SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
SERATUS DUA PULUH SATU


__ADS_3

Setelah pemakaman mama Amara usai, orang-orang yang seharusnya sudah meninggalkan kediaman Seruni masih nampak berkerumun disana. Mereka saat ini sedang asik menonton drama antara menantu dan mertua serta ipar.


"Izinkan aku yang merawat Seruni dan anaknya pa. Aku akan menikahinya." Ucapan Kevin barusan membuat orang-orang yang ada disana terkejut bukan kepalang. Apalagi papa Zaky yang wajahnya nampak memerah karena menahan amarah.


Seruni ternganga, ia sendiri juga syok dengan ucapan Kevin kakak iparnya. Ia tidak menyangka Kevin akan mengatakan hal itu. Bukankah yang mereka lakukan selama ini tidak lebih hanya sebagai sandiwara belaka agar dirinya aman tidak ada yang mengusik saat berada di kampus? Lantas atas dasar apa Kevin mengatakan hal itu? Lamunan Seruni buyar saat mendengar suara mertuanya yang menggelegar memekakkan gendang telinganya.


"APA KAU INGIN MENJADI TUMBAL BERIKUTNYA? HAH! JANGAN GILA KAU KEVIN!" Bukan hanya teriakan, bahkan mata papa Zaky hampir loncat dari tempatnya. "Apa kamu lupa adik mu meninggal karena dijadikan tumbal olehnya untuk menebus kebebasannya!" Jari telunjuk papa Zaky menuding-nuding ke arah Seruni. "Kebebasan agar wanita iblis itu bisa leluasa bersama selingkuhannya tanpa ketahuan oleh suaminya." Lanjut papa Zaky.


Lagi-lagi Seruni hanya bisa tergugu dalam pelukan Faya. Seruni bahkan tak mampu lagi berucap meski hanya sepatah kata pun. Ia terlalu lelah jiwa dan raganya dalam menghadapi kejamnya dunia yang dengan sadisnya merenggut orang-orang yang dicintainya serta disayanginya.


"Om tidak perlu mengungkit hal itu lagi. Bukankah dulu Mbah Suro sudah menjelaskannya bahwa kematian Alfa adalah akibat dari perbuatannya sendiri?" Ega maju beberapa langkah memberikan pembelaan untuk sahabatnya. Ia tidak tega melihat Seruni selalu dicaci maki oleh mertuanya.


"Jangan ikut campur kau!" Papa Zaky gantian menuding ke arah Ega.


"Sudah, sudah, saya yang akan merawat Seruni. Kalian jangan khawatir." Kali ini om Gio yang melerai mereka. "Seruni akan tinggal bersama kami, karena kami sudah menganggapnya seperti anak sendiri." Lanjut om Gio.


"Baguslah!" Ujar papa Zaky. "Ayo Kev!" Papa Zaky menarik tangan anaknya namun segera di tepis oleh Kevin.

__ADS_1


"Run," Kevin mengejar Seruni yang hampir saja masuk ke dalam rumah. Diraihnya tangan Seruni, namun dengan cepat Seruni menepisnya.


"Pulanglah kak, aku baik-baik saja." Ucap Seruni tanpa membalikkan tubuhnya. "AKU TIDAK BUTUH KALIAN!" Teriak Seruni dengan suara kerasnya namun terdengar bergetar membuat semua orang yang ada di sana tersentak. Seruni langsung berlari masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan keterkejutan orang-orang. Faya dan sahabat-sahabatnya ikut berlarian mengejarnya masuk ke dalam rumah.


"Ayo!" Papa Zaky kembali menarik tangan anaknya.


"Aku bisa sendiri!" Kevin kembali mengibaskan tangan papanya kemudian melangkah menuju ke mobilnya sendiri dan melesatkan mobilnya meninggalkan kediaman Seruni.


Orang-orang yang berada di sana langsung buyar, kembali ke kediamannya masing-masing karena sudah tidak ada lagi tontonan yang menarik bagi mereka. Sedangkan Tante Gita dan om Gio yang tak lain adalah kedua orang tua Faya memilih masuk ke dalam rumah Seruni. Tujuannya adalah satu, untuk membujuk Seruni agar mau tinggal bersama mereka.


Om Gio mendudukkan tubuhnya di sofa yang ada di dalam kamar almarhumah mama Amara. Sedangkan Tante Gita menghampiri ranjang guna membujuk Seruni. Tante Gita mendudukkan tubuhnya di pinggir ranjang. Tangannya terulur memberikan usapan lembut di bahu Seruni.


"Tante tau kamu pasti sangat kehilangan mama mu. Tapi kamu harus ingat, kamu masih punya tante yang bisa kamu anggap sebagai mama mu sendiri." Ujar Tante Gita tanpa menghentikan usapan lembutnya di bahu Seruni.


Perlahan Seruni mengangkat kepalanya. Saat pandangannya bertemu dengan tante Gita yang tersenyum lembut kearahnya, tangis Seruni kembali pecah. Seruni bangkit dan langsung memeluk tante Gita. "Hu.. hu.. hu.. Mama Tante, mama. Mama tega ninggalin Runi sendirian. Runi nggak punya siapa-siapa lagi sekarang. Hu.. hu.. hu.."


"Masih ada kami." Tante Gita mengelus punggung Seruni yang bergetar. "Kamu tidak sendiri Run. Kami akan selalu ada buat kamu." Ucapan tante Gita mendapat anggukan dari semua orang yang ada di dalam kamar tersebut. "Sekarang kemasi barang-barang mu seperlunya saja, kita tinggal di rumah Tante ya?" Tante Gita mengurai pelukannya kemudian mengusap air mata Seruni yang mengalir di pipinya.

__ADS_1


Seruni menggeleng. "Aku masih mau di sini Tan. Terlalu banyak kenangan ku bersama Mama dan Papa di rumah ini. Aku tidak akan meninggalkan rumah ini." Seruni menunduk sendu.


"Tapi saat ini kamu sedang hamil besar. Kamu juga harus memperhatikan kandungan mu." Tante Gita menunjuk perut Seruni dengan ekor matanya. "Kalau kamu tinggal bersama kami, kami kan juga bisa ikut menjaga kandungan mu."


"Kami baik-baik saja Tan." Seruni mengelus-elus perutnya sendiri membuat mereka yang menatapnya merasa miris. "Aku janji akan menjaga diriku sendiri dan juga calon anak ku."


Karena tidak berhasil membujuk Seruni untuk tinggal bersamanya, tante Gita dan Om Gio pun pulang dengan tangan kosong. Ghea, Ega dan Ruli juga pamit pulang. Hanya tertinggal Faya saja yang akan menemani Seruni dan perlahan akan berusaha membujuk Seruni agar mau tinggal bersamanya.


*****


*****


*****


Hay.. hay gaess emak udah pulkam nih 🤭 udah mulai bisa aktif nulis lagi. Semoga saja tidak ada halangan agar cerita Seruni bisa segera ditamatin 😂


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2