
Kevin merebahkan perlahan tubuh Seruni ke atas sebuah bed yang ada di dalam ruangan tersebut. Para petugas kesehatan yang tak lain adalah mahasiswa jurusan kedokteran dari universitas itu sendiri langsung sigap dan segera bertindak. Kevin dan Faya diminta untuk menunggu di luar.
Pertolongan pertama sudah dilakukan dengan mengoles minyak kayu putih pada pelipis dan juga ujung hidung Seruni. Mengecek denyut nadi serta mengukur tekanan darah yang cukup rendah.
Perlahan mata Seruni berkedut dan tak lama kemudian terbuka. "Sssttt!" Desis Seruni yang masih merasakan pusing di kepalanya.
"Masih pusing Run?" Tanya kakak tingkat Seruni. Seruni pun mengangguk. Senior itu kemudian keluar dari ruangan untuk memberitahukan kepada sahabat Seruni yang sedang menunggu di luar. Namun yang membuatnya heran adalah, kenapa bisa ada Kevin disana? Senior itu pun mengira hal yang sama dengan yang lainnya.
"Fa, Seruni sudah sadar." Ujar kakak senior saat membuka pintu. Faya dan Kevin langsung melesat masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Run, apa kamu baik-baik saja?" Faya menggenggam tangan sahabatnya. Seruni hanya mengangguk lemah. "Seruni sakit apa kak?" Faya beralih menatap ke arah seniornya.
"Tensi darahnya cukup rendah. Dilihat dari gejala yang dialaminya, sepertinya Seruni saat ini sedang hamil." Sebenarnya senior itu pun tadi sempat terkejut saat memeriksa Seruni. Namun dirinya berusaha profesional dan melakukan tugasnya dengan sebaik mungkin.
Duuuaaarrr!!
Bagai di sambar petir di siang bolong. Seruni, Faya dan juga Kevin terkejut bukan kepalang hingga suara mereka tercekat di tenggorokan. Bukan hanya mereka bertiga saja yang syok, tetapi juga sepasang mata dan sepasang telinga yang sejak tadi mengintip di balik jendela samping ikut terkejut. Bahkan mata Sinta nampak membola dan hampir saja meloncat dari tempatnya.
"Lebih baik dibawa ke rumah sakit saja agar bisa segera di tes. Disini tidak ada testpack jadi kami tidak bisa membantu."
Faya perlahan menganggukkan kepalanya. Sedangkan Kevin memilih segera keluar dari ruangan itu. Berbeda dengan Seruni yang malah meneteskan air matanya. Entah itu air mata kesedihan atau air mata kebahagiaan. Atau mungkin kedua-duanya. Bahagia karena ada benih suaminya yang dititipkan di dalam rahimnya. Sedih karena suaminya pergi sebelum sempat mengetahui kehamilannya.
Setelah dirasa Seruni sudah mendingan, mereka segera meninggalkan unit kesehatan kampus.
__ADS_1
"Sekarang kita mau kemana? Rumah sakit atau pulang?" Tanya Faya. Saat ini mereka sedang berada di dalam mobil yang ada di parkiran kampus.
"Pulang saja dulu Fa." Lirih Seruni.
"Apa kamu akan langsung memberitahu tante Amara?"
Seruni menggeleng. "Aku nggak tau Fa." Air matanya kembali menetes. Seruni mengelus-elus perutnya. "Aku nggak tau harus seneng atau sedih."
"Harus senang nggak boleh sedih lagi. Sudah cukup sedihnya. Biarpun Alfa sudah pergi, tapi di sini masih ada Alfa junior yang membutuhkan kasih sayang ibunya." Faya ikut mengelus perut Seruni. "Tante Amara pasti senang sebentar lagi akan punya cucu."
"Mama pasti juga akan syok kalau tau aku hamil."
"Tidak akan! Aku nanti yang akan bicara pelan-pelan. Biar nanti kita bisa sama-sama pergi ke rumah sakit untuk periksa."
Seruni mengangguk. "Terimakasih Fa." Seruni tidak tahu apa jadinya jika tidak ada Faya sahabatnya itu yang selalu menguatkannya.
Tak lama kemudian mereka tiba di kediaman mama Amara. Seruni dan Faya bersamaan melangkah masuk. Saat itu mama Amara sedang duduk menonton televisi. Seruni dan Faya langsung mendudukkan tubuhnya di samping kanan kiri mama Amara.
"Ada apa ini?" Mama Amara nampak keheranan.
Tangan kanan Seruni terulur meraih tangan kiri mamanya dan menggenggamnya erat. Diikuti oleh Faya. Tangan kiri Faya ikut terulur menggenggam tangan kanan mama Amara. Mama Amara semakin di buat keheranan. Bahkan keduanya sekarang menyandarkan kepalanya di bahu kanan kiri mama Amara.
"Ada apa?" Tanya mama Amara menoleh ke arah keduanya bergantian.
__ADS_1
"Ma, kalau seumpama Seruni hamil apakah mama bahagia?" Tanya Seruni sehati-hati mungkin agar tidak membuat mamanya syok.
"Hah! Hamil?" Beo mama Amara. Ekspresi keterkejutan tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.
"Seumpama ma."
"Eem, ya mama senang lah, kan mau punya cucu." Senyum yang sedikit dipaksakan. Perlahan mama Amara mulai bisa menerka sikap anaknya itu. "Apa anak mama ini sedang hamil?"
Degh!
Seruni tertegun. Seruni tidak menyangka Mamanya itu bisa langsung menangkap gelagat anehnya. Tak mampu lagi menyembunyikannya, akhirnya Seruni mengangguk.
"Masih kemungkinan ma, Seruni juga nggak tau. Tadi Seruni sempat pingsan di kampus terus dibawa ke unit kesehatan kampus dan kata petugas di sana ada kemungkinan kalau Seruni saat ini sedang hamil." Seruni bercerita dengan cucuran air mata.
"Sssttt! Jangan menangis sayang." Mama Amara langsung memeluk anaknya untuk memberi kekuatan. "Kita harus bersyukur karena akhirnya dititipkan benih di dalam rahim kamu. Bukankah ini yang kamu inginkan dari kemarin?" Seruni mengangguk. "Baiklah, ayo kita pergi periksa ke rumah sakit."
Seruni mengangguk lagi bersamaan dengan Faya. Akhirnya apa yang dikhawatirkannya bahwa Mamanya akan syok dan berujung dengan kambuhnya penyakit jantung mama Amara tidak terjadi.
Sore itu dengan diantar oleh Faya, Mereka pergi ke rumah sakit untuk memastikan apakah Seruni saat ini benar-benar sedang hamil atau tidak.
*****
*****
__ADS_1
*****
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏