
Matahari sudah semakin merangkak naik. Sisa-sisa air hujan yang membasahi jalanan serta dedaunan sudah mulai mengering. Mobil yang dikendarai oleh Alfa akhirnya tiba di kediaman Seruni. Namun Alfa tidak membawa masuk mobilnya ke halaman rumah, melainkan menghentikan mobilnya di depan pagar.
"Aku langsung pulang saja. Aku harus segera menemui Papa." Alfa mendekatkan tubuhnya ke arah Seruni. Sesaat Seruni memejamkan matanya serta menahan nafas. Seruni pikir Alfa akan menciumnya. Namun nyatanya Alfa hanya ingin membantu melepas sabuk pengaman yang membelit tubuhnya. Huh, sepertinya otak Seruni sudah mulai oleng. Harus secepatnya di cuci menggunakan bayclin agar kembali kinclong.
"Kamu kenapa?" Tanya Alfa setelah berhasil melepaskan sabuk pengaman.
Seruni hanya menggeleng. "Ak-aku turun ya?" Seruni langsung berbalik ingin membuka pintu mobil.
"Run," Panggilan Alfa mengurungkan tangan Seruni yang hampir saja membuka pintu. Seruni menoleh kembali. "Tunggu aku, aku akan segera datang bersama Papa." Lanjut Alfa.
"Ya!" Sahut Seruni singkat.
"Dah, sana masuk!" Alfa mengulurkan tangannya mengacak rambut Seruni.
Seruni segera turun dari mobil dan langsung memasuki pagar rumahnya yang tidak terkunci. Alfa pun langsung melesatkan mobilnya meninggalkan kediaman Seruni.
Nampak mobil Faya masih bertengger di samping mobilnya. Seruni menghirup nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya kasar. Mungkin mamanya tidak akan banyak bertanya karena mamanya itu masih mendiamkannya, pikir Seruni. Namun tidak dengan Faya. Sahabatnya itu pasti akan langsung mencecarnya dengan rentetan pertanyaan.
Seruni menyeret malas kakinya mendekati pintu rumahnya. Saat tangan Seruni hampir saja menyentuh handel pintu, tiba-tiba pintu di buka dari dalam. Nampak mama Amara yang berada di balik pintu.
"Ma-mama,"
__ADS_1
"Syukurlah kamu sudah pulang." Mama Amara langsung memeluk Seruni, membuat Seruni tak percaya. Pasalnya saat kemarin ia meninggalkannya, mamanya itu masih mogok bicara dan seolah tidak peduli lagi dengannya. Tapi sekarang sikap Mama Amara sudah kembali hangat. Dalam hati Seruni pun bersyukur.
"Apa kamu baik-baik saja?" Mama Amara mengurai pelukannya kemudian memindai tubuh anaknya dari atas hingga ke bawah untuk memastikan bahwa anaknya itu baik-baik saja.
"I-iya ma, Seruni baik-baik saja."
"Syukurlah, mana Alfa?" Mama Amara celingukan mencari keberadaan Alfa namun tidak menemukannya.
"Alfa langsung pamit. Katanya mau menemui papanya."
"Owh, ya sudah ayo masuk." Seruni pun menurut saat mamanya menarik lengannya.
"Ada di kamar. Sudah sarapan?"
"Sudah, tadi mampir di rumah makan."
"Ya sudah, sana istirahat dulu." Mama Amara tidak ingin banyak bertanya dulu. Ia akan memberikan waktu kepada anaknya itu. Toh sekarang dirinya juga sudah tahu semuanya.
Seruni segera masuk ke dalam kamarnya. Dan benar saja, sahabatnya itu sedang duduk bersila di atas tempat tidurnya. Pandangannya menyorot tajam ke arahnya saat dirinya membuka pintu. "Apa?!" Seruni balik mendelik. Seruni langsung melemparkan tasnya ke arah Faya. Dan Faya pun reflek menangkapnya seraya mencebikkan bibirnya.
Seruni cuek saja. Seruni malah langsung masuk ke dalam kamar mandi. Membuat Faya bersungut-sungut kesal karena tak di indahkan oleh sahabatnya. Faya yang merasa kesal langsung membongkar isi tas seruni guna mencari benda yang sejak semalam dan juga sejak pagi tak bisa dihubunginya.
__ADS_1
Dapat! Namun sayangnya benda pipih itu tidak ada tanda-tanda kehidupan alias mati. Pantas saja dirinya tidak bisa menghubungi sahabatnya itu.
Seruni yang tidak berpikir untuk menginap, sengaja tidak membawa charger ponselnya. Chargernya pun masih tergeletak di atas nakas samping tempat tidur. Faya segera mencolokkan charger tersebut ke colokan listrik kemudian menghubungkannya dengan ponsel Seruni.
Seruni yang baru saja keluar dari kamar mandi pun melihat apa yang dilakukan oleh sahabatnya. Ia hanya menyunggingkan senyum karena sudah bisa menduga pasti Faya tak hentinya menghubunginya.
"Sini loe! Jangan cengengesan kek orang kesambet." Nah, kalau sudah keluar kata loe gue dari mulut Faya, sudah dipastikan saat ini Faya benar-benar kesal kepadanya.
Seruni pun tak membantah. Ia segera naik ke atas tempat tidur, ikut duduk bersila di depan Faya. "Kenapa nggak berangkat kuliah?"
"Sekarang ceritakan semuanya. Jangan ada yang ditutup-tutupi." Ujar Faya tak mengindahkan pertanyaan Seruni. Mana mungkin dirinya pergi kuliah sedangkan pikirannya sedang tak karuan memikirkan sahabatnya yang tak kunjung pulang.
Seruni mengangguk dan akhirnya menceritakan semuanya, termasuk dirinya dan Alfa yang menginap di sebuah penginapan. Namun ia tidak memberitahukan kepada Faya kalau dirinya kembali tidur dengan Alfa.
*****
*****
*****
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏
__ADS_1