
"Aku pamit dulu, lain kali kalau aku ada di kota ini aku boleh mampir ke sini lagi kan?"
Samar-samar Seruni bisa mendengar ucapan dari Om Zaky saat dirinya melewati ruang tengah.
"Ya, pintu rumah ku selalu terbuka untuk mu Zak." Sahut mama Amara.
Seruni mencoba menguping pembicaraan di antara keduanya, namun Indra pendengarannya sudah tidak lagi menangkap suara di ruang tamu tersebut. Mungkin mamanya dan juga om-om itu sudah keluar dari rumah.
Dan benar saja, tak lama kemudian dirinya mendengar suara deru mesin mobil yang dinyalakan. Akhirnya Seruni bisa bernafas lega, itu artinya om-om sialan itu sudah pergi dari kediamannya. Seruni melanjutkan langkahnya menuju ke dapur untuk mengambil air minum.
"Run!" Panggil mama Amara.
"Iya ma!" Sahut Seruni setelah menghabiskan satu gelas penuh air putih. Seruni pun segera menghampiri mamanya. "Ada apa ma?"
"Sini duduk!" Mama Amara menepuk tempat duduk di sebelahnya, mengisyaratkan anaknya untuk duduk di sampingnya. Seruni pun menurut dan langsung mendudukkan tubuhnya di samping sang mama. "Bagaimana menurut kamu om Zaky?"
"Bagaimana apanya?" Alis Seruni terangkat tidak memahami pertanyaan mamanya.
"Ya, menurut pandangan kamu om Zaky itu bagaimana?"
__ADS_1
"Mana Seruni tahu." Seruni mengedikkan bahunya. "Seruni aja baru tadi bertemu dengannya. Memangnya kenapa ma?" Seruni menangkap gelagat aneh pada diri mamanya itu.
"Eem, sebenarnya dulu mama pernah pacaran sama Om Zaky saat SMA."
"Hah! Serius ma?" Mama Amara mengangguk.
"Tapi ya namanya juga masih remaja masih labil. Kami putus karena kesalahpahaman."
"Terus?"
"Ya gak ada terusannya. Setelah lulus SMA kami tidak pernah bertemu lagi hingga tadi kami bertemu di minimarket."
"Ya! Tapi katanya istrinya sudah meninggal."
"Terus masalahnya sekarang di mana?"
"Om Zaky serius meminta mu kepada Mama."
"Hah!" Seruni speechless. Bukannya yang tertangkap dari pandangan Seruni itu mamanya yang seperti sedang jatuh cinta lagi? Terus kenapa malah dirinya yang mau di jodohkan dengan anaknya om-om sialan itu? Huuhh ogah banget! Bapaknya aja seperti itu apalagi anaknya? Pasti tambah parah kelakuannya.
__ADS_1
"Mama tidak memaksa Run, tapi tidak ada salahnya kan nanti kita bertemu dengan mereka dulu. Ya, siapa tau ada kecocokan di antara kalian."
Benar-benar di luar dugaan. Ia kira mamanya yang mau meminta izin untuk bersama om Zaky. Eh, malah dirinya ternyata yang jadi umpan.
"Aduh ma, Seruni belum memikirkan ke sana. Lagian umur Seruni juga masih sembilan belas. Baru juga semester dua udah disinggung masalah perjodohan. Dahlah, Seruni mau ke kamar mau tidur, capek!" Seruni bangkit dari duduknya kemudian melenggang masuk ke dalam kamarnya.
Belum juga kelar masalah dirinya, sekarang sudah di tambah lagi dengan masalah perjodohan. Hadeeehh makin pusing saja rasanya kepalannya itu.
Dahlah, sekarang yang harus Seruni pikirkan adalah di mana ia harus mencari keberadaan Alfa. Semoga saja Alfa masih menempati rumahnya yang dulu ditempatinya bersama ibunya. Tapi bukannya setelah kejadian itu, Alfa dan ketiga temannya yang lain memilih kuliah di luar kota? Ah, tapi tidak ada salahnya kan mencoba dulu? Siapa tau saja Alfa ada di rumah. Atau minimal ibunya yang ada di rumah. Jadi ia bisa bertanya keberadaan Alfa lewat ibunya itu.
Ya, Seruni sudah memutuskan mulai besok ia akan memulai petualangannya untuk mencari Alfa. Orang yang harus bertanggung jawab karena sudah membuatnya menjadi seperti sekarang ini.
Seruni merebahkan tubuhnya ke atas ranjang kemudian meraih ponselnya. Ia akan memberitahukan tentang rencananya itu kepada sahabatnya melalui sebuah pesan. Sengaja ia hanya mengirimkan pesan kepada Faya. Karena jika dirinya meneleponnya, sudah bisa dipastikan mereka akan lama mengobrol. Sedangkan tubuhnya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Ya, efek perjalanan jauh membuat tubuhnya terasa capek.
*****
*****
*****
__ADS_1
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏