pembicaraan dengan mengutarakan tujuannya datang kesini.


"Oh ya Pa, apa di kantor Papa tidak ada lowongan pekerjaan?"


"Siapa memangnya yang membutuhkan pekerjaan? Kamu?" Tanya papa Zaky menatap anaknya yang langsung diangguki oleh Alfa. "Terus bagaimana dengan kuliah kamu kalau kamu ingin bekerja?"


"Kalau ada yang bisa sambil kuliah. Jadi aku nggak perlu berhenti kuliah. Aku sekarang sudah berkeluarga Pa, jadi aku bertanggung jawab untuk menafkahi istri ku."


"Ya, papa tau. Sekarang fokus kuliah saja dulu, biar nanti Papa cari tahu di kantor."


"Terimakasih Pa!"


"Terus bagaimana dengan kuliah mu? Mau tetap di sini apa pindah di kampus istri mu? Di sana juga ada Kevin kakak mu."

__ADS_1


"Jangan!" Seruni menyahut cepat membuat mereka bertiga langsung menatapnya kebingungan dengan respon yang diberikan olehnya. "Eem, maksud ku begini." Seruni menjeda ucapannya sejenak. "Bukan maksud ku menutupi pernikahan ini, hanya saja aku belum siap kalau teman-teman ku tahu aku sudah menikah. Pernikahan ini terkesan terburu-buru. Pasti mereka bakalan mikir yang bukan-bukan." Seruni menunduk sendu. "Bagaimana kalau Alfa tetap kuliah di sini?" Lirih Seruni. Sebenarnya bukan hanya itu alasannya melarang Alfa untuk pindah kuliah di universitasnya. Tetapi juga Seruni takut suaminya itu mengetahui kelakuannya.


Seruni tidak bisa membayangkan bagaimana jika suaminya itu tahu mengenai dirinya. Pasti suaminya itu akan kecewa. Yang lebih parahnya lagi, suaminya itu bisa langsung menceraikannya kalau tahu dirinya sering tidur bersama laki-laki lain. Ia tidak sanggup jika di usianya yang masih dini harus menyandang status janda muda. Pasti hari-harinya dipenuhi dengan cibiran. Tidak! Seruni selama ini sudah kenyang dengan cibiran dan hujatan, jadi dia tidak akan sanggup lagi menanggungnya.


"Tapi disini jauh sayang, perjalanan dari sana ke sini saja membutuhkan waktu satu jam lebih."


"Tidak masalah, kamu bisa tinggal di rumah Papa."


"Mana bisa begitu?" Alfa tidak terima dengan usul yang diberikan oleh istrinya. Kalau seperti itu bukankah artinya dirinya akan berjauhan dengan istrinya? Tidak! Alfa tidak mau itu. Ia ingin selalu dekat dengan istrinya, bukannya malah berjauhan.


"Tapi kan kamu nantinya juga bekerja di sini. Jadi alangkah baiknya jika kamu tinggal di rumah Papa saja. Kamu kan bisa pulang seminggu sekali." Usul Seruni lagi.


"Ayolah Al, jangan kayak anak kecil yang maunya nempel terus. Toh kita masih bisa bertemu."


"Sudah, sudah! Nanti kalian rundingkan saja di rumah. Jangan membuat Papa pusing." Sahut Papa Zaky menyela perdebatan di antara anak dan menantunya. Seruni dan Alfa pun langsung mengatupkan bibirnya.


Om Pras yang ikut pusing melihat perdebatan mereka memilih pamit undur diri.

__ADS_1


"Ayo kita ke kamar saja ambil baju." Alfa menarik tangan istrinya, beranjak dari duduknya kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Seruni memasukkan baju-baju suaminya ke dalam tas ransel. Tidak semuanya dibawa, karena pasti suaminya itu membutuhkannya saat tinggal disini atau sekedar singgah.


Setelah dirasa cukup, mereka segera pamit pulang. Sesuai dengan rencananya tadi, bahwa dirinya akan membawa motornya dan istrinya yang mengendarai mobil.


"Mobil mu yang dulu kemana Al?"


"Owh itu, itu sebenarnya mobil papa. Udah ditukar papa sama yang ini." Alfa menunjuk mobil papanya yang ada di halaman.


"Owh!" Seruni hanya membulatkan bibirnya. "Ya sudah ayo!" Seruni langsung masuk ke dalam mobilnya kemudian melesatkan mobilnya dengan kecepatan normal. Alfa pun segera menancap gas motornya mengikuti sang istri dari belakang.


*****


*****


*****

__ADS_1


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏


__ADS_2