SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
SEASON 2 PART 136


__ADS_3

Makan malam pun tiba. Mereka bertiga sudah duduk di meja makan. Tak ketinggalan pula baby Al yang saat ini berada di pangkuan mamanya. Seruni menunduk tidak berani mengangkat kepalanya. Jangan tanya lagi keadaan jantungnya saat ini. Sudah pasti berdebar-debar seperti saat berada di meja pengadilan kala menunggu keputusan hakim. Sebenarnya tidak ada masalah. Dia tadi juga sempat bertegur sapa dengan Mbah Suro meski hanya sepatah dua patah. Namun entah mengapa detak jantungnya tak kunjung mereda.


"Makanlah Run." Ucap Reksa setelah meletakkan beberapa lauk ke atas piring Seruni.


"I-iya Mas, terimakasih." Tadinya Seruni ingin mengambilnya sendiri. Namun Reksa sudah terlebih dahulu mengambilkannya. Mungkin Reksa pikir Seruni tidak bisa melakukannya sendiri karena ada anaknya di dalam pangkuannya.


Mbah Suro hanya diam saja menikmati makanannya. Namun sesekali matanya melirik memperhatikan cara anaknya memperlakukan Seruni. Dapat ia lihat bahwa anaknya itu sangat menyayangi Seruni.


Seruni perlahan meraih sendoknya dan mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Harusnya masakan Mbak Asih terasa lezat di lidahnya. Namun yang ia rasakan menjadi hambar karena saat ini dirinya sedang bergelut dengan pikirannya sendiri hingga tidak bisa menikmati rasa masakan.


"Ma.. ma.. ma.." Baby Al menepuk-nepuk tangan mungilnya ke atas meja.


"Apa sayang?" Seruni meletakkan sendoknya. "Al mau apa sayang?"


"Pa.. pa.. pa.." Baby Al kembali menepuk-nepukkan tangannya ke atas meja.


"Iya nanti kita kapan-kapan ke tempat Papa ya." Seruni kembali meraih sendoknya dan melanjutkan makannya.


"Kapan kalian akan menikah?"


"Uhuk.. uhuk..!!" Seruni yang baru saja menelan nasi yang dikunyahnya seketika tersedak saat mendengar ucapan atau lebih tepatnya pertanyaan yang terlontar dari Mbah Suro.


Reksa yang berada di dekat Seruni segera menyodorkan segelas air putih. Seruni pun segera meraihnya dan langsung meneguknya. Beruntung nasi yang baru sampai di tenggorokan itu tidak menyembur keluar. Sudah pasti Mbah Suro yang akan menjadi sasarannya, karena Mbah Suro duduk tepat di depan Seruni.

__ADS_1


"Bapak itu bikin orang kaget saja." Protes Reksa. "Kalau mau tanya itu mbok ya nanti setelah makan." Lanjut Reksa menggerutu.


"Kapan kalian akan menikah?" Mbah Suro kembali bertanya tanpa menghiraukan gerutuan anaknya.


"Pak-" Reksa tidak jadi melanjutkan ucapannya saat melihat bapaknya itu menatap tajam ke arahnya. "Aku terserah Seruni saja kapan siapnya. Aku tidak akan memaksa." Akhirnya Reksa memilih menjawab pertanyaan bapaknya daripada melanjutkan protesnya.


"Apa kamu mau menikah dengan anak ku Run?"


Mendapat pertanyaan seperti itu tentu saja Seruni tidak langsung menjawabnya. Seruni mengangkat kepalanya kemudian menoleh ke arah Reksa dan melihat Reksa menganggukkan kepalanya. Seruni pun akhirnya mengangguk.


"Kapan kamu siap?"


"Saya... saya siap kapan pun Mbah. Hanya saja kalau diizinkan saya ingin meminta restu kepada suami dan kedua orang tua saya terlebih dahulu." Seruni kembali menunduk takut-takut.


"Baiklah, kalian pergilah meminta Restu kepada mereka. Biar aku yang mempersiapkan segala sesuatunya." Ujar Mbah Suro.


"Bukankah memang ini yang kamu inginkan?"


Reksa mengangguk kemudian segera bangkit dari duduknya dan langsung meraih tangan bapaknya lalu menciumnya. "Terimakasih pak, terimakasih."


"Sudah!" Mbah Suro menepuk-nepuk punggung anaknya. "Bapak merestui kalian. Semoga kalian memang berjodoh dan rumah tangga kalian selalu dipenuhi dengan kebahagiaan."


"Aamiin!" Ucap Reksa dan Seruni bersamaan.

__ADS_1


"Terimakasih Mbah." Seruni menatap haru ke arah Mbah Suro.


"Heemm!"


*****


Malam semakin larut. Seruni dan anaknya sudah masuk ke dalam kamar sejak tadi setelah sempat mengobrol di ruang televisi bersama Reksa. Mbah Suro entah kemana jangan ditanya lagi. Sudah pasti Mbah Suro sibuk dengan urusannya sendiri.


Reksa bangkit dari duduknya mematikan televisi kemudian melangkah ke depan untuk mengecek pintu dan jendela rumahnya apakah benar-benar sudah terkunci atau belum. Setelah itu ia menyeret langkahnya pelan mendekat ke pintu kamar yang ditempati oleh Seruni dan anaknya. Ditempelkannya daun telinganya ke pintu untuk memastikan apakah penghuni yang ada di dalam sana sudah tertidur atau belum. Dan ternyata sudah tidak ada lagi suara yang berasal dari dalam sana. Mungkin penghuninya memang sudah tertidur lelap karena saat ini waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


Reksa kembali melangkah ke belakang menuju kamarnya sendiri. Ia akan mempergunakan malamnya dengan sebaik mungkin untuk mengistirahatkan tubuhnya yang masih terasa lelah. Karena hati dan pikirannya saat ini dalam keadaan bahagia, tak butuh waktu lama Reksa pun langsung terlelap.


Mbah Suro pun sama. Karena malam ini dirinya tidak melakukan ritual atau tirakat apapun, Mbah Suro memutuskan untuk beristirahat. Memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. Jarang-jarang dirinya bisa tertidur saat malam hari. Ya, waktu malam Mbah Suro lebih banyak digunakan untuk bersemedi. Sedangkan waktu siangnya dipergunakan untuk membantu orang yang membutuhkan bantuannya.


Wuuuussshhh!!!


Meskipun dalam keadaan tertidur lelap, Mbah Suro dapat merasakan kehadiran makhluk yang saat ini sudah berdiri tegak di sampingnya dalam keadaan menunduk. Mbah Suro pun langsung terduduk dan siaga. Takut-takut itu adalah makhluk kiriman dari musuhnya. Bukan musuh, karena Mbah Suro merasa tidak pernah memiliki musuh. Lebih tepatnya orang yang membencinya atau orang yang iri dengannya.


*****


*****


*****

__ADS_1


Hayoo siapa itu? Yang bisa jawab emak kasih 500 poin 🤭 bagi yg jawabannya benar ya 😂


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏


__ADS_2