
"Loh kok berdarah?" Seru Alfa terkejut saat melepas penyatuannya.
"Hah?!" Seruni pun ikut terkejut. Seruni mencoba bangkit untuk melihat darah yang keluar dari miliknya. Namun ia kembali meringis saat melakukan pergerakan. "Ssssttt!"
"Eh sayang, kamu kenapa?" Alfa panik saat melihat istrinya itu meringis kesakitan.
"Sakit, perih, rasanya kayak ada yang robek." Keluh Seruni yang kembali merebahkan tubuhnya.
"Harusnya kamu udah nggak kesakitan loh. Ini kan sudah yang ketiga kalinya. Dan apa itu tadi seperti darah perawan? Bukankah keperawanan mu sudah aku ambil hampir satu tahun yang lalu? Masa ia kamu kembali perawan lagi?" Ucap Alfa keheranan.
"Ya mana aku tahu!" Seruni kembali kesal. "Apa dulu saat kita berhubungan pertama kali aku juga berdarah Al?" Seruni ikut penasaran karena selama ini dirinya bahkan tidak mengingat bagaimana rasanya berhubungan badan. Layaknya seseorang yang sudah mati rasa.
"Udah lupa sayang." Alfa nyengir seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Tapi pasti berdarah. Kata orang kan seperti itu." Lagi, Alfa menggaruk kepalanya kikuk. Dia sendiri juga tidak begitu paham karena hanya dengan Seruni lah Alfa melakukannya dan tidak pernah berhubungan dengan orang lain. Alfa sudah berjanji dalam dirinya bahwa hanya Seruni lah satu-satunya wanita dalam hidupnya.
"Ya sudah jangan dipikirkan." Ujar Alfa saat melihat istrinya itu termenung. "Aku malah senang kalau kamu sempit terus. Kan tambah enak."
Plaakk!
__ADS_1
Satu geplakan keras mendarat di bahu polos Alfa hingga membuat sang empunya meringis kesakitan. Seruni benar-benar greget dengan suaminya itu. Huh, kalau bukan suami rasanya sudah pengen mites aja.
Seruni kembali terdiam. Rupanya ia belum berhenti dari keheranannya. Mungkinkah jika kemarin-kemarin dirinya tidak merasakannya saat berhubungan badan dengan laki-laki itu karena ada Nyai di dalam dirinya? Dan sekarang dirinya sudah bisa merasakan nikmatnya bercinta, apakah itu tandanya dirinya sudah terbebas dari kutukan itu? Apa mungkin Nyai sudah pergi dari dalam dirinya dan juga hidupnya? Boleh kah dirinya sekarang bersorak kegirangan? Seruni tanpa sadar menarik sudut bibirnya membentuk senyuman membuat suaminya keheranan.
"Sayang, kamu kenapa? Kenapa senyum-senyum begitu? Apa mau mengulangnya lagi?" Goda Alfa. Alfa masih setia duduk di depan istrinya.
Mendengar ucapan suaminya Seruni langsung tersadar dan mendelik ke arah sang suami. "Nggak lihat apa aku masih kesakitan?!"
"Iya, iya maaf. Habisnya kamu enak banget, sempit."
"Al!" Seru Seruni semakin melebarkan matanya. Memperingatkan suaminya agar tidak melanjutkan ucapannya yang membuatnya malu. "Bantu aku ke kamar mandi." Pinta Seruni mengulurkan tangannya.
Tak berselang lama keduanya sudah keluar dari kamar mandi. Masih dengan menggendong istrinya, Alfa melangkah mendekati tempat tidur. Didudukkannya tubuh istrinya yang hanya berbalut handuk itu di pinggir ranjang. Begitu pula dengan dirinya yang juga hanya berbalut selembar handuk. Alfa segera mengambilkan satu set piyama untuk istrinya dan membantu memakaikannya. Setelah itu baru dirinya yang memakai baju. Kemudian mereka bersama-sama merebahkan diri dan saling berpelukan. Lebih tepatnya Alfa yang memeluk istrinya dengan erat seraya menghujani puncak kepala istrinya dengan kecupan sayang.
Seruni hanya memejamkan matanya menikmati tulusnya cinta dari sang suami. Tangannya yang tadi melingkar di pinggang suaminya ikut mengerat. Tidak ada obrolan lagi setelah itu. Keduanya sama-sama memejamkan mata. Dan tak lama kemudian nafas keduanya sudah terdengar teratur menandakan bahwa mereka sudah tertidur lelap.
*****
__ADS_1
Di tempat lain, lebih tepatnya di sebuah ruang kamar yang ada di Sendang Kaputren. Nyi Sukmawati nampak meluapkan kekesalannya kepada Ki Sanusi. Ki Sanusi hanya diam saja menunduk dan mendengarkannya serta sesekali menimpali jika dirasa perlu.
"Harusnya aku yang menikmati malam ini bukannya dia. Alfa milik ku bukan miliknya."
"Tapi Alfa juga suami sah dari Seruni Nyi. Nyai harus ingat itu. Mereka baru saja menikah. Jadi sudah sepantasnya mereka menikmati masa-masa pengantin baru."
"Tapi aku tidak rela Sanusi. Aku tidak rela pengantin ku dimiliki oleh wanita lain. Aku akan mengambil pengantin ku sekarang."
"Nyai sudah sepakat dengan ini. Jadi Nyai tidak boleh melanggarnya. Suro pasti akan marah. Bukankah selama ini Suro sudah banyak membantu?"
Nyi Sukmawati terdiam. Memang benar, jika saja dirinya langsung bisa membawa Alfa, sudah ia lakukan sejak dulu. Namun sayangnya dirinya tidak bisa melakukan itu karena usia Alfa yang masih belum mencukupi.
*****
*****
*****
__ADS_1
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏