SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
ENAM PULUH SEMBILAN


__ADS_3

Satu bulan berlalu, hari pernikahan pun tiba. Prosesi ijab qobul akan dilaksanakan pukul sembilan pagi ini. Seruni sudah siap dengan pakaian kebayanya. Namun ia masih berada di dalam kamar ditemani oleh kedua sahabatnya yang tak lain adalah Faya dan Ghea. Sedangkan mama Amara dengan dibantu oleh Mama Gita mempersiapkan segala sesuatunya di ruang tamu yang nantinya akan digunakan sebagai tempat ijab qobul.


Tidak ada pesta mewah karena Seruni ingin pesta pernikahannya diadakan sesederhana mungkin. Bahkan undangan saja mereka tidak membuatnya. Karena memang tidak ada rencana untuk mengundang teman-temannya. Hanya sahabat mereka saja yang akan menjadi tamu undangannya. Mungkin di tambah dengan para tetangga sekitar rumah. Sudah itu saja. Mereka nantinya yang akan menjadi saksi pernikahan antara dirinya dan Alfa.


"Aku deg-degan sumpah." Ujar Seruni yang tangannya sudah berkeringat. Faya dan Ghea hanya terkekeh.


"Apa kamu sudah mengabari Mbah Suro, Run?" Tanya Faya.


"Sudah dua hari yang lalu. Kata mas Reksa kalau ada waktu akan menyempatkannya datang." Faya dan Ghea mengangguk bersamaan.


Pukul delapan pagi Pak RT serta Lurah setempat sudah datang bersamaan para tetangga kanan kiri rumah mama Amara. Mereka pun langsung mengambil duduk di ruang tamu yang sengaja dibuat lesehan karena kursinya sudah dipindahkan. Hanya tertinggal meja pendek saja yang nantinya akan dipakai sebagai tempat ijab qobul.


Tak berselang lama datanglah Pak penghulu bersamaan dengan kedatangan Mbah Suro dan anaknya. Mbah Suro dan Reksa langsung ikut duduk bersama yang lainnya. Sedangkan pak penghulu dan satu orang temannya duduk di balik meja bersama Om Gio, papanya Faya yang nantinya akan menjadi saksi dari pihak mempelai wanita.


Di detik-detik menuju pukul sembilan, barulah mobil Om Zaky memasuki halaman rumah mama Amara. Ada lima orang di dalam mobil tersebut. Ada om Zaky yang duduk di balik kemudi. Di samping kursi kemudi ada om Prasetyo, yang tak lain adalah saudara sepupu om Zaky. Sedangkan di kursi belakang ditempati oleh Alfa, Ega dan Ruli.


Mereka berlima turun dari mobil kemudian bersamaan melangkah masuk ke dalam rumah. Om Pras nampak terhenyak saat melihat Mbah Suro duduk diantara tamu undangan.


Setelah berhasil menguasai diri, om Pras langsung ikut duduk bersama Alfa dan papanya di depan pak penghulu. Om Pras nantinya yang akan menjadi saksi dari mempelai prianya. Sedangkan Ega dan Ruli mengambil posisi duduk di belakang mereka.

__ADS_1


"Karena mempelai prianya sudah datang, boleh dipanggilkan mempelai wanitanya?" Pinta pak penghulu.


"Baik pak, tunggu sebentar." Mama Amara langsung bangkit kemudian menuju ke kamar anaknya.


Saat Mama Amara masuk ke dalam kamar anaknya, anaknya itu terlihat sedang dirangkul oleh kedua sahabatnya.


"Sayang, sudah siap?" Mama Amara melangkah mendekati anaknya.


"Su-sudah ma." Memang susah menyembunyikan rasa grogi.


Mama Amara tersenyum seolah menenangkan putrinya. "Jangan takut, ada mama. Tarik nafas dulu biar rileks." Seruni pun mengikuti ucapan mamanya.


Degh!


Pandangan Seruni dan Reksa bertemu saat Seruni tiba di ruang tamu. Jantung keduanya pun sama-sama berdenyut nyeri. Hampir saja Seruni terjatuh karena tidak kuat lagi menopang berat badannya. Tungkai kakinya terasa melemas.


"Eh Run." Mama Amara dan Faya langsung merengkuh Seruni.


Alfa langsung beranjak dari duduknya kemudian menghampiri calon istrinya. Tanpa aba-aba Alfa langsung menggendong tubuh Seruni kemudian mendudukkannya di depan Pak penghulu. Alfa pun langsung ikut duduk di samping Seruni.

__ADS_1


Semua orang paham. Mungkin mempelai wanitanya deg-degan, grogi atau apalah itu istilahnya. Bahkan semua orang yang menikah pasti merasakannya.


"Apa sudah bisa kita mulai?" Suara pak penghulu memecah keheningan yang tercipta sesaat.


"Sudah pak, silahkan." Sahut om Zaky.


"Mempelai pria dan wanitanya apakah sudah siap?"


"Sudah pak!" Jawab Alfa tegas. Sedangkan Seruni hanya mengangguk pelan. Sejak tadi Seruni hanya menundukkan kepalanya. Sesekali ia mengusap air matanya yang tiba-tiba mengalir dari sudut matanya.


"Baiklah, mari kita mulai." Pak penghulu mengulurkan tangannya yang langsung dijabat oleh Alfa.


"BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM........"


*****


*****


*****

__ADS_1


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏


__ADS_2