
Gerimis kecil-kecil mulai turun membasahi bumi bersamaan dengan terdengarnya suara adzan Maghrib yang berkumandang. Mobil yang dikemudikan oleh Alfa melaju dengan kecepatan rendah karena berada di jalan perkampungan. Jadi Alfa tidak berani mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Takut bila tiba-tiba ada anak kecil yang menyerobot jalan.
Saat mobil tiba di jalan raya, hujan mulai mengguyur lumayan deras disertai angin kencang. Terlihat dari pepohonan di kanan kiri jalan raya yang nampak melambai-lambai karena tertiup kencangnya angin.
"Apa nggak sebaiknya kita berteduh dulu Al? Anginnya kencang."
"Nggak papa, pelan-pelan saja. Hujannya juga nggak terlalu lebat."
"Nggak lebat apanya? Kamu nggak lihat itu di depan kabutnya tebel banget, menghalangi pandangan." Oceh Seruni seraya menunjuk ke arah depan. Dimana kabut gelap mulai menghalangi pandangan.
"Cari warung atau rumah makan dulu sana. Kita makan dulu sambil menunggu hujan reda." Perintah Seruni yang tidak dapat dibantah lagi oleh Alfa.
Alfa terus melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah sambil memperhatikan kanan kiri jalan untuk mencari warung ataupun rumah makan. Namun setelah berkendara lumayan cukup jauh, mereka tak juga menemukan warung atau rumah makan yang buka. Mungkin karena efek dari hujan lebat yang disertai angin kencang membuat warung-warung yang biasanya berjajar di pinggir-pinggir jalan tutup.
"Aneh banget, kenapa nggak ada satupun warung ataupun Rumah makan yang buka?" Gerutu Seruni kesal. Di tambah perutnya yang sudah keroncongan membuatnya semakin dongkol.
__ADS_1
"Terus bagaimana ini?" Alfa menoleh sekilas ke arah Seruni.
"Ya mau bagaimana lagi, jalan aja terus sampai nemu warung." Seruni memanyunkan bibirnya.
"Baiklah tuan putri." Ucap Alfa yang tidak mendapat tanggapan apapun dari Seruni. Karena saat ini Seruni sedang fokus memperhatikan sisi jalan.
Perjalanan terasa sangat lama karena memang mereka tidak bisa berkendara dengan kecepatan tinggi. Adzan isya' berkumandang, angin kencang mulai mereda meskipun hujan masih lumayan lebat.
Tak berselang lama setelah terdengar suara adzan, akhirnya mereka menemukan sebuah rumah makan yang buka di sisi kiri jalan. Alfa pun segera membelokkan mobilnya memasuki pelataran Rumah makan tersebut.
Seruni menunjuk salah satu makanan berkuah yang ada di dalam daftar menu. Yaitu soto Lamongan. Hujan-hujan begini memang paling cocok makan yang berkuah-kuah seperti halnya soto. Alfa pun mengikuti apa yang dipesan oleh Seruni. Tak lupa dua gelas teh hangat dan juga dua botol air mineral ia pesan.
"Oh ya Run, tadi kalian itu sebenarnya membicarakan apa sih? Kebebasan apa yang kalian maksud?" Tanya Alfa penasaran setelah pelayan undur diri.
"Eem," Seruni bingung harus menjawab apa? Kalau ia menjawab jujur tentang keadaannya selama ini, apakah nantinya Alfa mau menerima dirinya? Karena tidak hanya Alfa yang tidur dengannya, meskipun Alfa yang merenggut kesuciannya. "Lupakan saja. Sebenarnya aku masih belum siap untuk menikah. Aku masih ingin kebebasan. Tapi karena keadaan yang memaksa kita untuk segera menikah, jadi aku harus merelakan kebebasan itu." Kilah Seruni mencari alasan.
__ADS_1
"Kalau kebebasan seperti yang kamu maksud itu, aku akan memberikannya. Tapi Kamu juga jangan lupa dengan tanggung jawab mu sebagai seorang istri."
"Iya, aku tahu. Sudah nggak usah di bahas lagi." Ucap Seruni bersamaan dengan pelayan yang mengantarkan pesanan mereka.
Satu jam lamanya mereka duduk di rumah makan tersebut sambil menunggu hujan reda, namun tak kunjung reda. Makanan Mereka pun sudah habis sejak tadi. Hanya tinggal minuman hangat yang baru dipesannya lagi untuk ketiga kalinya. Ya, mereka sudah memesan minuman sebanyak tiga kali sebagai teman pengusir dingin.
Hujan masih saja lebat. Angin kencang yang tadinya sudah menghilang kini datang lagi. Ditambah kilatan-kilatan petir yang siap menyambar. Sepertinya malam ini akan terjadi hujan badai.
*****
*****
*****
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏
__ADS_1