
"Uhuk.. Uhuk..!" Om Pras masih terbatuk-batuk namun tak lagi mengeluarkan darah. Dengan di bantu oleh papa Zaky akhirnya om Pras bisa duduk dengan tegak lagi. Pandangan matanya lalu menghujam ke arah Seruni. "Dasar wanita iblis!" Jari telunjuk om Pras mengarah ke arah Seruni. "Rupanya kau bersekutu dengan iblis!"
"Apa maksud mu?!" Tanya papa Zaky yang terkejut dengan ucapan sepupunya. Sedangkan Seruni nampak pias. Begitu pula dengan mama Amara yang masih dalam keterkejutannya.
"Pasti dia bersekutu dengan iblis dan ingin menumbalkan Alfa." Jari itu masih menunjuk ke arah Seruni. "Perjanjian apa yang kau lakukan dengan iblis itu hah?!" Teriak om Pras.
"Tidak, tidak! Aku tidak pernah melakukan perbuatan terkutuk seperti itu." Seruni berusaha membela diri.
"Hey, sekali lagi kau bicara seperti itu akan aku sumpal mulut mu." Mama Amara yang baru tersadar langsung berdiri dari duduknya.
Papa Zaky yang sejak tadi mendengarkan ucapan sepupunya mulai terbakar emosi. Perlahan kakinya melangkah menghampiri Seruni yang berdiri membeku di samping brankar suaminya.
Plaakk!
Satu tamparan keras melayang di pipi Seruni hingga membuat Seruni terhuyung dan hampir saja jatuh. Beruntung tangannya dengan sigap berpegang pada pinggiran brankar.
"Hey, apa yang kamu lakukan sama anak ku Zak?!" Mama Amara berlari menghampiri anaknya.
"Dasar wanita iblis! Pantas saja kamu dulu ngotot meminta tanggung jawab kepada anak ku. Rupanya kau ingin menjadikan anak ku sebagai tumbal." Tangan itu terangkat lagi dan.....
Plaakk!!
__ADS_1
Satu tamparan keras mendarat lagi. Namun kali ini bukan di pipi Seruni melainkan di pipi Mama Amara. Karena Mama Amara berusaha melindungi anaknya.
"Ra!" Papa Zaky terkejut karena tamparannya salah sasaran.
Seruni yang sudah memejamkan matanya dan siap menerima tamparan itu kembali perlahan membuka matanya karena tidak merasakan kesakitan. Dan betapa terkejutnya ia saat membuka matanya. Ternyata Mamanya itu berdiri di depannya menjadi perisai untuk dirinya. Akibatnya Mamanya lah yang mendapat tamparan dari Papa mertuanya.
"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut malam-malam begini?" Seorang dokter jaga beserta seorang perawat yang saat itu sedang berkeliling langsung masuk ke dalam ruang perawatan Alfa saat telinganya mendengar suara keributan dari dalam ruangan tersebut. "Apa yang kalian lakukan ini bisa mengganggu kenyamanan pasien." Lanjut sang dokter.
"Dok tolong suami saya dok. Suami saya mengigau tapi tidak mau membuka matanya." Seruni langsung menghampiri sang dokter.
"Sebentar saya periksa dulu ya?" Dokter dan suster langsung sigap mengecek kondisi Alfa. "Demamnya sudah mulai turun. Kita tunggu hingga esok ya. Kalau demamnya terus turun pasti besok pasien akan sadarkan diri."
Mereka sedikit bisa bernafas lega saat mendengar penjelasan dari sang dokter. Setelah melakukan visit malam dokter dan perawat itu segera undur diri karena harus berkeliling di ruangan lainnya untuk memantau keadaan pasien yang lainnya.
"Mama kenapa tadi harus menglindungi Runi? Mama kan yang akhirnya kena tampar papa Zaky." Seruni mengelus pelan pipi mamanya.
Tangan Mama Amara juga terulur untuk mengelus pipi anaknya. "Ibu mana yang tega melihat anaknya ditampar oleh orang lain? Bahkan aku sendiri yang sebagai ibunya saja tidak pernah menamparnya." Kedua anak dan ibu itu meneteskan air matanya kemudian saling berpelukan.
"Terimakasih ma, terimakasih karena selama ini sudah berusaha menjaga dan melindungi Runi."
"Ayo kita duduk di sofa sana. Biarkan suami mu beristirahat. Sepertinya keadaannya sudah berangsur membaik." Seruni mengangguk, kemudian mereka berdua melangkah menuju ke sofa.
__ADS_1
Mama Amara menggenggam erat kedua tangan anaknya. "Mama sudah tahu semuanya Run, jadi jangan lagi menyembunyikan apapun dari mama."
Seruni tertegun. Ia tak menyangka kalau mamanya selama ini ternyata sudah mengetahui apa yang dialaminya. Satu nama yang melintas di kepalanya, Faya! Sebenarnya dulu memang Seruni punya niatan untuk bercerita kepada mamanya. Namun setelah ia menikah dan merasa sudah baik-baik saja, ia seolah lupa dengan semua itu. Karena Seruni menganggap bahwa dirinya sudah terbebas dari kutukan itu.
"Apa benar apa yang dikatakan oleh om Pras?"
"Tidak ma! Seruni berani bersumpah!"
"Kalau begitu kenapa kamu tidak meminta bantuan kepada Mbah Suro saja? Siapa tahu dia bisa membantu mengobati suami mu?"
Seketika itu pikiran seruni langsung terkonek. Bukankah selama ini Mbah Suro selalu membantu mengobati pasien-pasien dan juga orang-orang yang membutuhkan bantuannya? Lantas kenapa dirinya tidak terpikirkan untuk meminta bantuan kepada Mbah Suro?
"Mama benar! Aku harus segera menghubungi Mas Reksa." Seruni beranjak dari duduknya namun di cegah oleh mamanya.
"Ini baru jam dua Run, besok saja. Pasti mereka saat ini sedang istirahat." Seruni mengangguk, kemudian beranjak menghampiri suaminya dan mendudukkan tubuhnya di samping sang suami. Sedangkan Mama Amara kembali merebahkan tubuhnya ke atas sofa.
*****
*****
*****
__ADS_1
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏