
Rumah kediaman Mbah Suro nampak sunyi sepi. Bukan hanya rumah Mbah Suro saja, tapi rumah-rumah di sekitarnya juga seperti tidak ada penghuninya. Mungkin bagi mereka yang mengetahui profesi Mbah Suro yang tak lain adalah sebagai seorang dukun, mereka pasti akan ketakutan dan tidak akan berani menginjakkan kakinya di kediaman Mbah Suro malam-malam begini.
Mbak Asih yang notabennya sebagai pembantu rumah tangga Mbah Suro saja belum pernah menginjakkan kakinya di rumah Mbah Suro pada malam hari. Karena memang jam kerja Mbak Asih dari pukul lima subuh hingga pukul empat sore. Mungkin kalau banyak kerjaan, sebelum maghrib baru pulang ke kediamannya.
Selepas isya' lampu klinik sudah di padamkan. Tinggal lampu rumah saja yang masih menyala terang. Penghuninya pun nampak anteng di dalam rumah.
Saat ini Mbah Suro sudah bersiap duduk bersila di atas tikar yang ada di dalam ruangan yang biasanya dijadikan tempat untuk bersemedi. Ada Reksa juga disana. Namun Reksa hanya di minta untuk menjaga rumah selama Mbah Suro tidak ada di tempat.
"Sebenarnya bapak mau kemana?" Reksa benar-benar penasaran ke mana bapaknya itu akan pergi.
"Bapak hanya sebentar Rek, bapak ingin menemui seseorang."
"Iya, tapi siapa?"
"Belum saatnya kamu tahu."
"Baiklah, hati-hati! Segera kembali jika urusannya sudah selesai."
__ADS_1
Mbah Suro hanya mengangguk kemudian segera memejamkan matanya. Tak berselang lama Sukma Mbah Suro sudah melayang meninggalkan raganya yang di jaga oleh anaknya.
Reksa hanya bisa menghela nafasnya pelan. Saat tidak ada yang bisa ia kerjakan seperti ini, ia malah teringat dengan kejadian tadi pagi. Dimana ia harus merelakan cintanya menikah dengan orang lain di depan matanya sendiri. Sebenarnya Reksa enggan untuk datang ke acara tersebut, namun bapaknya memaksanya untuk ikut. Jadi ia tidak bisa membantah permintaan bapaknya itu.
*****
"Selamat malam kang." Sapa Mbah Suro saat tiba di gubuk yang di huni oleh sepasang suami istri yang sudah renta.
Suami istri itu pun nampak terkejut. "Suro?" Seru Ki Sanusi yang langsung berdiri dari tempatnya duduk. Begitupun dengan Nyi Centini.
Ya, saat ini sukma Mbah Suro sudah tiba di air terjun Sendang Kaputren. Hingga membuat Ki Sanusi dan Nyi Centini yang saat itu sedang duduk di depan warungnya pun terkejut karena kedatangannya yang tiba-tiba tanpa pemberitahuan.
Mendengar rentetan pertanyaan dari Ki Sanusi, Mbah Suro hanya tersenyum menanggapinya. "Aku ada perlu dengan Nyi Sukmawati." Jawab Mbah Suro langsung ke intinya.
"Nyi Sukmawati? Darimana kau mengenalnya?" Tanya Ki Sanusi yang semakin penasaran.
"Dia sendiri yang mendatangi ku kang."
__ADS_1
"Baiklah, ayo ikut dengan ku." Ujar Ki Sanusi. "Nyai istirahatlah dulu, tutup pintunya."
"Baik aki." Nyi Centini pun patuh dengan perintah suaminya.
Mbah Suro langsung mengikuti Ki Sanusi yang melangkah menuju ke salah satu kamar penginapan yang ada di Sendang Kaputren. Lebih tepatnya kamar yang terletak paling ujung. Yaitu kamar yang dulu pernah ditempati oleh Seruni dan Alfa.
Sesampainya di dalam kamar tersebut, ternyata sudah ada sesaji di atas tikar pandan. Ki Sanusi langsung duduk bersila diikuti oleh Mbah Suro. Saat Ki Sanusi memejamkan matanya, Mbah Suro pun mengikutinya tanpa banyak bertanya. Keduanya sama-sama saling merapalkan mantra.
Tak berselang lama, datanglah seseorang yang memang mereka harapkan kehadirannya. Siapa lagi kalau bukan Nyi Sukmawati. Seorang wanita cantik, nampak anggun, dengan memakai kebaya hitam serta selendang merah. Rambut di sanggul dengan banyaknya cunduk serta mbang mantul (Perlengkapan yang ada di atas sanggul. Bisa di lihat dalam manten adat Jawa).
Namun sayangnya mbang mantul (Tusuk konde) yang berjumlah tujuh itu hanya tinggal enam saja, karena yang satunya saat ini berada di tangan Alfa.
*****
*****
*****
__ADS_1
Sudah mulai masuk ke inti ceritanya ya, sesuai dengan judulnya yang mengandung mistis 🤭
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏