SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
ENAM PULUH DUA


__ADS_3

"Bagaimana ini, kenapa hujannya tak kunjung reda? Malah semakin lebat saja." Seruni nampak gelisah.


"Ya mau bagaimana lagi. Nanti kalau warungnya tutup dan hujannya tak kunjung reda, kita bisa cari tempat berteduh lainnya." Usul Alfa. "Lebih baik sekarang kamu kabari Mama Amara agar tidak khawatir."


"Astaga! Kenapa aku bisa lupa untuk mengabari mama." Seruni segera mencari ponselnya di dalam tas. Seruni memilih mengirimkan pesan singkat saja kepada mamanya dan juga Faya agar mereka tidak khawatir. Seruni tidak berani menelpon mereka karena kilatan petir nampak menyambar-nyambar. Dan bertepatan setelah pesan berhasil dikirim, ponsel Seruni langsung mati karena kehabisan daya. "Astaga, malah mati. Untung pesannya sudah terkirim." Gerutu Seruni lagi. Seruni langsung memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.


"Mbak?!" Panggil Alfa kepada seorang pelayan. Pelayan itu pun segera menghampiri Alfa. "Apa di sekitar sini tidak ada penginapan Mbak? Sepertinya hujan tidak akan berhenti malam ini."


"Eh, kenapa malah cari penginapan?" Seruni langsung mendelik tajam saat Alfa menyebut kata penginapan. Kata-kata itu membuat telinganya berdengung. Kata penginapan jelas-jelas memiliki sejarah dalam kehidupan Seruni selama ini.


"Ada mas, di sebelah rumah makan ini ada penginapan milik bos kami. Kalau mas mau, mas bisa langsung menemui bos kami di kasir." Ucap pelayan itu sopan sambil menunjuk ke arah kasir.


"Baiklah terimakasih." Alfa beranjak dari duduknya. Namun belum sempat kakinya melangkah, tangannya sudah dicekal oleh Seruni.


"Mau ngapain?" Pelototan seruni tak di indahkan oleh Alfa.


"Kamu tunggu di sini dulu sebentar." Alfa melepaskan tangan Seruni dari tangannya kemudian melangkah mendekati kasir.


Seruni hanya bisa menatap punggung Alfa yang semakin menjauh. Sekarang dirinya malah di landa kecemasan. Pikirannya sudah tidak karu-karuan sejak Alfa menyebut kata penginapan.


"Permisi Bu, saya mau cari penginapan, katanya di sini ada penginapan?"


"Oh iya mas, namun hanya tinggal satu kamar saja." Jawab ibu-ibu paruh baya pemilik Rumah makan tersebut.

__ADS_1


Alfa sejenak menoleh ke arah Seruni yang ternyata juga menatap ke arahnya. "Nggak papa Bu, kasihan istri saya kedinginan."


"Owh, suami istri toh? Ibu pikir kalian sepasang kekasih soalnya masih sangat muda."


"Memang kami baru saja menikah Bu, sekitar dua bulan yang lalu." Acting Alfa benar-benar patut diacungi jempol.


"Baiklah, memang seharusnya begitu daripada berbuat zina. Mari saya antar."


"Ini sekalian bayar saja Bu. Berapa total makan dan sewa penginapan?"


Ibu pemilik Rumah makan serta penginapan tersebut langsung menyebutkan nominal yang harus dibayar oleh Alfa. Setelah membayarnya, Alfa langsung kembali menghampiri Seruni kemudian mengajaknya mengikuti ibu pemilik Rumah makan berjalan ke belakang melewati pintu samping yang langsung tembus dengan penginapan.


Hanya ada lima kamar yang berjejer memanjang. Empat kamar sudah ditempati oleh orang lain. Berarti tertinggal satu kamar saja yang kosong. Ibu pemilik penginapan langsung membuka pintu kamar penginapan tersebut.


"Terimakasih Bu." Balas Alfa.


Ibu pemilik penginapan itu segera pergi. Alfa langsung menarik Seruni masuk ke dalam kamar tersebut. Namun Seruni seolah enggan.


"Kenapa?" Tanya Alfa karena Seruni tidak mau masuk.


"Kenapa hanya satu?" Tanya Seruni ragu.


"Karena hanya tersisa satu kamar ini saja."

__ADS_1


"Aku tidak mau tidur sekamar." Tolak Seruni.


"Kenapa? Apa kamu takut kejadian dulu terulang lagi?"


Seruni hanya diam saja saat mendapat pertanyaan seperti itu dari Alfa. Alfa masuk terlebih dahulu ke dalam kamar tersebut. Dilihatnya ada sofa panjang di pinggir tembok. Alfa kemudian kembali keluar.


"Ada sofa di dalam, aku bisa tidur di sofa nanti kalau kamu takut."


Duuuaaaaarrrrr!!


"Aaahh!"


Tiba-tiba saja petir menyambar membuat Seruni refleks memeluk tubuh Alfa. Alfa pun langsung membalas pelukan Seruni dengan erat.


"Ayo kita masuk. Aku janji tidak akan melakukan apapun. Bukannya tadi siang Kita juga tidur bersama? Apa aku melakukan sesuatu kepada mu?"


Seruni menggeleng. Akhirnya mau tak mau Seruni pun ikut masuk ke dalam kamar penginapan tersebut.


*****


*****


*****

__ADS_1


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏


__ADS_2