SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
ENAM PULUH DELAPAN


__ADS_3

Pukul satu dini hari mereka baru masuk ke dalam rumah karena udara di luar sudah semakin dingin serasa menusuk ke dalam tulang. Seperti biasa, Alfa, Ega dan Ruli menempati kamar tamu yang ada di rumah Ghea. Sedangkan Seruni dan Faya selalu tidur di kamar Ghea.


Saat Seruni merangkak naik ke atas kasur, tiba-tiba ponselnya yang baru saja diletakkan di atas nakas berbunyi tanda pesan masuk. Seruni, Faya dan Ghea saling pandang. Siapa yang mengirim pesan dini hari begini? Begitulah kira-kira yang ada di dalam pikiran mereka saat ini.


Seruni kembali menyeret tubuhnya ke tepi ranjang. Ya, saat tidur bersama kedua sahabatnya itu Seruni selalu berada di tengah, diapit oleh Faya dan Ghea. Segera diraihnya ponselnya itu dan langsung di bukanya. Satu nama yang sejak tadi memang sedang ditunggunya, Reksa! Namun betapa kecewanya saat Seruni membaca pesan dari Reksa.


[Ya] -Reksa-


Hanya satu kata, tidak lebih. Raut sendu pun langsung tercetak jelas di wajah Seruni, membuat Faya dan Ghea keheranan. Faya langsung menyambar ponsel dalam genggaman Seruni kemudian membacanya. Ghea pun tak mau kalah. Ghea juga langsung menyambar ponsel dalam genggaman Faya.


Ghea memang mengerti siapa itu Reksa karena sudah mendengar cerita dari sahabatnya. Namun yang menjadi pertanyaannya adalah, kenapa wajah Seruni langsung murung setelah membaca pesan dari Reksa? Karena merasa penasaran, akhirnya Ghea memberanikan diri bertanya. "Kenapa?" Ghea menatap Seruni yang hanya dijawab dengan gelengan kepala. Kemudian Ghea beralih menatap Faya. Namun Faya hanya terdiam tidak berani mengatakan yang sebenarnya tanpa persetujuan Seruni.


"Baiklah kalau kalian memang tidak menganggap ku sebagai sahabat lagi." Ujar Ghea karena kedua sahabatnya memilih untuk diam.


"Bukan begitu Ghe." Sanggah Seruni.


"Biar aku saja yang jelasin kalau kamu tidak sanggup Run." Sahut Faya yang langsung diangguki oleh Seruni. Faya pun langsung menceritakan kepada Ghea kalau sebenarnya Seruni tidak mencintai Alfa melainkan mencintai Reksa. Seruni mau menikah dengan Alfa hanya karena ingin segera terbebas dari kutukan yang membelenggu dirinya.


"Pilihan yang sulit." Celetuk Ghea. "Antara cinta dan kebebasan." Imbuh Ghea. "Apa kamu sudah berpikir matang-matang saat kamu mengambil keputusan untuk menikah dengan Alfa? Karena dengan begitu kamu harus siap untuk merelakan cinta mu."


Bukannya menjawab Seruni malah menangis terisak. Faya dan Ghea langsung bersamaan memeluk sahabatnya itu.

__ADS_1


"Aku takut jika aku memilih cinta ku, aku akan tetap seperti ini. Aku malah akan membuat Mas Reksa kecewa dengan kelakuan j@1@n9 ku ini. Mas Reksa berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari diriku yang kotor ini."


"Huuuft!" Faya dan Ghea bersamaan menghela nafas. Mereka ikut pusing memikirkan kehidupan sahabatnya yang rumit itu. Sebenarnya jika bisa, Mereka ingin membantu. Namun mereka bingung harus melakukan apa. Karena sepertinya masalah ini hanya Seruni sendiri yang dapat menyelesaikannya.


"Sudah, nggak usah dipikirkan. Semoga keputusan yang kamu ambil ini sudah tepat. Ayo sekarang kita tidur. Besok kita harus kuliah." Ujar Ghea. Akhirnya mereka bertiga bersamaan merebahkan tubuhnya.


*****


Seruni dan Faya sudah tiba di kampus pagi ini. Kelas mereka akan di mulai pukul sembilan nanti. Masih ada waktu sekitar satu jam lagi.


"Fa, titip tas dulu ya."


"Mau kemana?"


"Baiklah, jangan lama-lama. Ingat, kamu sudah terlalu sering bolos."


"Ish, iya bawel." Seruni segera beranjak dari duduknya kemudian melesat keluar dari kelas.


Seruni langsung menuju ke kelas Kevin. Namun sayangnya saat ia tiba di sana Kevin tidak ada di dalam kelas. Seruni kemudian langsung menuju kantin. Dan benar saja, nampak Kevin sedang duduk di salah satu bangku kantin bersama teman-temannya. Seruni pun memberanikan diri menghampirinya.


"Kak, apa bisa bicara sebentar." Sontak saja Seruni menjadi pusat perhatian seantero kantin.

__ADS_1


Tanpa berkata apapun Kevin langsung beranjak dari duduknya kemudian menarik tangan Seruni meninggalkan kantin. Kevin membawa Seruni ke belakang kampus untuk yang kedua kalinya.


"Duduklah." Kali ini tidak ada hempasan kasar seperti dulu.


Seruni pun menurut. Seruni langsung mendudukkan tubuhnya di bangku panjang tersebut. Kevin pun ikut mendudukkan tubuhnya di samping Seruni.


"Kalau kamu hanya ingin memberitahukan ku tentang rencana pernikahan kalian tidak perlu. Aku sudah mendengarnya dari papa. Dan aku tidak peduli!" Tegas Kevin yang membuat Seruni urung.


Ya, memang tujuan Seruni berbicara dengan Kevin adalah untuk memberitahukan rencana pernikahannya dengan Alfa, yang tak lain adalah saudara Kevin sendiri. Lebih tepatnya saudara tiri.


"Maaf!" Ucap Seruni menundukkan kepalanya.


"Maaf untuk apa?" Kevin terkekeh. "Tidak usah merasa bersalah begitu."


Seruni sendiri juga bingung. Untuk apa dirinya meminta maaf kepada Kevin? Kalau memang dirinya merasa bersalah atas penolakannya dulu, bukankah dirinya sudah meminta maaf? Tapi kenapa rasa bersalah itu masih ada? Entahlah....


*****


*****


*****

__ADS_1


Siap-siap masuk ke konflik utama 🤭 pegangan yang kenceng gaess 🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏


__ADS_2