SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
LIMA PULUH EMPAT


__ADS_3

Hari Minggu pun tiba. Seperti yang dikatakan oleh Seruni dua hari yang lalu, hari ini Seruni akan pergi ke tempat Mbah Suro. Seruni berangkat bersama Alfa saat Faya sudah tiba di kediamannya untuk menjaga mamanya. Tentunya mereka tidak lupa untuk berpamitan kepada Mama Amara terlebih dahulu. Anehnya Mama Amara bahkan tidak bertanya ke mana anaknya itu akan pergi bersama Alfa. Jadi Seruni tak ambil pusing. Malah ia merasa bersyukur karena tidak harus mencari alasan untuk membohongi mamanya. Tepat pukul delapan pagi mereka meninggalkan kediaman mama Amara.


Dan kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Mama Amara. Mama Amara langsung mencecar Faya karena mama Amara yakin Faya tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan anaknya.


"Fa!"


"Eh, Tante." Faya yang masih berdiri di teras terlonjak karena tak menyadari Mama Amara sudah berdiri di belakangnya.


"Masuk! Ngapain berdiri di sini."


"Eh, iya Tan." Faya mengekori mama Amara yang masuk terlebih dahulu.


Mama Amara mendudukkan tubuhnya di sofa depan televisi. Mau tak mau Faya pun ikut mendudukkan tubuhnya di sana, namun di sofa yang berbeda. Sejenak mereka saling terdiam. Faya sudah ketar-ketir. Alarm tanda bahaya seolah sudah menyala di kepalanya layaknya sirine ambulan.


"Tante tau, kamu adalah sahabat Seruni yang paling mengerti dirinya. Dan Tante tau, kamu tidak akan pernah menghianati anak tante." Mama Amara menjeda sejenak ucapannya. Faya masih belum paham maksud ucapan Mama Amara. "Tapi bukankah harusnya ada pengecualian untuk Tante?"


"Eem, maksud tante apa ya? Faya nggak ngerti." Faya memang benar-benar tidak paham dengan maksud ucapan Mama Amara.

__ADS_1


"Huuuft, ceritakan semua yang kamu tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan anak tante tanpa ada satupun yang kamu tutupi dari tante!" Tegas mama Amara.


Faya nampak kesusahan menelan salivanya. Dia saat ini berada di posisi serba salah. Dia sudah berjanji kepada Seruni untuk menjaga rahasia ini rapat-rapat dari siapapun termasuk mamanya. Apalagi mama Amara saat ini baru saja keluar dari rumah sakit. Bagaimana kalau nanti mama Amara anfal lagi? Pasti dirinya yang akan dituduh sebagai penyebabnya.


"Se-Seruni baik-baik saja kok Tan."


"Kamu yakin tidak sedang membohongi tante?"


"I-iya!" Sahut Faya cepat namun tergagap.


"Tante seperti orang tua yang tidak berguna karena tidak tahu apa yang terjadi dengan anak sendiri. Mana mungkin Tante bisa baik-baik saja kalau anak tante sendiri tidak baik-baik saja?" Semakin deras air mata yang mengalir membasahi pipi Mama Amara.


"Tante," Faya bangkit dari tempatnya duduk kemudian menghampiri Mama Amara. Faya langsung mendudukkan tubuhnya di samping Mama Amara kemudian memeluknya. "Ada aku Tan, aku janji akan menjaga Seruni dan menemaninya melewati semua ujian yang saat ini menimpanya."


Mama Amara mengurai pelukannya. "Tante mohon Fa, ceritakan semua yang kamu tahu sama tante. Tante janji tidak akan memberitahu Runi kalau kamu yang sudah memberitahu tante."


Faya terdiam. Dia di landa dilema. Tante Amara meraih tangan Faya kemudian menggenggamnya erat. "Please, Tante mohon. Jangan biarkan tante menjadi orang tua yang tidak berguna untuk anak tante."

__ADS_1


Akhirnya Faya pun menyerah. Faya menganggukkan kepalanya. Mama Amara segera mengusap kedua pipinya yang basah kemudian membetulkan posisi duduknya agar lebih enak mendengarkan Faya bercerita. Faya pun demikian. Sebelum memulai bercerita, Faya terlebih dahulu menghirup udara banyak-banyak untuk memenuhi paru-parunya.


Setelah dirasa cukup, Faya memulai bercerita. Sebuah cerita yang berawal dari saat mereka mendatangi sebuah tempat wisata yang diberi nama air terjun Sendang Kaputren. Hingga hari-hari kelam yang dilewati oleh Seruni. Faya menceritakan semuanya dan tidak menutupinya sedikitpun. Tidak seperti Seruni yang hanya bercerita sepotong-potong saja dan lebih banyak yang ditutupinya.


"Hiks.. hiks.." Tangis mama Amara tumpah mengiringi cerita Faya. "Aku memang orang tua yang tidak berguna." Mama Amara memukuli dadanya yang terasa sesak sekaligus nyeri. Membuat Faya panik.


"Tante, Tante jangan seperti ini." Faya meraih kedua tangan Mama Amara. "Seruni pasti bisa melalui semua ini. Kita bantu doa sama-sama ya." Faya mencoba menenangkan Mama Amara. "Ayo Faya bantu Tante masuk ke kamar biar Tante bisa istirahat dulu." Faya langsung berdiri kemudian membantu Mama Amara masuk ke dalam kamarnya. Tak lupa Faya juga mengambilkan Mama Amara minum agar lebih tenang.


Setelah mama Amara berhasil menenangkan diri. Mama Amara pun langsung merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Akhirnya Faya bisa bernafas lega karena mama Amara tidak sampe anfal saat mendengar ceritanya. Namun semua itu hanya dugaan Faya saja. Nyatanya mama Amara meringis merasakan nyeri di dadanya. Namun mama Amara berusaha terlihat baik-baik saja.


*****


*****


*****


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2