SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
SERATUS DUA


__ADS_3

"Terimakasih Rek, sudah mau datang kesini." Ucap mama Amara tulus.


"Sama-sama Tante." Reksa mengulas senyum. "Istirahat lah sambil menunggu papa mertua mu. Biar aku yang berjaga malam ini." Reksa beralih menatap Seruni.


Seruni mengangguk kemudian segera mendudukkan tubuhnya kembali di samping sang suami. Begitu pula mama Amara yang langsung merebahkan tubuhnya ke atas sofa panjang. Sedangkan Reksa mendudukkan tubuhnya di sofa single.


Seruni menggenggam erat tangan suaminya. Ia sandarkan kepalanya di samping tangan sang suami. Perlahan matanya terpejam dan tak berselang lama nafasnya sudah terdengar teratur. Lelah, itulah yang dirasakan oleh Seruni saat ini. Sudah beberapa hari ini ia tidak bisa memejamkan matanya barang sejenak pun. Sekarang saat dirinya mendapatkan kesempatan itu, Seruni tidak akan menyia-nyiakannya karena ada Reksa yang akan menjaga mereka.


Reksa menatap iba ke arah punggung Seruni. Baru mendengar ceritanya saja hatinya sudah berdenyut nyeri. Apalagi sekarang saat kedua matanya melihat sendiri keadaan Seruni. Hatinya terasa tersayat. Ternyata sesakit itu mencintai dalam diam. Apalagi melihat orang yang kita cintai tidak sedang baik-baik saja.


*****


Papa Zaky mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Beruntung malam sudah larut hingga tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang di jalanan. Pukul setengah sebelas akhirnya mereka tiba di kediaman papa Zaky. Hanya butuh waktu satu jam saja.


Papa Zaky tidak memasukkan mobilnya ke halaman rumah. Ia sengaja memarkirkan mobilnya di bahu jalan tepat di depan rumahnya.


Braakk!


Papa Zaky membanting pintu mobil dengan keras hingga membuat om Pras terlonjak. Tanpa memperdulikan sepupunya, papa Zaky berlari memasuki halaman rumahnya. Lampu rumahnya masih tetap menyala seperti saat kemarin ia meninggalkannya. Di bukanya pintu rumahnya itu dan langsung melangkah menuju ke kamar anaknya dengan tergesa-gesa.


Ceklek!

__ADS_1


Kegelapan langsung menyambutnya. Papa Zaky langsung meraba tembok di samping pintu kamar anaknya guna mencari letak saklar lampu.


Cetek!


Byar! Lampu langsung menyala terang. Ia langsung menuju ke lemari anaknya dan mengeluarkan tumpukan baju anaknya yang masih tersisa. Dikeluarkannya satu persatu barang-barang yang ada di dalam lemari itu.


"Coba kamu cari di bawah kasur Pras." Ucap papa Zaky yang melihat sepupunya memasuki kamar. Namun pandangannya tidak beralih sama sekali.


Om Pras hanya mengangguk kemudian segera membantu mencari benda yang dimaksud oleh Reksa yang dikenali mereka sebagai anak Mbah Suro.


"Disini tidak ada Zak." Ujar om Pras setelah berhasil mengacak-ngacak kasur.


"Di lemari juga tidak ada. Dimana Alfa meletakkan benda itu?" Papa Zaky terlihat frustasi. Ia meraup wajahnya kasar.


"Aaaarrgh!" Teriak papa Zaky seraya mengacak-ngacak rambutnya sendiri. "Kita harus mencarinya ke mana lagi?"


"Ya mana aku tau." Om Pras mengedikkan bahunya.


"Tas! Ya, tas ransel yang dipakai Alfa kuliah." Seru papa Zaky saat mengingat benda yang dipakai oleh anaknya kemanapun. "Tapi tas itu pasti ada di rumah istrinya. Aaaarrgh!" Lagi-lagi papa Zaky berteriak frustasi. "Ayo Pras kita ke rumah Amara. Waktu kita tidak banyak!" Papa Zaky langsung berlari keluar rumah diikuti oleh om Pras.


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Jadi mereka harus segera tiba di kediaman Mama Amara. Namun ada yang mereka lupakan. Mereka tidak membawa kunci rumah mama Amara.

__ADS_1


Entah bagaimana Papa Zaky mengendarai mobilnya. Yang pasti sebelum pukul dua belas malam, mereka sudah tiba di kediaman mama Amara.


"Sial! Mana bisa kita masuk kalau tidak ada kuncinya." Umpat papa Zaky.


"Lewat jendela, ayo!" Seru om Pras.


Setelah mengotak-atik jendela rumah mama Amara, akhirnya jendela itu bisa dibuka dan mereka langsung masuk ke dalam rumah. Papa Zaky dan om Pras langsung menuju kamar anak dan menantunya. Pandangannya mengedar mencari keberadaan tas Alfa.


Dapat! Tas ransel hitam itu ternyata teronggok di atas sofa. Dengan langkah cepat papa Zaky menghampiri sofa kemudian mengacak-ngacak tas tersebut. Satu persatu resleting ia buka dan mengeluarkan seluruh isinya. Namun ia sama sekali tidak menemukan benda yang dimaksud oleh Reksa.


"Sial! Dimana sebenarnya Alfa meletakkan benda itu?"


"Tunggu dulu Zak, apa jangan-jangan kita hanya dibodohi oleh anak ingusan itu?" Ujar om Pras. "Dia sengaja menyuruh kita untuk mencari benda yang sebenarnya tidak pernah ada. Apa mungkin ini hanya akal-akalan dia saja untuk memuluskan rencana mereka? Mungkin mereka bersekutu untuk menyingkirkan Alfa. Kamu lihat sendiri kan tadi menantu mu itu tanpa sungkan langsung memeluk laki-laki lain di depan mata mu sendiri. Mungkin mereka berdua diam-diam menjalin kasih di belakang Alfa." Imbuh om Pras mengutarakan prasangkanya. "Jangan-jangan sekarang Alfa dalam bahaya!" Seru om Pras hingga membuat wajah papa Zaky nampak merah padam karena tersulut emosi.


"Brengseeekk! Ayo cepat kita kembali ke rumah sakit!" Papa Zaky kembali berlari melewati jendela menuju ke mobilnya diikuti oleh om Pras. Namun sepertinya mereka terlambat. Karena saat ini waktu sudah menunjukkan hampir setengah satu dini hari.


*****


*****


*****

__ADS_1


Emak ikut ngos-ngosan gaess 😩


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏


__ADS_2