
Semilir angin malam menerbangkan surai rambut seorang gadis yang berdiri di dekat jendela kamarnya. Seruni sengaja membuka jendela kamarnya lebar-lebar. Ia berdiri mematung memandangi langit malam yang nampak gelap. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Terlihat di kejauhan kilatan cahaya di atas langit.
Seruni menyandarkan tubuhnya pada daun jendela. Banyak yang ia pikirkan saat ini. Di satu sisi, ia ingin segera mengakhiri kutukannya. Tapi di sisi lain, ia juga merasa bimbang. Bagaimana nantinya ia akan menjalani biduk rumah tangganya bersama orang yang tidak ia cintai. Akankah rumah tangganya nanti berjalan seumur hidup? Atau kah hanya seumur jagung?
Seruni membolak-balikkan ponsel di tangannya. Ia nampak ragu menghubungi seseorang karena saat ini waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Namun ia ingin tahu langkah apa selanjutnya yang harus ia ambil.
Dengan memantapkan hati, berharap seseorang yang ada di seberang sana belum tidur, Seruni mendial nomor Reksa. Dan pada dering pertama panggilan itu langsung terhubung. Mungkin saat ini Reksa juga sedang memegang ponselnya.
"Hallo Run," Suara Reksa terdengar di ujung telepon.
"Hal-hallo Mas," Sahut Seruni ragu.
"Ada apa malam-malam begini menghubungi ku?"
"Eem, ada yang ingin aku sampaikan."
"Katakanlah,"
"Aku sudah menemukan Alfa. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Tolong tanyakan kepada Mbah Suro, langkah apa yang harus aku ambil selanjutnya?"
"Iya, nanti aku sampaikan ke bapak. Saat ini bapak sedang tidak bisa diganggu."
"Baiklah, jangan lupa nanti kabari aku."
"Ya, apa kamu baik-baik saja Run?"
__ADS_1
"Ya, aku baik-baik saja."
Seruni buru-buru mengakhiri teleponnya karena air matanya hampir saja menetes. Ia tak kuasa mendengar suara Reksa yang membuat hatinya bergetar. Sungguh rasanya saat ini Seruni ingin bersandar di dada bidang Reksa dan mencurahkan segala keluh kesahnya. Namun semua itu hanya ada di dalam angan belaka.
Angin malam semakin kencang menerpa disertai rintik gerimis hingga membuat suasana malam itu semakin dingin. Seruni segera menutup jendela kamarnya kemudian membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur, bersiap menjemput mimpi.
*****
Seruni keluar dari kamar saat dirinya sudah siap untuk berangkat ke kampus. Seperti biasa, Seruni langsung melangkahkan kakinya menuju ke ruang makan. Namun sesampainya di sana ia tidak menemukan keberadaan mamanya. Ia membuka tudung saji di atas meja yang ternyata sudah ada sarapan untuk dirinya.
Seruni menarik kursi kemudian mendudukinya. Ia segera melahap sarapan yang sudah dibuatkan oleh mamanya dengan perasaan getir. Susah payah ia menelan makanannya. Seruni mengedarkan pandangannya sekali lagi. Berharap mamanya akan menghampirinya dan menemaninya sarapan. Namun hingga nasi yang ada di piringnya habis, mamanya tak kunjung menampakan diri. Hanya ada kesunyian yang menemaninya.
Setelah berhasil menghabiskan sarapannya, Seruni segera mencuci piring bekas makannya.
Seruni sudah berdiri di depan pintu kamar Mamanya. Tangannya terulur mengetuk pintu kamar yang ada di depannya.
"Ma, Runi berangkat dulu ya?" Teriak Seruni dari depan pintu.
Hening! Tidak ada sahutan dari dalam kamar mamanya. Seruni pun mencoba memutar handle pintu yang ternyata dikunci dari dalam.
"Seruni berangkat ma, assalamualaikum." Pamit Seruni kemudian segera berangkat ke kampus.
*****
Sesampainya di kampus Seruni langsung mencari keberadaan kelas Kevin. Hari ini Seruni tidak datang ke rumah Faya terlebih dahulu seperti biasanya. Tadi saat dalam perjalanan, Seruni sudah mengirimkan pesan kepada sahabatnya itu agar mereka langsung bertemu di kampus saja.
__ADS_1
Seruni menyusuri lorong demi lorong kampus tempatnya menimba ilmu. Setelah bertanya letak kelas Kevin kepada beberapa mahasiswa yang dilewatinya, Seruni pun akhirnya menemukan kelas yang dicarinya.
Dan tepat sekali, Kevin sudah duduk di dalam kelas tersebut bersama teman-temannya. Seruni berusaha mengumpulkan keberaniannya. Perlahan ia melangkah memasuki ruangan itu.
Banyak pasang mata yang memperhatikannya, namun dirinya tetap melanjutkan langkahnya seraya menunduk.
"Kak!" Panggil Seruni saat tiba di bangku Kevin. Kevin hanya melirik sebentar kemudian kembali terfokus pada ponsel di genggamannya.
"Kak, boleh bicara sebentar?"
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi!" Tegas Kevin tanpa menoleh sedikitpun ke arah Seruni.
"Aku hanya ingin meminta maaf kepada Kakak."
Kevin beranjak dari duduknya kemudian melewati Seruni begitu saja. Seruni tidak menyerah. Ia langsung mengejar Kevin kemanapun Kevin melangkah. Hingga langkah mereka berhenti di kantin. Mereka langsung menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sana.
"Ngapain loe ngikutin gue?!"
"Kak plis, maafkan Aku. Maaf jika ucapan ku semalam melukai kakak." Sontak saja apa yang barusan diucapkan oleh Seruni membuat mereka yang mendengarnya terkejut. Saat ini di dalam kepala mereka sudah dipenuhi dengan tanda tanya besar. Semalam? Apakah semalam mereka anu? Entahlah.....
*****
*****
*****
__ADS_1
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏