
"Bagaimana?" Tanya mama Amara kepada sang menantu di sela makannya. Ya, saat ini mereka bertiga sedang menikmati makan malam bersama.
Kegiatan Alfa dan Seruni yang dilakukan oleh keduanya tadi harus cepat-cepat mereka akhiri saat mendengar bunyi ketukan di pintu kamarnya. Suara Mama Amara terdengar memanggil mereka. Pantas saja, rupanya Mama Amara sudah menunggu mereka berdua di ruang makan untuk makan malam bersama. Namun karena anak dan menantunya tak kunjung bergabung, akhirnya mama Amara pun memutuskan memanggil keduanya karena tidak ingin makan malam sendirian. Dan di sinilah mereka bertiga berada.
"Sudah beres ma, besok sudah bisa langsung masuk." Jawab Alfa.
"Syukurlah, jadi kalian tidak perlu berpisah." Mama Amara merasa lega. Mama Amara tidak setuju dengan keputusan yang diambil oleh anaknya. Meskipun sebenarnya tidak masalah jika suami istri berjauhan. Namun jika melihat zaman sekarang banyak pelakor yang merajalela, Mama Amara menjadi sanksi. Beruntung mereka menemukan jalan keluar terbaik. Meskipun tidak satu kampus, seenggaknya mereka masih dalam satu rumah dan tidak terpisahkan oleh jarak dan waktu. Bukankah pepatah mengatakan, mencegah itu lebih baik daripada mengobati?
"Tapi maaf ma, aku belum dapat pekerjaan. Papa baru akan mencarikan lowongan di kantornya. Mungkin besok juga aku akan tanya ke teman-teman barangkali ada lowongan pekerjaan yang bisa sambil kuliah."
"Jangan terlalu dipikirkan. Kalau rejeki pasti menemukan jalannya."
Mama Amara bersyukur, smenjak ada Alfa suasana ruang makan menjadi hidup. Bukan hanya ruang makan saja, tetapi juga suasana rumah. Anaknya yang cerewet di tambah menantunya yang manja. Kadang mama Amara sampai geleng-geleng kepala dibuatnya.
Mama Amara yang melihat menantunya makan dengan lahap menerbitkan senyumnya. Mama Amara senang karena apapun yang dimasaknya menantunya itu tidak pernah protes. Alfa rupanya bukan tipe orang pemilih.
__ADS_1
"Lain kali belajar masak Run, agar suami mu betah di rumah dan gak jajan di luar." Saran mama Amara yang ditanggapi Seruni dengan cengiran kuda. Memang anaknya itu susah kalau diajari memasak. Hanya sesekali saja anaknya itu membantunya. Tentunya bukan membantu memasak, melainkan membantu mencicipi masakannya saja. Dan itulah keahlian Seruni. Bukan hanya Seruni, Faya pun demikian. Mungkin mereka pikir karena masih memiliki seorang mama jadi mereka tidak terlalu ambil pusing. Namun sekarang keadaannya sudah berbeda. Seruni saat ini sudah menikah. Jadi mau tidak mau dia harus belajar memasak.
Semenjak Seruni memutuskan untuk menikah dengan Alfa, kesehatan Mama Amara semakin berangsur membaik. Mama Amara sudah tidak pernah merasakan nyeri lagi di dadanya. Mama Amara bersyukur, semoga kehidupan rumah tangga anaknya itu selalu dipenuhi dengan kebahagiaan setelah melewati banyak ujian hidup.
Masih segar di ingatan cerita Faya tentang kehidupan anaknya selama ini tanpa sepengetahuan dirinya. Sekarang meskipun anaknya itu sering dibuat emosi oleh kelakuan suaminya, tapi Mama Amara bisa tersenyum lega. Mama Amara bisa melihat cinta tulus dari menantunya untuk anaknya. Untuk Seruni sendiri Mama Amara yakin, anaknya itu pasti lambat laun akan bisa mencintai suaminya juga.
"Kamu tidak perlu khawatir biaya kuliah istri mu Al. Semua sudah ditanggung oleh perusahaan tempat almarhum papanya dulu bekerja hingga Seruni lulus." Ujar mama Amara. "Mama juga tiap bulan dapat tunjangan." Imbuh mama Amara.
"Iya ma, biaya kuliah ku juga masih ditanggung sama papa."
Mereka lanjut menyelesaikan makan malam yang terasa lebih lama karena diselingi dengan obrolan. Kata orang dulu, makan tidak boleh sambil berbicara. Namun sekarang, makan menjadi terasa lebih nikmat jika diselingi dengan obrolan.
Seruni segera membereskan meja makan setelah makan malam selesai. Mama Amara angkat tangan dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Mama Amara sudah kebagian memasaknya, jadi sekarang bagian Seruni yang membereskannya.
Sedangkan Alfa langsung berpindah ke sofa yang ada di depan TV. Meskipun fokusnya tertuju pada benda pipih yang ada di genggamannya, namun sesekali matanya melirik ke arah istrinya yang sedang mencuci piring. Senyum smirk terukir di bibirnya. Istrinya itu nampak seksi jika dilihat dari belakang. Alfa memperhatikan keadaan sekitar dulu yang baginya aman karena mama Amara sudah masuk ke dalam kamarnya. Tak ingin membuang kesempatan, Alfa segera melangkah mendekati sang istri.
__ADS_1
Greeep!!
Klontang!!
Sendok yang ada di tangan Seruni terjatuh karena kaget saat mendapat pelukan tiba-tiba dari belakang. Beruntung saat itu dirinya tidak sedang memegang piring. Suaminya itu benar-benar membuatnya geregetan. Ingin rasanya Seruni menampol suaminya itu menggunakan teflon yang menggantung di dinding dapur. Sayangnya ia tidak berani melakukan itu. Seruni tidak ingin dilaknat malaikat karena durhaka kepada suaminya sendiri.
*****
*****
*****
Kita kasih kesempatan dulu kepada mereka untuk menikmati masa-masa pengantin barunya ya 🤭
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏
__ADS_1