SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
DUA PULUH LIMA


__ADS_3

Sementara itu di dalam sebuah ruangan yang ada di dalam klinik, nampak Mbah Suro sedang bersemedi. Tepat saat tengah malam tiba, ia kedatangan seorang tamu agung yang membuatnya terkejut.


Jleb!


Seorang wanita cantik berkebaya hitam dan berselendang merah serta rambut yang disanggul tiba-tiba saja datang tanpa di undang.


"Ada angin apa hingga nyi Sukmawati sudi berkunjung ke gubuk saya?" Bukan raganya, tapi sukma Mbah Suro yang berbicara. Sedangkan raganya masih diam, duduk bersila seraya memejamkan kedua matanya.


Nyi Sukmawati tersenyum. "Tanpa bertanya pun kau pasti tau Suro, maksud dan tujuan ku datang kemari."


"Ya, aku hanya sekedar merasakan dan belum memastikan." Balas Mbah Suro.


"Dia anak ku, tuntun dia hingga bertemu dengan pengantin ku sebelum malam satu suro yang akan datang. Dan jika saatnya itu tiba, bawalah mereka kepada ku." Ujar nyi Sukmawati. "Kau tau kan harus mencari ku kemana?"


"Sanusi!" Sahut Mbah suro.


"Ya! Ternyata kau masih mengingatnya dengan baik."


"Ya, dia adalah kakak seperguruan ku. Aku tidak akan pernah melupakannya karena dia dulu yang mengajari ku banyak hal."


"Bagus! Lakukan tugas mu dengan baik. Aku tidak ingin kau mengecewakan ku."

__ADS_1


"Kenapa dulu tidak langsung kau ambil saja dia? Kenapa baru sekarang mencarinya?"


"Karena belum saatnya! Umurnya sebentar lagi baru akan genap dua puluh tahun."


"Baiklah, aku mengerti!" Ucap Mbah Suro.


Setelah mengatakan maksud dan tujuannya, nyi Sukmawati langsung menghilang dari kediaman Mbah Suro. Mbah Suro pun kembali melanjutkan semedinya hingga sang Fajar menyingsing di ufuk timur baru ia keluar dari dalam ruangan tersebut.


"Pagi Mbah?" Sapa mbak Asih, tetangga rumah Mbah Suro yang bekerja dari pagi hingga sore hari.


"Hem, Reksa sudah bangun As?" Mbah Suro melangkah melewati mbak Asih yang sedang memasak di dapur.


"Sudah Mbah, tadi pamit katanya mau lari pagi." Sahut mbak Asih sedikit keras karena Mbah Suro sudah berjalan menjauhinya.


*****


"Apa sih Fa, aku masih ngantuk!" Baru saja Seruni akan memejamkan matanya kembali, ia sudah dikagetkan lagi dengan timpukan bantal yang mendarat tepat di wajahnya hingga membuat dirinya seketika terlonjak. "Apaan sih Fa?!" Sungut Seruni kesal.


"Ini kita dimana?" Tanya Faya dengan nada yang sedikit meninggi. Mau tak mau Seruni ikut mengedarkan pandangannya.


"Astaga Faya, kita sedang di rumah mbah Suro!" Seruni ikut meninggikan suaranya.

__ADS_1


"Ya ampuuuuun! Aku kok bisa lupa Run. Ayo kita bangun, ini sudah siang. Noh lihat mataharinya udah tinggi." Faya menunjuk gorden jendela yang sedikit tersingkap dan dapat ia lihat sang fajar yang sudah mulai menampakkan sinarnya.


"Astagaaaaa! Kita kesiangan Fa. Aduh, gak tau malu banget. Numpang di rumah orang tapi bangunnya kesiangan." Seruni dan Faya buru-buru bangkit dari tempat tidur, kemudian masuk ke kamar mandi bergantian untuk mencuci muka. Setelah itu mereka langsung keluar dari kamar.


Seruni dan Faya nampak celingak-celinguk di ruang tamu. Mereka melangkahkan kaki ke belakang saat mendengar suara dari arah belakang. Setibanya di belakang, mereka sedikit terkejut saat mendapati seorang perempuan sedang memasak di dapur. Pasalnya sejak kemarin mereka tidak menemukan orang lain selain Reksa dan Mbah Suro yang belum mereka jumpai.


Mbak Asih yang sedang khusuk memasak seketika terlonjak saat membalikkan tubuhnya dan mendapati dua orang yang berdiri mematung di belakangnya.


Klontang!!


"Astaghfirullah!" Sotil yang ada di genggaman mbak Asih terjatuh. "Si-siapa?" Tanya mbak Asih tergagap. "O-orang bukan?"


Sontak saja pertanyaan Mbak Asih membuat Seruni dan Faya saling pandang kemudian mengangguk bersamaan.


"Bu-bukan setan ya?" Mbak Asih kembali bertanya yang langsung mendapat gelengan kepala dari keduanya. Sebenarnya mbak Asih sedikit ngeri kerja di rumah Mbah Suro. Namun selama lima tahun ini bekerja, ia belum pernah menjumpai yang namanya setan di rumah itu. Meskipun begitu Mbak Asih tetap saja merinding. Pasalnya Mbah Suro bukanlah orang biasa, melainkan seorang dukun yang sudah pasti memiliki banyak peliharaan.


*****


*****


*****

__ADS_1


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏


__ADS_2