SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
SEASON 2 PART 125


__ADS_3

"Euuugh!" Terdengar lenguhan pelan dari atas sebuah brankar. Seseorang yang sejak tadi duduk di sampingnya segera beranjak untuk memastikan bahwa saat ini orang yang berada di atas brankar itu sudah sadarkan diri.


"Kamu sudah sadar nak?" Tanya orang itu memperhatikan orang yang ada di depannya mengerjapkan mata lalu membuka matanya perlahan.


"Aku dimana?" Seruni mengedarkan pandangannya kebingungan. Ya, Seruni yang tadi sempat pingsan langsung dilarikan ke rumah sakit oleh Bu Risma, ibu-ibu paruh baya yang tadi ditolongnya. Dengan bantuan beberapa orang untuk mengangkat Seruni masuk ke dalam taksi. "Anak ku." Seruni langsung meraba perutnya saat kesadarannya pulih. Dapat dilihat dari raut wajahnya yang menunjukkan kepanikan.


"Tenang ya, kalian baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Bu Risma mencoba menenangkan Seruni. "Kata dokter tadi kamu cuma mengalami sedikit flek." Tutur Bu Risma menjelaskan keadaan Seruni saat ini. Dan Seruni pun akhirnya bisa bernafas lega.


"Terimakasih Bu." Ucap Seruni mencoba menyunggingkan seulas senyum.


"Tidak, harusnya ibu yang berterima kasih sama kamu." Bu Risma juga menerbitkan senyumnya, namun wajahnya terlihat sendu. "Terimakasih dan maaf, karena menolong ibu, kamu jadi seperti ini."


"Tidak apa-apa Bu. Saya bersyukur karena anak yang ada di dalam kandungan saya baik-baik saja."


"Oh ya, siapa nama kamu Nak?"


"Seruni, Panggil Runi saja."


"Nama ibu Risma."


"Kamu tinggal di mana? Atau ada keluarga yang bisa dihubungi?" Tanya Bu Risma bermaksud ingin menghubungi keluarga Seruni untuk memberitahukan keadaan Seruni saat ini.


Tes! Pertanyaan Bu Risma barusan seperti kembali membuka kenangan manis Seruni bersama mamanya. Disaat-saat sakit seperti ini jelas saja Seruni teringat dengan mamanya. Biasanya mamanya yang akan merawatnya dengan penuh cinta dan kasih sayang.

__ADS_1


"Loh kok nangis?" Bu Risma nampak panik. "Apa perkataan ibu ada yang menyakiti mu?"


Seruni menggeleng. "Runi sudah tidak punya siapa-siapa lagi." Lirih Seruni masih dengan air mata yang mengalir di kedua pipinya.


"Suami mu? Orang tua mu?"


Lagi-lagi Seruni menggeleng. "Mereka sudah tidak ada lagi." Lirih Seruni lagi.


"Maksudnya?" Bu Risma semakin dilanda kebingungan.


"Mereka sudah meninggal, hiks.. hiks.."


"Hah! Semua?" Jelas saja Bu Risma terkejut bukan kepalang. Pasalnya yang ditanyakan adalah tentang suami dan kedua orang tuanya. Apa mereka meninggal dalam sebuah kecelakaan? kok bisa semuanya meninggal begitu? Pikir Bu Risma bertanya-tanya.


"Astaghfirullah..... Innalillahi wainnailaihi rojiuun. Maaf ya, ibu nggak tau. Ibu turut berduka." Bu Risma benar-benar prihatin mendengar cerita dari Seruni. "Lantas sekarang kamu tinggal dimana dan sama siapa?"


Seruni menggeleng. "Saya belum punya tempat tinggal, saya baru saja tiba di Jakarta sore tadi." Ujar Seruni. "Tas ku? Tas ku dimana?" Seruni mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan guna mencari keberadaan tasnya.


"Ini tas kamu." Bu Risma meraih tas Seruni yang tadi ia letakkan di atas nakas kemudian memberikannya kepada pemiliknya.


Seruni pun langsung meraihnya. "Terimakasih Bu." Namun setelah menerima tasnya Seruni masih mengedarkan pandangannya.


"Cari apa lagi? Apa kamu butuh sesuatu?" Tanya Bu Risma kebingungan.

__ADS_1


"Tas ku yang satunya mana? Tas hitam besar berisi baju-baju ku."


"Owh, tas yang kamu tinggalkan di depan minimarket?" Tanya Bu Risma yang langsung diangguki oleh Seruni. "Ada di rumah. Tadi ibu sudah minta pada karyawan ibu untuk menyimpannya."


Terdengar helaan nafas pelan dari bibir Seruni. Seruni merasa lega karena ada yang mengamankan tasnya.


Bu Risma kembali mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di samping brankar. "Kata Dokter tadi usianya sekitar 27 Minggu. Apa kamu sudah mengetahui jenis kelaminnya?"


Seruni menggeleng karena dirinya memang belum mengetahui jenis kelamin anaknya. Terakhir dirinya memeriksakan kandungannya dengan ditemani oleh Mama Amara saat kandungannya berusia 20 Minggu. Harusnya dia sudah memeriksakan kembali kandungannya. Namun Seruni selalu menunda-nundanya saat mamanya ingin mengantarnya periksa. Seruni pikir dirinya serta kandungannya dalam keadaan baik-baik saja karena dirinya tidak pernah mengalami gejala apapun.


"Apa sebelum meninggal suami mu sudah mengetahui kalau kamu sedang mengandung anaknya?" Lagi-lagi Seruni menggeleng. "Suami mu meninggal karena sakit apa?"


"Hiks.. hiks.. Menurut catatan medis suami saya hanya demam dan tidak ada penyakit lain yang bersarang di tubuhnya. Tapi-" Seruni menjeda ucapannya sejenak guna mengambil nafas. "Tapi kata omnya yang berprofesi sebagai dukun suami saya terkena santet. Dan sayalah yang dituduh telah menyantet suami saya sendiri. Hiks.. hiks.." Seruni kembali terisak-isak. "Saya pergi dari rumah karena tetangga saya yang sudah termakan oleh hasutan dari Papa mertua saya."


"Astaghfirullah." Lagi-lagi Bu Risma mengelus dadanya. "Kenapa mertua mu setega itu menuduh menantunya sendiri?" Bu Risma sekarang jadi ikutan geram dengan ulah mertua serta om dari suami Seruni dan juga para tetangga Seruni. "Sudah ya, lebih baik sekarang kamu istirahat biar kondisi kamu cepat pulih."


Seruni mengangguk kemudian memejamkan matanya dengan harapan dirinya akan dipertemukan dengan suami serta kedua orang tuanya walau hanya dalam mimpi. Seruni akan menggunakan waktunya saat ini dengan sebaik mungkin untuk beristirahat. Karena saat ini dirinya merasa sangat lelah. Lelah jiwa dan raganya tentunya.


*****


*****


*****

__ADS_1


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏


__ADS_2