
Setelah kematian Mama Amara, Seruni langsung mengajukan cuti kuliah yang seharusnya ia ambil bulan depan saat kandungannya berusia tujuh bulan. Dengan kondisinya yang saat ini tidak baik-baik saja, Seruni tidak akan mungkin bisa mengikuti mata kuliah dengan baik. Akhirnya ia memilih mengajukan cuti lebih awal.
Faya setiap hari masih berangkat kuliah karena tidak mungkin ia ikut mengambil cuti seperti Seruni. Memangnya dia mau memakai alasan apa? Hamil dan melahirkan seperti Seruni? Tidak mungkin kan? Yang benar saja!
Faya akan langsung pergi ke rumah Seruni setelah kelas usai. Dan pagi sekali Faya akan pulang ke kediamannya sendiri. Sebenarnya Seruni memintanya berangkat setelah mereka sarapan bersama. Namun Faya menolaknya dengan alasan karena tidak ingin membuat Seruni kecapean memasak untuknya. Alhasil mereka berdua selalu bangun mepet waktu.
Seruni sendiri juga tidak pernah sarapan sepagi itu. Malah kadang dirinya hanya memakan selembar roti sebagai sarapannya. Entahlah, nafsu makannya terjun drastis setelah kepergian mamanya. Kalau saja dirinya tidak memikirkan bayi yang ada di dalam kandungannya, mungkin tidak akan ada asupan yang masuk ke dalam tubuhnya.
"Ehem!" Terdengar deheman agak keras saat Seruni berjemur di halaman rumahnya. Sinar matahari pagi bagus untuk kesehatan tubuh.
Seruni yang awalnya menutup matanya seraya merentangkan kedua tangannya menghadap ke arah sinar matahari perlahan membuka matanya. Pandangannya langsung mencari arah sumber suara dan menemukan dua orang ibu-ibu tetangga rumahnya yang berdiri di depan pagar rumahnya. Pagar itu sudah tertutup kembali setelah kepergian Faya tadi pagi. Tinggi pagar yang hanya setengah badan itu membuat orang-orang yang lewat mampu melihat aktivitas apa saja yang terjadi di halaman rumahnya.
"Pagi Run," Sapa salah satu dari mereka.
"Pagi Bu, habis darimana?" Seruni membalas sapaan dengan senyuman.
__ADS_1
"Dari mini market!" Jawab ibu yang satunya dengan nada sinis. Seruni hanya menanggapinya dengan senyuman saja. "Sudah berapa bulan? Kok udah besar? Jangan-jangan benar apa yang dikatakan oleh mertua mu. Itu bukan anak dari suami mu melainkan anak dari selingkuhan mu."
Degh!
Lagi-lagi Seruni harus mendengar ucapan yang menyakitkan hati. Bukankah sakit rasanya di tuduh hamil dengan orang lain padahal kita memiliki suami?
"Apa benar kamu yang udah nyantet suami mu sendiri agar bisa bersatu dengan selingkuhan mu? Pantas saja kamu menolak saat Kakak ipar mu ingin menikahi mu. Rupanya kamu sedang menunggu selingkuhan mu untuk menikahi mu?" Sadis memang. Mulut kalau sudah tidak bisa di kontrol, tajamnya pisau yang melukai kulit kalah dengan tajamnya lidah yang melukai hati. "Awas di ghosting. Jangan-jangan selingkuhan mu itu kabur setelah berhasil menghamili mu. Buktinya sampai sekarang kamu tidak dinikahi oleh selingkuhan mu itu."
Tes! Air mata Seruni menetes begitu saja dan semakin lama semakin deras. Tidak ada isak yang keluar dari mulut Seruni. Namun air matanya tidak dapat dibendungnya lagi.
"Jangan sampai kita ikut ketularan sial. Hiiiiii...." Kedua ibu-ibu itu bergidik ngeri. "Mending kamu pergi saja dari sini. Kita nggak mau ikutan sial gara-gara perbuatan mu yang suka main dukun. Dasar wanita iblis!" Kedua ibu-ibu itu langsung berlalu pergi setelah mengungkapkan segala cacian dan makian kepada Seruni.
Masuk ke dalam mobil Seruni terdiam sejenak. Dipandanginya rumahnya itu dengan perasaan berat hati karena sejujurnya ia tidak ingin meninggalkan rumah yang memiliki sejuta kenangan itu. Namun apa yang bisa kita lakukan jika lingkungan yang menjadi tempat tinggal kita sudah tidak bisa memberikan rasa nyaman lagi?
Perlahan mobil butut Seruni melaju meninggalkan kediamannya. Entah kemana ia harus pergi Seruni tak tau. Yang pasti ia harus menjauh dari tempat tinggalnya untuk sementara waktu.
__ADS_1
Tetes demi tetes air mata Seruni mengiringi perjalanannya pagi itu. Dengan tekad yang kuat Seruni pergi meninggalkan segala kenangan yang pernah terukir di kota ini. Baik itu kenangan baik ataupun kenangan buruk sekalipun. Seruni akan berusaha membangun kenangan indah di kota tujuannya nanti. Entah itu dimana. Bahkan saat ini saja Seruni tidak memiliki arah tujuan pasti.
...*****...
...*****...
...*****...
...SEASON 1 TAMAT...
...*****...
...*****...
...*****...
__ADS_1
Akhirnya Sang Penakluk season 1 tamat 🤭 tunggu season ke-2 nya tahun depan oke 😂 kabur ahh🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏