SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
SEASON 2 PART 124


__ADS_3

JAKARTA


Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, akhirnya Seruni tiba di salah satu terminal yang ada di Jakarta sore itu. Selepas turun dari Bus, Seruni menaiki salah satu angkot masih tanpa arah tujuan. Bahkan saat sang sopir angkot bertanya kepadanya kemana tujuannya, Seruni hanya menggeleng. Namun tak lama kemudian Seruni meminta untuk diturunkan di pinggir jalan.


Seruni tidak tau harus kemana. Seruni berjalan menyusuri jalanan seraya mengedarkan pandangannya guna mencari sebuah kost-kostan. Saat melewati sebuah Minimarket langkahnya terhenti. Ia mengusap pelan tenggorokannya yang terasa kering. Minimarket itu terlihat ramai dan sepertinya sesak. Mungkin jika Seruni masuk ke dalam Minimarket itu dirinya akan lama menunggu antrian. Sedangkan rasa hausnya sudah tidak bisa ditahan lagi.


Seruni kembali mengedarkan pandangannya dan mendapati sebuah Minimarket lagi di seberang jalan. Minimarket itu nampak sepi seperti tidak ada pembeli yang berkunjung. Seruni pun menyunggingkan seulas senyum. Seruni memilih melangkahkan kakinya menyeberangi jalan Raya. Ya, Seruni memilih mendatangi Minimarket yang sepi itu daripada harus mengantri lama.


Setibanya di depan Minimarket, Seruni meletakkan tas besarnya disana. Tidak mungkin kan dirinya membawa masuk tas besarnya itu? Pasti dia akan langsung mendapat teguran dari penjaga Minimarket.


Seruni memegang pintu kaca Minimarket dan perlahan mendorongnya agar terbuka.


Wuuuussshhh!!


Hawa panas langsung menampar kulit wajah serta tangannya yang tidak terlindung oleh pakaian. Seruni sejenak terdiam seraya memejamkan mata. Dirinya yang dulu pernah bersinggungan dengan hal-hal ghoib tentu saja bisa merasakan keanehan yang ada di dalam Minimarket tersebut.


Perlahan Seruni membuka matanya kembali. Mungkin jika orang biasa yang merasakan pasti akan merinding. Namun dirinya tidak ada rasa takut sama sekali. Seruni tidak bisa melihat hal-hal gaib lagi seperti dulu saat Nyi Sukmawati masih bersamanya. Mungkin mata batinnya sudah tertutup kembali setelah ikatan antara dirinya dengan Nyi Sukmawati terputus. Namun dirinya masih bisa merasakannya.


Seruni melanjutkan langkahnya masuk ke dalam Minimarket dan tak sengaja dirinya bersenggolan dengan seorang wanita paruh baya yang hendak keluar dari Minimarket.


"Maaf Bu," Seruni segera meminta maaf.

__ADS_1


"Tak apa." Jawab wanita paruh baya itu kemudian berlalu pergi.


Seruni melanjutkan langkahnya kembali. Terlebih dahulu ia mengedarkan pandangannya guna mencari lemari es. Dan benar saja, di dalam minimarket itu tidak ada satupun pembeli yang berkunjung. Hanya ada penjaga minimarket, itupun hanya seorang diri tanpa teman. Ada apakah dengan Minimarket itu? Seruni bertanya-tanya dalam hatinya. Pasalnya Minimarket yang ada di seberang jalan sana terlihat penuh dengan pengunjung.


"Selamat sore mbak." Sapaan dari penjaga Minimarket membuatnya tersentak.


"Eh, i-iya sore mbak."


"Mau cari apa Mbak? Mungkin saya bisa bantu."


"Mau cari minuman dingin Mbak."


"Terimakasih." Seruni segera melangkahkan kakinya menuju ke arah yang di tunjuk oleh penjaga Minimarket. Dan tepat saat dirinya berada di depan sebuah lemari es, Seruni bisa merasakan hawa yang sangat kuat disana. Seruni tak ambil pusing. Dirinya segera membuka lemari es itu dan meraih sebotol air mineral lalu kembali menuju ke meja kasir. Diraihnya beberapa bungkus roti yang ada di depan meja kasir kemudian segera membayarnya.


Seruni keluar dari minimarket itu dan seketika hawa sejuk yang berasal dari hembusan angin sore menyapa kulitnya. Ia pun kembali memejamkan matanya. Saat membuka matanya, pandangannya tak sengaja melihat ibu-ibu paruh baya yang tadi bersenggolan dengannya sedang berdiri di depan sana. Lebih tepatnya berdiri di pinggir jalan raya. Mungkin ibu-ibu itu sedang menunggu angkot atau taksi yang lewat.


Seruni mengabaikan itu dan segera meminum air mineral yang tadi dibelinya. Saat Seruni menutup kembali botol air mineral itu ekor matanya tak sengaja melihat seorang laki-laki yang bertampang seperti preman sedang berada di dekat ibu-ibu itu.


Seruni segera melangkah menuju ke ibu-ibu itu meninggalkan tas besarnya yang masih tergeletak di depan Minimarket. Dan benar saja perkiraannya.


"Aaaaa copet!" Teriak ibu-ibu itu seraya memegang kuat tasnya. Terjadi tarik menarik antara ibu-ibu itu dengan si pencopet.

__ADS_1


"Wooyy!"Teriak Seruni berlari mempercepat langkahnya. "COPET!"


Bugh!


Seruni menimpuk kepala Si pencopet dengan botol air mineral yang ada di dalam genggamannya.


Bukannya kesakitan. Hanya sebuah botol Aqua tanggung yang isinya pun hanya tinggal setengah tidak akan membuat si pencopet kesakitan. Si pencopet reflek melepaskan genggaman tangannya pada tas lalu menoleh dan langsung mendorong Seruni hingga jatuh terduduk.


"Aaahh!" Teriak Seruni seraya memegangi perutnya.


"TOLONG COPET!" Teriak ibu-ibu itu dengan suara lantang hingga menjadi pusat perhatian orang-orang yang melintas di sekitarnya.


Karena sudah tertangkap basah akhirnya si pencopet melarikan diri karena beberapa orang sudah mulai mengejarnya.


*****


*****


*****


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2