SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
LIMA PULUH LIMA


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan oleh Alfa melaju dengan kecepatan normal. Normal disini sesuai standart laki-laki. Yang pastinya kecepatannya jauh di atas kecepatan normal saat perempuan yang mengemudi. Seruni tidak takut. Karena saat ia emosi atau menahan amarah, Seruni juga sering mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Begitulah cara Seruni meluapkan emosi dan amarahnya yang tidak tersampaikan. Benar-benar sangat extreme karena keselamatannya dipertaruhkan. Bukan hanya keselamatannya saja, tetapi juga keselamatan para pengendara lainnya. Sudah pasti bunyi klakson dan juga teriakan serta umpatan para pengendara lainnya bersahut-sahutan. Beruntung ia tak sampe berurusan dengan polisi.


"Apa masih jauh?" Alfa menoleh sekilas ke arah Seruni.


"Dikit lagi. Nanti ada pertigaan depan sana ambil jalan perkampungan."


"Oke!" Alfa pun menurunkan kecepatan mengemudinya karena mereka hampir sampai. Mereka sudah melalui perjalanan selama tiga jam. Dan saat ini waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang.


Tepat di pertigaan jalan, Alfa memutar kemudinya ke kiri masuk ke jalan perkampungan. Banyak lalu lalang kendaraan roda dua disana. Sedangkan kendaraan roda empat jarang sekali.


"Apa nggak sebaiknya cari makan dulu?" Alfa memperhatikan kanan kiri jalan yang dilaluinya terdapat banyak warung-warung kecil berjejeran.


Seruni ikut memperhatikan kanan kiri jalan dan baru menyadari kalau ternyata di sana banyak warung berjejeran. Kenapa dirinya dulu saat pertama kali datang ke sini tidak memperhatikannya? Entahlah, mungkin dulu dirinya sangat kalut hingga yang ia pikirkan hanya ingin segera bertemu Mbah Suro. Seruni melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya ternyata memang sudah waktunya makan siang.

__ADS_1


"Baiklah, kita makan dulu saja. Toh udah deket juga."


Alfa langsung menghentikan mobilnya di depan salah satu sebuah warung yang bercat warna biru. Dan ternyata warung itu diberi nama warung biru sesuai dengan warna catnya.


Seorang ibu-ibu paruh baya langsung menyambut kedatangan mereka berdua dengan ramah. Setelah memberitahukan pesanannya, mereka langsung mencari tempat duduk yang masih kosong. Warungnya nampak bersih, namun tidak terlalu rame. Hanya ada sekitar empat orang saja disana. Dan sekarang menjadi enam karena ketambahan dirinya dan juga Alfa. Apa mungkin masakannya nggak enak? Biasanya klo enak kan sudah pasti rame dan banyak antrian. Ah entahlah, yang penting bisa kenyang.


"Sebenarnya kita mau kemana ini? Kenapa masuk-masuk perkampungan? Apa ada sanak saudara mu yang tinggal di daerah sini?"


"Sebentar lagi pasti kamu juga akan tahu." Sahut Seruni. Seruni mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya. Ia ingin memberitahukan kepada Reksa bahwa mereka sudah tiba di sana. Sebuah pesan pun akhirnya ia kirimkan kepada Reksa.


Tak lama kemudian balasan pesan dari Reksa pun masuk ke ponsel Seruni.


[Ya, buka kembali pukul satu siang. Setelah makan kalian bisa langsung ke sini. Nanti kalian istirahat saja di rumah. Perjalanan jauh pasti lelah]

__ADS_1


Seruni nampak menyunggingkan senyumannya. Meskipun kali ini ia tidak bisa dekat-dekat dengan Reksa karena ada Alfa, tapi asal ia bisa melihat wajah laki-laki yang dirindukannya itu sudah lebih dari cukup.


Alfa yang melihat gerak-gerik Seruni nampak keheranan. Pasalnya calon istrinya itu terlihat senyum-senyum sendiri saat melihat ponselnya. Ia tidak tahu apa yang dilakukan oleh Seruni dengan ponselnya karena mereka duduk saling berhadapan.


Seorang pemilik warung yang tadi menyambut kedatangan mereka mengantarkan pesanan mereka. Mereka pun langsung menyantap makan siangnya dengan tenang.


Tiga puluh menit berlalu mereka sudah meninggalkan warung biru. Alfa melajukan mobilnya kembali sesuai dengan petunjuk arah dari Seruni.


Tak lama kemudian mereka sudah tiba di pelataran klinik terapi spiritual Mbah Suro. Alfa terhenyak. Ia tidak menyangka kalau Seruni akan membawanya ke tempat praktek dukun. Sedangkan Seruni masih diam memperhatikan kursi yang berjajar di depan klinik tersebut nampak sudah kosong. Tiba-tiba bayangan saat dirinya dan Faya mendatangi kediaman Ki Parto melintas di ingatannya. Saat itu benar-benar sangat mengerikan, karena Faya tidak melihat apa yang dilihat oleh matanya. Yaitu saat dirinya melihat keberadaan Ki Parto, Faya sama sekali tidak melihat keberadaan Ki Parto di dalam gubuk tersebut.


*****


*****

__ADS_1


*****


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏


__ADS_2