SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
TIGA PULUH DELAPAN


__ADS_3

Seruni, Faya, Ghea dan juga temannya sudah berada di dalam sebuah foodcourt. Beberapa cemilan dan juga minuman pun sudah terhidang di atas meja. Sejenak mereka berempat saling terdiam.


Seruni perlahan menghela nafasnya. Sebenarnya ia merasa ragu untuk menceritakan apa yang dialaminya selama ini kepada Ghea, karena ada sahabat Ghea di sana. Seruni mencoba memilih kata-kata yang sekiranya pantas untuk diucapkan namun tidak mengumbar aibnya.


Seruni memilih berkata seperlunya saja dan akan menceritakan semuanya nanti saat hanya ada mereka bertiga, yaitu Seruni, Faya dan Ghea saja. Rasanya tidak sopan jika harus mengusir sahabat Ghea dari sana hanya untuk berbicara.


Mama Amara yang sejak tadi mengikuti anaknya bersama mama Gita memilih duduk di kursi yang tidak jauh dari kursi yang ditempati oleh anaknya. Seruni dan Faya pun tidak menyadari keberadaan mamanya karena fokus dengan Ghea. Mama Amara memasang telinganya dengan baik agar bisa mendengarkan percakapan anaknya.


"Aku nggak tahu harus memulainya dari mana Ghe. Tapi jika waktu mengizinkan kita untuk bertemu lagi, aku akan menceritakan semuanya kepada mu." Seruni menjeda sejenak ucapannya. Ghea pun nampak masih menunggu kelanjutan ucapan Seruni.


"Saat ini Aku sedang mencari keberadaan Alfa. Apa kamu tahu di mana Alfa sekarang tinggal?"


"Aku tidak tau! Sejak saat itu Aku tidak pernah lagi berhubungan dengan kalian. Aku memang sekampus dengan Ega dan Ruli, tapi aku tidak dekat dengan mereka." Ghea berkata jujur. Karena memang selama ini ia menjaga jarak dari kedua sahabat laki-lakinya itu. Ia pura-pura tidak kenal dengan Ega dan Ruli. Bahkan jika kedua sahabat laki-lakinya itu mengatainya sombong, ia tidak peduli. Entah mengapa ia melakukan semua itu. Rasa sakit hatinya membuatnya membenci semua sahabatnya.


"Tolong bantu aku menemukan Alfa, Ghe." Seruni menggenggam tangan Ghea yang ada di atas meja. "Hanya Alfa yang bisa membuat ku lepas dari semua ini." Mohon Seruni seraya meneteskan air matanya. Ia merasa frustasi karena tidak tahu lagi harus meminta bantuan kepada siapa.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Ghea semakin dibuat penasaran.

__ADS_1


"Aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Tapi jika kamu ingin mengetahuinya, kapan-kapan kita bisa bertemu lagi. Usahakan di tempat yang lebih privasi agar aku bisa leluasa menceritakan semuanya."


"Baiklah, mungkin saat ini waktu dan tempatnya tidak tepat." Ujar Ghea. "Mana ponsel mu?" Ghea menadahkan tangan kanannya yang tidak digenggam oleh Seruni. Seruni langsung memberikan ponselnya kepada Ghea.


Setelah mengetikkan nomor teleponnya ke ponsel Seruni, Ghea langsung mengembalikannya. "Telpon aku kapanpun kamu ingin cerita. Sekarang aku pergi dulu. Aku nggak janji bisa bantu kamu nemuin Alfa. Tapi akan aku usahakan."


"Terimakasih Ghe, terimakasih!" Seruni mendorong kursinya ke belakang, beranjak dari duduknya karena ingin memeluk sahabatnya itu. Namun tak disangkanya kursinya malah mengenai seseorang yang baru saja melintas di belakangnya.


"Auw!" Beruntung orang tersebut tak sampai terjatuh. "Heh mbak! Punya mata nggak sih?!" Teriaknya. "Oh, rupanya loe ayam kampus!" Suara Sinta dibuat semakin meninggi saat menyadari bahwa yang menabraknya dengan kursi adalah Seruni. Ya, orang itu adalah Sinta.


Ghea, Mama Amara dan juga mama Gita dibuat terperangah oleh ucapan Sinta. Mama Amara dan mama Gita tidak menyangka kalau Sinta sahabat anaknya itu bisa berkata sepedas itu kepada anaknya. Sebutan ayam kampus benar-benar melukai hati Mama Amara. Namun ia masih memilih diam di tempatnya karena tidak ingin anaknya mengetahui kalau dirinya sedang menguping.


"Maaf mu basi!" Ucap Sinta kemudian berlalu dari sana.


"Siapa dia? Kenapa dia memanggil mu dengan sebutan ayam kampus?" Cecar Ghea.


"Dia sahabat kami." Sahut Faya.

__ADS_1


"Nanti aku ceritakan." Serobot Seruni agar Faya tidak melanjutkan ucapannya.


"Baiklah," Pasrah Ghea tak lagi bertanya.


"Sekali lagi terimakasih." Seruni langsung memeluk Ghea. Faya pun tak mau ketinggalan. Akhirnya persahabatan mereka yang pernah merenggang kembali terjalin.


Ghea kemudian pergi bersama temannya setelah berpelukan dengan kedua sahabatnya itu.


Mama Amara semakin dibuat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi kepada anaknya. Ia berjanji sepulang dari sini akan langsung menanyakannya kepada sang anak.


*****


*****


*****


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2