
"Benar-benar sang penakluk sejati, ck!" Faya berdecak. Mobil yang dikemudikan oleh Seruni melaju dengan kecepatan sedang. Sekilas Seruni menoleh ke arah sahabatnya itu. "Anak dukun yang punya ilmu supranatural saja langsung takluk sama kamu." Faya geleng-geleng kepala.
"Apa sih Fa, anggap saja kita temenan." Sanggah Seruni namun pandangannya tetap fokus ke depan.
"Kamu masih belum menyadarinya Run?"
"Menyadari apa?" Seruni pura-pura tidak mengerti dengan ucapan Faya. Bukannya ia tidak menyadari, akan tetapi ia tahu diri. Siapalah dia yang hanya wanita kotor. Tak pantas menerima cinta dari orang sebaik Reksa.
"Tatapan mas Reksa ke kamu itu, ish!" Faya yang gemas memukul bahu Seruni.
"Sudahlah Fa, aku tidak ingin bermimpi terlalu tinggi. Jatuhnya nanti sakit." Pupus Seruni yang merasa rendah diri. Faya pun mengerti dengan maksud ucapan sahabatnya itu. Tapi apakah sahabatnya itu tidak layak untuk dicintai? Apakah Seruni tidak layak untuk bahagia?
"Eh Run, kok Mbah Suro bisa tahu ya Run? Padahal tadi kamu belum ngomong." Faya mencoba mengalihkan pembicaraan saat melihat wajah sendu Seruni.
"Mungkin Mbah Suro punya indra keenam. Dia kan dukun Fa, masak kamu lupa."
"Iya juga sih." Faya nampak manggut-manggut. Jangankan melihat masa lalu, melihat masa depan saja mungkin Mbah Suro bisa, pikir Faya.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih empat jam dengan bergantian mengemudi, mereka akhirnya tiba di kediaman Faya.
Mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumah, mama Gita langsung keluar dari rumah dan mendapati anaknya serta Seruni sudah tiba di rumah.
"Sudah pulang sayang?" Mama Gita berdiri di teras rumah. Faya dan Seruni yang baru saja keluar dari dalam mobil langsung menghampiri Mama Gita.
"iya ma!" Faya meraih tangan mamanya kemudian menciumnya. Kemudian ia mendaratkan satu kecupan di pipi sang mama. "Cup!"
__ADS_1
"Siang Tante." Seruni meraih tangan Mama Gita kemudian menciumnya.
"Siang Run, eh, baju siapa yang kalian pakai?" Mama Gita memperhatikan Seruni dan Faya bergantian.
"I-ini baju Andini ma." Jawab Faya terbata.
"Owh ya sudah, kalian sudah makan?" Untung saja Mama Gita percaya.
"Hehe, belum tan." Sahut Seruni.
"Ya sudah, Ayo kita makan bersama kalau gitu."
"Eem, Seruni langsung pulang saja ya Tan. Seruni kangen sama Mama. Kasihan mama di rumah sendirian."
Seruni langsung masuk ke dalam mobil bututnya kemudian menancap gasnya setelah berpamitan dengan Faya dan mama Gita.
Tak butuh waktu lama Seruni sudah tiba di kediamannya karena jarak rumah mereka yang tidak terlalu jauh. Nampak sebuah mobil terparkir cantik di halaman rumahnya. Seruni yang penasaran siapakah gerangan yang bertamu ke rumahnya itu segera keluar dari mobilnya dan langsung masuk ke dalam rumah yang ternyata pintunya dibiarkan terbuka lebar.
"Ma!" Teriak Seruni saat memasuki rumah.
"Assalamualaikum Seruni?" Sindir mama Amara yang duduk di kursi tamu dengan seorang laki-laki yang tidak dikenal olehnya.
"Hehe, maaf lupa ma." Seruni menggaruk kepalanya. "Assalamualaikum mama." Seruni melangkah mendekati mamanya kemudian mencium tangannya.
"Ini anak kamu Ra?" Tanya orang tersebut menatap lekat ke arah Seruni.
__ADS_1
"Hehe iya mas, satu-satunya." Mama Amara kemudian beralih menatap anaknya. "Ini om Zaky Run, teman mama waktu SMA dulu." Mama Amara memperkenalkan tamunya kepada anaknya. "Tadi kami tak sengaja bertemu di minimarket. Dan mama menawari om Zaky untuk mampir. Kebetulan om Zaki lagi free, jadi bisa mampir ke sini." Seruni pun langsung mengulurkan tangannya ke arah om Zaky yang langsung disambut oleh om Zaky.
Seruni mencoba menarik tangannya yang digenggam erat oleh om Zaky namun tidak bisa terlepas.
"Anak mu cantik Ra, bagaimana kalau kita besanan?" Om Zaky berbicara dengan Mama Amara tanpa mengalihkan pandangannya dari Seruni.
"Ish mas, masih kecil. Biar selesai dulu kuliahnya."
Melihat tatapan om Zaky kepadanya, Seruni menjadi risih dan ingin cepat-cepat pergi dari ruang tamu. Namun om Zaky tak kunjung melepaskan genggaman tangannya.
"Om maaf, saya harus masuk." Ucap Seruni mengisyaratkan agar Om Zaki melepas genggaman tangannya.
"Oh iya!" Akhirnya Seruni bisa bernafas lega setelah genggaman tangan mereka terlepas.
"Runi masuk dulu ma, om, permisi." Seruni langsung bergegas meninggalkan ruang tamu.
Dengan menahan dongkol setengah mati, Seruni masuk ke dalam kamarnya. Bayangkan saja, sejak tadi dirinya ditatap lekat oleh om-om teman mamanya itu. Dan jangan lupakan tangan om-om itu yang tidak tinggal diam. Jempolnya mengelus-elus punggung tangan Seruni hingga membuat Seruni ingin rasanya menampol om-om itu pake teflon mamanya yang ada di dapur.
*****
*****
*****
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏
__ADS_1