
"MA!" Seruni langsung merangsek masuk saat pintu rumahnya berhasil di dobrak. Satu tempat yang langsung ditujunya yaitu dapur. Karena jam segini biasanya mamanya itu berada di dapur. Faya mengekor di belakangnya. Sedangkan para bapak-bapak yang tadi membantunya masih berada di teras rumah.
"MA!" Teriak Seruni lagi saat tiba di dapur dan tidak menemukan keberadaan mamanya disana. Dapur nampak sunyi sepi dan masih terlihat rapi. Bahkan saat Seruni membuka tudung saji di atas meja makan, tidak ada apa pun yang tersaji di balik tudung saji itu.
Seruni semakin di buat kalang kabut karena tidak biasanya mamanya seperti ini. Apa mamanya itu sedang sakit? "Ayo Fa, kita lihat mama di kamar. Aku takut mama lagi nggak enak badan." Seruni langsung melangkahkan kakinya menuju ke kamar mamanya diikuti oleh Faya yang setia berada di sampingnya.
Faya sendiri tidak ingin jauh-jauh dari Seruni karena khawatir dengan kondisi sahabatnya itu. Apalagi disaat-saat panik seperti ini. Faya yakin sahabatnya itu tak sekuat dulu. Ada nyawa lain juga yang menjadi pertimbangannya untuk tetap berada disisi Seruni.
Tok.. Tok.. Tok..
"Ma!" Seru Seruni sedikit pelan karena tak ingin mengejutkan sang mama. "Ini Runi ma, boleh Runi masuk?" Hening, tidak ada sahutan sama sekali dari dalam. "Apa mama baik-baik saja?" Masih sama, hening! Seketika itu rasa khawatir Seruni memuncak karena sama sekali tidak mendapat respon dari mamanya. Dengan perasaan yang menggebu Seruni langsung memutar handel pintu dan langsung menerobos masuk ke dalam kamar mamanya. "Ma!" Suara Seruni tercekat saat melihat pemandangan yang tersaji di depan matanya. "MAMA!" Teriak Seruni berhambur menghampiri mamanya yang tergeletak di samping tempat tidurnya.
"TANTE!" Faya pun ikut terkejut bukan kepalang.
"Mama! Hiks.. hiks.." Seruni langsung meluruh ke lantai. Diangkatnya kepala sang mama kemudian di letakkan di atas pangkuannya. Ditepuknya pelan pipi sang mama. "Mama hiks.. hiks.. bangun ma."
"Tante, bangun tan." Faya pun ikut mengguncang pelan tubuh mama Amara.
"Fa, panggil bapak-bapak tadi biar bantu angkat mama. Kita bawa mama ke rumah sakit."
__ADS_1
Faya mengangguk dan langsung melesat keluar dari kamar menuju ke teras rumah. Beruntung bapak-bapak itu masih berada disana. "Pak! Tolong pak, tolong."
"Loh, ada apa? Apa yang terjadi?" Tanya salah satu dari mereka.
"Tan-tante Amara pingsan!" Deru nafas Faya beradu hingga membuatnya terbata.
Sontak saja bapak-bapak itu langsung berlarian masuk ke dalam rumah. Meskipun belum pernah memasuki rumah mama Amara hingga ke dalam, namun insting mereka mampu melacak keberadaan kamar mama Amara. Buktinya mereka dengan mudah menemukan kamar mama Amara. Karena memang di rumah itu hanya ada beberapa ruangan saja.
"Astaghfirullah....."
"Pak, tolong mama saya pak hiks.. hiks.."
Bapak-bapak itu langsung sigap membantu mengangkat tubuh mama Amara. Namun saat tangan mereka menyentuh tubuh mama Amara, mereka merasa ada yang aneh dengan tubuh mama Amara. Dingin dan sedikit kaku! Ya, itulah yang mereka rasakan. Mereka pun saling pandang hingga suara salah satu dari mereka mengembalikan kesadaran mereka.
"Loh pak, kenapa Mama saya malah dibaringkan di atas tempat tidur. Saya ingin segera membawanya ke rumah sakit Pak, jadi tolong angkat mama saya ke mobil." Pinta Seruni memohon.
Tidak ada yang berani membuka suaranya sedikit pun. Namun salah satu dari mereka mencoba memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan kiri mama Amara kemudian pindah ke leher dan juga memeriksa nafas mama Amara dari depan hidung.
"Innalillahi wainnailaihi rojiuun." Orang itu menggeleng.
__ADS_1
"Tidak, tidak! Apa yang bapak katakan. Tidak!" Seruni langsung berhambur merengkuh tubuh mamanya yang terbujur kaku di atas tempat tidur. "Mama! Hiks.. hiks.. bangun ma!"
Faya yang ikut syok perlahan menyeret langkahnya mendekati tempat tidur. Namun tak sengaja kakinya menyandung sesuatu. Langkah Faya pun terhenti. Ia kemudian berjongkok guna mengambil sesuatu yang membuat langkahnya terhenti. "Botol apa ini?" Diperhatikannya botol kecil itu yang bertuliskan, "Obat penyakit jantung?" Alis Faya mengernyit. Pandangannya mengedar menelusuri lantai sekitar dan mendapati beberapa butir pil di sekitarnya. Faya pun segera memungutnya satu persatu.
Setelah berhasil mengumpulkan beberapa butir pil, Faya kemudian berdiri dan langsung menunjukkan botol beserta pil tersebut kepada Seruni. "Run, aku menemukan ini."
Seruni perlahan menoleh kemudian meraih barang tersebut dari tangan Faya. Dan tangisannya kembali tergugu saat mengetahui benda tersebut yang tak lain adalah obat yang ternyata selama ini dikonsumsi oleh mamanya tanpa pengetahuannya. Seruni pikir mamanya itu sudah sembuh, namun ternyata ia salah.
"MAMA! Hiks.. hiks.." Teriak Seruni tergugu seraya memeluk tubuh mamanya. "Kenapa mama tidak bilang ke Runi kalau mama masih sakit. Hu.. hu.. hu.. Kenapa mama memendamnya seorang diri? Hiks.. hiks.."
"Yang sabar ya Run." Ucap salah satu dari bapak-bapak itu. "Mungkin semalam penyakit mama kamu kambuh."
Ya, Seruni membenarkan ucapan bapak-bapak itu. Dan sialnya dirinya tidak ada di samping mamanya tadi malam disaat penyakit Mamanya itu kambuh. Sungguh penyesalan tinggallah penyesalan. Dan semua itu sudah tiada guna lagi saat raga sudah tidak lagi bernyawa.
*****
*****
*****
__ADS_1
Ending part ini bikin mewek 🤧🤧
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏