
Suara tangis baby Alfa yang tadinya melengking seketika berhenti saat melihat seseorang tengah menghampirinya. Hanya tinggal sesenggukannya saja yang kini masih tersisa.
"Pa.. pa.. pa.." Wajah gembul penuh air mata itu terlihat menarik sedikit ujung bibirnya hingga tercipta sebuah senyuman. Mungkin baby Alfa merasa senang karena Akhirnya ada yang menolongnya dari makhluk yang sejak tadi berada di dekatnya. Sebenarnya tidak mengganggu, hanya saja karena wujudnya yang seram hingga membuat baby Alfa ketakutan.
Reksa yang tadi sempat tertegun, kesadarannya mulai kembali saat mendengar balita yang ada di depannya saat ini memanggilnya papa. Papa? Apa dirinya tidak salah dengar? Apa benar balita yang ada di depannya itu tadi memanggilnya dengan sebutan papa? Perlahan kaki Reksa kembali melangkah menghampiri baby Alfa.
"Astaghfirullah..." Reksa langsung meraih baby Alfa ke dalam gendongannya hingga membuat baby Alfa nampak senang bukan kepalang. Terlihat dari tingkahnya yang menepuk-nepuk kedua tangannya seraya berceloteh pa.. pa.. pa..
"Ada apa Rek?" Bu Risma yang sejak tadi berada di dekat Reksa tidak berani mendekat. Entah mengapa semenjak Reksa mengatakan bahwa ada yang mengganggunya, Bu Risma jadi merasa merinding dan sedikit takut.
"Sayang!" Teriak Seruni berlari mencari keberadaan anaknya setelah keluar dari toilet. Seruni tadi sempat mendengar suara tangisan anaknya. Dia tadi juga lupa menitipkan anaknya kepada Fani karena sudah kebelet. Jadi dirinya tadi langsung lari begitu saja masuk ke dalam toilet tanpa menghiraukan keberadaan anaknya.
Bu Risma dan Reksa pun langsung menoleh ke arah sumber suara.
Degh!
Pandangan mereka bertemu. Seruni hampir saja limbung kalau dirinya tidak cepat berpegang pada rak yang ada di sampingnya. Begitupun Reksa. Reksa juga tersentak. Meskipun sebelumnya dirinya sudah mengira-ngira, namun tetap saja dirinya merasa benar-benar terkejut saat melihat Seruni yang saat ini berada tepat di depan matanya.
"M-Mas Reksa ke-kenapa bisa ada disini?" Meskipun tergagap-gagap Seruni berusaha berbicara dengan normal.
"Loh, kalian sudah kenal?" Bu Risma terlihat terkejut.
__ADS_1
Seruni dan Reksa saling pandang, namun keduanya masih sama-sama terdiam. Mungkin mereka berdua sedang berusaha meredam gemuruh yang ada di dalam dada mereka masing-masing.
"Pa.. pa.. pa.." Celotehan baby Alfa membuat Seruni tersadar.
"Sini sayang." Seruni pun segera meraih anaknya dari gendongan Reksa. Seruni membawa anaknya menuju ke meja kasir. Diraihnya beberapa lembar tisu yang ada di sana guna menyeka air mata anaknya yang masih membasahi kedua pipinya. Seruni meraih gendong yang ada di atas meja kasir kemudian segera menggendong anaknya.
Sedangkan Reksa masih terdiam di tempat seraya menatap ke arah punggung Seruni yang perlahan menjauhinya. Sepertinya dirinya masih belum tersadar. Hingga suara dari Bu Risma membuatnya tersentak.
"Rek," Panggil Bu Risma.
"I-iya Bu." Cepat-cepat Reksa mengalihkan pandangannya dari punggung Seruni ke arah Bu Risma.
"Seperti yang ada di rumah Bu." Jawab Reksa disertai seulas senyum agar kliennya itu tidak merasa khawatir. Reksa melangkahkan kakinya mendekat ke arah kasir.
"Baiklah." Kali ini giliran Bu Risma yang mengikuti Reksa. "Oh ya, apa kalian saling mengenal?" Tanya Bu Risma penasaran. Tidak mungkin kan jika mereka tidak saling mengenal Seruni bisa tahu nama Reksa.
"Ya!" Jawab Reksa singkat. Reksa menghentikan langkahnya tepat di belakang Seruni yang masih berdiri di depan meja kasir. "Run," Panggil Reksa pelan. "Apa kabar?"
"Ba-baik. Mas Reksa apa kabar?" Seruni tidak berani menoleh karena saat ini dirinya sedang menyusui baby Alfa. Ya, sejak kecil memang Seruni tidak mengizinkan anaknya untuk meminum susu formula. Seruni pikir tidak ada gunanya juga memberikan anaknya susu formula sedangkan ASI-nya tidak bermasalah dan amat sangat lancar. Bukankah ASI jauh berkali-kali lipat lebih baik dari apapun? Apalagi dirinya juga bukan seorang wanita karir yang harus meninggalkan anaknya demi pekerjaan. Jadi dia tidak akan pernah menyia-nyiakan apa yang sudah diberikan oleh Tuhan. Karena tidak semua wanita bisa menyusui anaknya.
"Seperti yang kamu lihat. Aku baik, tapi tidak dengan hati ku."
__ADS_1
Degh!
Kali ini Seruni yang tersentak. Dadanya bergemuruh. Perasaan yang dulu pernah ada dan sudah dikuburnya dalam-dalam kini seolah mencuat kembali. Tidak! Hanya Alfa! Hanya Alfa! Seruni berusaha mensugesti hatinya sendiri bahwa hanya Alfa almarhum suaminya lah yang akan selalu ada di hatinya.
"Apa kamu sengaja ingin menghindari ku?"
Seruni menggeleng. Karena memang bukan itu alasan dia pergi.
"Lalu kenapa kamu pergi?"
Tes! Air mata Seruni menetes begitu saja. "Karena memang aku harus pergi!" Jawab Seruni kemudian berlari dengan menggendong anaknya yang hampir saja terlelap melewati pintu belakang.
*****
*****
*****
kejutannya nunggu malam tiba ya 🤭 siapkan jantung, jangan sampai nanti pingsan 😂
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏
__ADS_1