SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
DUA PULUH SATU


__ADS_3

Bersamaan dengan masuknya Seruni dan Alfa ke dalam sebuah kamar, di tempat lain, tepatnya di depan sebuah warung, nampak sepasang suami istri yang sudah renta menatap ke arah Langit malam ini yang nampak menghitam karena dipenuhi dengan kabut hitam pekat.


"Nyai sudah menentukan pilihannya nyi." Ucap kakek Sanusi kepada sang istri.


"Ya Ki, tepat malam ini. Malam satu suro!" Nenek Centini mengangguki ucapan suaminya.


"Dan tepat malam satu suro yang akan datang, akan ada pesta perkawinan besar-besaran!" Imbuh sang kakek, dan si nenek kembali mengangguk. "Tidurlah nyi, aki akan berjaga disini. Biarkan mereka berdua menikmati malam ini."


Nenek Centini pun menurut ucapan suaminya, ia langsung masuk ke dalam warung untuk beristirahat ke dalam kamarnya yang ada di dalam warung tersebut. Sedangkan kakek Sanusi mendudukkan tubuhnya di kursi kayu yang ada di depan warung.


*****


"Eeeuuugh!" Lenguh Seruni mengeliat, kemudian membuka matanya saat merasakan sebuah tangan yang melingkar di perutnya. Seruni pikir itu tangan Faya yang memiliki kebiasaan memeluknya saat tidur bersama. Namun alangkah terkejutnya saat ia menoleh dan mendapati Alfa lah yang tengah memeluknya. "Aaaaaa!" Jerit Seruni keras hingga membuat Alfa terlonjak dan langsung terbangun.


"Hey, ada apa?" Alfa nampak kebingungan.

__ADS_1


"Ka-kamu ngapain di kamar ku Al?" Seruni pun langsung mendudukkan tubuhnya hingga membuat selimut yang membungkus tubuhnya melorot, dan terpampanglah tubuh polos bagian atasnya hingga membuat Alfa berulang kali meneguk salivanya.


Seruni yang melihat jakun Alfa naik turun, segera menunduk memperhatikan dirinya sendiri. Dan suara jeritan pun kembali memenuhi kamar tersebut saat Seruni menyadari keadaan dirinya yang polos tanpa sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya. Ditambah lagi dengan banyaknya tanda merah di area dadanya seperti bekas sebuah cupangan.


"Apa yang kamu lakukan Al, hiks.. hiks.." Seruni langsung meraih selimut itu kembali untuk menutupi tubuhnya dengan terisak-isak.


"Hey, tenanglah." Ucap Alfa santai. "Bukannya semalam kamu bilang aku milik mu? Itu berarti kamu juga milik ku!" Alfa menyeringai penuh arti.


Plaaakk!!


Alfa pun segera memunguti pakaiannya yang juga berserakan di lantai dan segera memakai pakaiannya kembali. Setelah itu Alfa mendudukkan tubuhnya di pinggir ranjang menunggu Seruni keluar dari kamar mandi.


Tak berselang lama, Seruni akhirnya keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah rapi. Tanpa menghiraukan keberadaan Alfa, Seruni langsung membuka pintu kamar tersebut dan langsung keluar dari kamar itu.


"Run!" Alfa langsung mengejar Seruni yang nampak mematung di depan pintu kamar.

__ADS_1


*****


Hari masih gelap karena waktu baru menunjukkan pukul setengah lima pagi. Ghea yang terbangun karena kebelet pipis langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut.


Saat keluar dari kamar mandi, alangkah terkejutnya Ghea karena tidak mendapati Seruni berada di atas tempat tidur yang ditempati oleh mereka bertiga. Hanya ada Faya di atas tempat tidur itu. Ghea pun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruang kamar dan tidak mendapati sahabatnya. Akhirnya Ghea memutuskan untuk keluar dari kamar. Ghea pikir, mungkin sahabatnya itu sudah keluar dari kamar untuk menghirup udara pagi yang menyegarkan.


Ghea memilih berjalan-jalan di sekitar penginapan seraya pandangannya mengedar mencari-cari keberadaan Seruni. Udara dingin pagi itu langsung menyapa kulitnya dan terasa menusuk ke dalam tulangnya.


Tubuh Ghea mematung saat matanya tak sengaja bertemu pandang dengan Seruni yang baru saja keluar dari sebuah kamar yang berada di ujung. Dan alangkah lebih terkejutnya saat ia juga melihat Alfa keluar dari kamar tersebut. Sontak saja berbagai pikiran buruk langsung memenuhi isi kepalanya.


*****


*****


*****

__ADS_1


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕☕🌹


__ADS_2