
Seruni dan Faya turun dari mobil kemudian melangkah bersamaan menyusuri koridor kampus. Banyak pasang mata yang langsung menatap ke arah mereka. Kasak kusuk pun mulai terdengar mengiringi setiap langkah mereka. Bahkan pandangan orang-orang yang ada disana seolah-olah menatap jijik ke arah mereka.
"Ada apa Fa? Kenapa mereka menatap kita seperti itu?" Bisik Seruni pelan.
"Ngga tau." Faya mengedikkan bahunya acuh. "Sudah, biarkan saja." Mereka tetap melanjutkan langkah tanpa memperdulikan orang-orang yang dilewatinya.
Tepat di depan pintu kelas yang terlihat ramai karena banyak orang-orang yang berkerumun disana, Seruni dan Faya menghentikan langkahnya karena dicegat oleh Sinta. Sinta nampak tersenyum sinis menatap ke arah Seruni kemudian pandangannya turun beralih menatap ke arah perut Seruni yang masih terlihat datar.
"Sudah berapa bulan?" Senyum itu terlihat mengejek.
Degh!
Seruni tersentak. Ia tidak menyangka kalau Sinta mengetahui tentang kehamilannya. Apakah ini ulah Kakak seniornya yang kemarin menolongnya? Apa setega itu dia menyebarkan berita tentang kehamilannya?
"Mak-maksudnya apa?" Seruni tergagap. Tangannya mencengkram erat pada tali tas yang tersampir di pundaknya.
"Tidak usah pura-pura nggak tahu begitu. Akting mu gak meyakinkan." Sinta tergelak membuat Seruni semakin pias.
"Bisa nggak jangan mengusik Seruni." Faya maju selangkah membuat Sinta ikutan mundur selangkah.
"Nggak usah ikut campur Fa, gue nggak ada urusan sama loe."
"Jelas saja! Kalau kamu berani mengusik Seruni maka akan berhadapan dengan ku."
__ADS_1
"Jangan sok jadi pahlawan." Sinta mendorong bahu Faya.
Faya yang tidak terima hampir saja menyerang Sinta kalau Seruni tidak segera meraih tangannya. "Sudah biarkan saja."
"Hay gaess, lihat ayam kampus kita yang satu ini." Sinta menunjuk ke arah Seruni. "Kira-kira siapa ya, bapak dari janin yang ada di kandungannya?" Sinta mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di dagunya seolah-olah berpikir. "Atau jangan-jangan dia tidak tahu siapa bapak dari bayinya karena bukan hanya satu atau dua laki-laki yang tidur bersamanya." Lanjut Sinta yang langsung ditertawakan oleh orang-orang yang ada di sana. Lebih tepatnya tawa mengejek.
"Hey, tutup mulut mu!" Bentak Faya tak terima. Sedangkan Seruni hanya diam saja dengan mata yang sudah mengembun. "Seruni hamil dengan suaminya, jadi jangan menyebarkan fitnah!" Faya berucap dengan berapi-api.
"Wow amazing! Suami? Suami siapa? Suami orang? Hahaha....." Lagi, tawa itu kembali pecah.
Seruni yang tak tahan dengan semua ejekan yang terlontar dari mulut Sinta, akhirnya membalikkan tubuhnya dan memilih pergi dari sana. Namun baru beberapa langkah kakinya terayun, tangannya dicekal oleh seseorang dari belakang. Semua orang yang ada disana nampak melongo saat melihat siapa yang menahan langkah Seruni.
"Lepaskan Fa, biarkan aku pergi." Ucap Seruni tanpa menoleh ke belakang. Seruni pun berusaha mengibaskan cengkraman tangan itu agar terlepas dari tangannya. Namun sayangnya cengkraman tangan itu terlalu kuat. Dengan air mata yang bercucuran, Seruni membalikkan tubuhnya kembali. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat tangan siapa yang saat ini sedang bertaut dengan tangannya. "Kak," Lirih Seruni.
Kevin hanya menatap datar tanpa ekspresi. "Aku ayah dari bayi yang ada di kandungan Seruni!" Ucap Kevin tegas tanpa keraguan sedikitpun.
Bagai di sambar petir di siang bolong. Orang-orang yang ada disana terkejut bukan main. Bahkan Sinta hampir limbung kalau saja teman-teman di sekitarnya tidak menahan tubuhnya. Bukan hanya mereka saja yang terkejut. Tetapi juga Seruni dan Faya. Mata mereka nampak membola saat mendengar pengakuan yang keluar dari mulut Kevin. Seruni dan Faya tidak menyangka kalau Kevin akan mengucapkan hal sekonyol itu di depan banyak orang.
"Kak," Lirih Seruni lagi. Air matanya semakin deras membasahi kedua pipinya.
"Jadi mulai sekarang jangan pernah lagi mengusik istri dan calon anak ku!" Lanjut Kevin lagi.
"Tap-tapi kapan kalian menikah?" Sinta akhirnya membuka suaranya karena sudah tidak tahan lagi.
__ADS_1
"Satu bulan yang lalu!" Jawab Kevin tegas kemudian menarik tangan Seruni dan membawanya melangkah menuju ke belakang kampus yang biasanya mereka singgahi. Seruni pun hanya menurut. Mengikuti kemana Kevin, Kakak dari almarhum suaminya itu akan membawanya.
Cukup lama mereka terdiam duduk di bangku panjang belakang kampus. Sebenarnya sejak tadi mulut Seruni sudah gatal ingin bertanya tentang maksud ucapan Kevin tadi. Namun sayangnya ia tidak memiliki keberanian karena melihat Kevin yang hanya diam saja dengan pandangan menatap lurus ke depan.
"Kamu pasti ingin bertanya mengenai ucapan ku tadi kan?" Akhirnya Kevin membuka suaranya meskipun pandangannya masih menatap lurus ke depan.
Seruni mengangguk. "Iya kak, bisa kakak jelaskan apa maksud kakak tadi?"
"Katakan saja jika semua yang aku ucapkan tadi benar, agar mereka tidak mengusik mu lagi."
"Tap-tapi kak?"
"Menurut saja jangan membantah. Aku yang akan menjaga keamanan serta kenyamanan kalian selama berada di kampus."
Suara Seruni tercekat di tenggorokan. Ia tidak pernah menyangka kalau Kevin akan sepeduli itu dengannya dan juga calon anaknya. Sekarang Seruni mengerti. Sebenci-bencinya Kevin kepada almarhum suaminya, namun ikatan darah tidak akan bisa di ingkari. Seruni langsung reflek menubrukkan tubuhnya ke tubuh Kevin hingga membuat Kevin terkejut karena tidak menyangka akan mendapat pelukan dari Seruni.
Dan semua itu menjadi pelengkap pengakuan Kevin. Orang-orang yang saat ini sedang mengintip Seruni dan Kevin akhirnya percaya dengan apa yang diucapkan oleh Kevin.
Dan semenjak pengakuan yang terlontar dari mulut Kevin itu, mereka sama sekali tidak berani mengganggu Seruni lagi. Dan semenjak itu setiap hari Seruni berangkat dan pulang kuliah bersama Kevin, kakak iparnya.
*****
*****
__ADS_1
*****
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏