SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
EMPAT PULUH LIMA


__ADS_3

Seruni berangkat bersama mamanya dengan mengendarai mobil bututnya setelah mamanya itu mendapatkan pesan dari om Zaky yang memberitahukan lokasi di mana mereka akan makan malam bersama.


Sebuah restoran X yang letaknya lumayan jauh dari kediamannya. Mungkin butuh waktu sekitar tiga puluh menit lebih untuk sampai di sana. Makanya setelah Maghrib Seruni dan mamanya langsung berangkat agar mereka tidak terlambat. Karena jam segitu biasanya rawannya macet.


Sesampainya disana, ternyata Om Zaky sudah tiba terlebih dahulu. Padahal waktu saat ini baru menunjukkan pukul delapan belas lebih lima puluh menit. Yang artinya jam tujuh kurang.


"Selamat malam." Sapa mama Amara saat tiba di meja tempat om Zaky duduk.


"Malam," Balas om Zaky. "Kalian sudah tiba?" Mama Amara mengangguk. "Duduklah," Seruni dan mama Amara segera duduk berdampingan. "Sebentar ya, tunggu anak ku sebentar. Mungkin dia masih dalam perjalanan. Atau kalian mau pesan dulu?"


"Nanti saja Zak." Sahut mama Amara.


"Oke, Mungkin sebentar lagi dia datang." Om Zaky nampak mengulas senyum ke arah Seruni dan mamanya.


Dan benar saja, tak lama kemudian orang yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga.


"Selamat malam!" Sapa orang tersebut yang sedikit terkejut karena papanya itu ternyata tidak sendirian. Melainkan bersama dengan dua orang wanita. Satu wanita paruh baya, dan satunya lagi sepertinya masih muda. Ia tidak bisa melihat wajah wanita itu karena wanita itu dalam keadaan menunduk.


Seruni perlahan mendongakkan kepalanya saat mengenali suara yang baru saja menyapa Indra pendengarannya. Seruni dan Kevin sama-sama tersentak saat pandangan keduanya bertemu. Ya, itu adalah Kevin. Anak dari om Zaky dengan istrinya yang sudah meninggal.


"Seruni!" (Kevin)


"Kak Kevin!" (Seruni)

__ADS_1


Seru Kevin dan Seruni bersamaan karena mereka sama-sama terkejut. Mereka benar-benar tidak menyangka kalau akan dipertemukan malam ini dalam suasana makan malam bersama keluarga.


"Kalian sudah kenal?" Tanya om Zaky keheranan. Kevin dan Seruni mengangguk. "Bagus kalau begitu, berarti papa tidak perlu memperkenalkan kalian lagi. Sekarang duduklah." Kevin langsung mendudukkan tubuhnya di samping sang papa.


"Oh ya, ini Tante Amara mamanya Seruni." Ujar om Zaky memperkenalkan. Kevin dan mama Amara pun langsung berjabat tangan.


Om Zaky lalu memanggil seorang pelayan. Pelayan itu pun segera menghampiri meja mereka dengan membawa buku menu. Setelah mencatat pesanan mereka, pelayan itu segera pamit undur diri.


"Apa kalian satu kampus?" Tanya om Zaky.


"Ya!" Sahut Kevin singkat, karena rasa bencinya kepada sang Papa membuatnya malas untuk berbicara banyak dengan papanya. Namun demikian, sebejat apapun papanya, Kevin tidak pernah melampaui batas. Karena ia sadar, dirinya tidak akan lahir ke dunia ini tanpa papanya.


"Bagus, jadi kamu bisa belajar sekaligus menjaga Seruni."


Pembicaraan mereka harus terjeda karena dua orang pelayan datang mengantarkan pesanan mereka.


"Sebaiknya kita makan dulu." Ucap om Zaky setelah makanan terhidang di atas meja. Mama Amara pun mengangguk.


Mereka berempat akhirnya menikmati makan malamnya dengan tenang. Berbeda dengan Kevin yang masih dipenuhi dengan tanda tanya di kepalanya. Sedangkan Seruni sudah memahami maksud dan tujuan malam ini mereka dipertemukan.


Kevin sesekali melirik ke arah Seruni yang duduk di depannya. Dan semua itu tidak lepas dari pandangan papanya. Om Zaky mengira anaknya itu tertarik dengan Seruni. Jadi saat nanti dirinya mengutarakan maksud dan tujuannya mempertemukan mereka adalah untuk menjodohkan keduanya, anaknya itu pasti tidak akan menolak.


Setelah menghabiskan makan malamnya, mereka sudah bisa melanjutkan lagi obrolannya sambil menikmati hidangan penutup.

__ADS_1


"Ehem!" Om Zaky berdehem sebelum memulai pembicaraan. Kevin hanya diam saja meskipun sebenarnya ia ingin segera tahu apa tujuan papanya. "Begini, papa sengaja mempertemukan kalian berdua karena Papa berniat ingin menjodohkan kalian."


Kevin dan Seruni mengangkat kepalanya bersamaan sebagai bentuk protes. Hampir saja Kevin dan Seruni membuka mulutnya namun om Zaky terlebih dahulu menyerobotnya.


"Papa tidak memaksa, jalani saja dulu. Anggap ini sebagai proses pendekatan diri."


"Tapi om, Seruni kan sudah bilang kalau Seruni masih ingin melanjutkan kuliah." Protes Seruni. Sedangkan Kevin hanya diam saja.


"Ya, makanya dari itu jalani saja dulu. Om kan tidak menyuruh kalian langsung menikah."


"Tapi om sama sekali tidak menghargai keputusan saya. Padahal saya sudah menyampaikan keberatan saya sejak kemarin. Tapi om masih saja egois memaksakan kehendak Om." Ujar Seruni mengeluarkan unek-uneknya.


Saat suasana di meja makan tersebut menegang, tiba-tiba saja datang seorang laki-laki menghampiri meja mereka.


"Papa!"


*****


*****


*****


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2